Liriknya Jadi Simbol Kritikan pada Pemerintah
Pilihannya pada musik rock dianggap aneh di tengah dominasi K-pop seperti saat ini. Juga sempat ditentang orang tua. Toh, bukan jadi penghalang baginya terus berkarya dengan lagu-lagu cadas berlirik kritik sosial.
Gaya pakaiannya model indie. Berkemeja kotak-kotak warna krem. Dipadu dengan vest berwarna coklat tua. Kemudian, celana kain hitam menutup bagian bawahnya. Lengkap dengan selop kulit warna hitam pula yang membungkus kakinya.
Rambutnya yang bergelombang tergerai panjang. Membuat wajahnya terkesan garang. Tapi, tak bisa menutupi sifatnya yang ramah. Setidaknya saat menceritakan tentang pilihan hidupnya, menggeluti musik bergenre rock.
“Saya sudah bermusik sejak usia 15 tahun. Awalnya melihat dan mengamati saudara sepupu yang les musik. Lama-kelamaan tertarik juga untuk bernyanyi dan bermain alat musik itu,” ucapnya berkisah, sambil melempar senyum.
Ketertarikannya pada dunia musik dia buktikan dengan menciptakan lirik lagu sesuai dengan realita yang sedang dialami. Misalnya saja lirik lagu tentang cinta. Total dia mampu menciptakan sembilan lagu yang menceritakan kisah asmaranya. Sejak SMP hingga SMA.
Pria ini bernama lengkap Pradio Manggara Putra. Penyanyi, gitaris, sekaligus penulis lagu di grup bandnya, IGMO. Bahkan dia juga berperan sebagai produser.
Menariknya, di tengah generasi milenial yang gemar dengan musik K-pop, hiphop, hingga folk, Dio-demikian dia biasa disapa-justru memilih genre rock.
Tentu saja, pilihannya itu kerap dianggap aneh oleh teman sebayanya. Tak jarang dia mendapat omongan-omongan yang kurang mengenakkan hati. Dianggap ketinggalan zaman alias kudet, kurang update.
Tapi, semua itu tak dia indahkan. Dianggap sebagai risiko yang memang harus dihadapi akibat dari pilihannya.
“Lagu rock ini peminatnya memang sedikit dan dari orang-orang tertentu saja. Makanya belum tentu semua orang familiar dengan lirik maupun nadanya,” dalihnya.
Kondisi ini tak menyurutkan mimpinya untuk tetap mempertahankan musik rock. Kreativitasnya dalam menciptakan lirik lagu pun juga mulai terasah. Dari yang awalnya hanya percintaan saja, seiring berjalannya waktu sudah beralih ke konteks isu sosial.
Genre musik rock berlatar belakang kondisi sosial ini jugalah yang mampu membesarkan namanya. Sebab kritikan atas kebijakan pemerintah tersebut bukan bersifat frontal. Melainkan dia sampaikan melalui simbol yang lebih halus ketika didengarkan.
Untuk diketahui, kemampuannya dalam menciptakan simbol lagu yang mungkin asing bagi masyarakat umum diperolehnya dari bacaan buku. Terkadang inspirasi itu juga muncul dari game dan film.
“Lagu yang saya ciptakan hampir semuanya menggunakan simbol. Itu agar pendengar memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Tak hanya didengarkan lalu lewat. Melainkan didengarkan untuk dipahami maknanya,” terang lelaki berdomisili di Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri itu.
Dari mana keahliannya ini diperoleh? Hebatnya, semua keahliannya itu dia peroleh secara otodidak. Bukan dari keturunan maupun les musik. Tapi bolehlah disebut kemampuan bermusiknya tak kalah dengan musisi kelas atas.
Padahal jika diulik lebih dalam, musik ini hanya sebagai hobi. Menurutnya bermain musik dengan feeling bukan theory. Sehingga dia pun juga bukan lulusan dari universitas dengan jurusan musik.
“Saya justru lulus dari Universitas Kadiri jurusan teknik industry, bukan musik. Awalnya berpikir kalau musik bukan hal yang harus dikomersialkan,” tandasnya.
Menurutnya, setiap lirik harus dibuat dengan sungguh-sungguh. Tak jarang dia membutuhkan waktu selama satu minggu untuk menciptakan satu lagu dengan simbol tertentu. Sebaliknya jika tanpa simbol dan penyampaiannya frontal maka waktu yang dibutuhkan hanya satu hari.
Lebih jauh dia menjelaskan, jika lirik ini biasanya berangkat dari permasalahan yang ada di sekitarnya. Mulai dari kegelisahan yang berpusat pada diri sendiri hingga individu yang terjebak dalam sistem dan struktur yang ada di sekitar.
“Di album kedua saya yang banyak menceritakan terkait sistem yang sengaja dibuat rancu. Itu agar mereka bisa menyembunyikan celah-celah potensial yang nantinya dapat dimanfaatkan oleh kepentingan perorangan maupun kelompok kecil,” beber pria berusia 28 tahun ini.
Terakhir, dia berpesan agar masyarakat paling tidak mendengarkan satu musik rock kemudian dipahami maknanya. Sebab ketika mulai memahami pesan yang terkandung didalamnya maka dia akan tertarik untuk mendengarkan lirik yang lainnya. (*)
Editor : Mahfud