Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

AKP Joshua Peter Krisnawan, Kasatreskrim Polres Kediri yang Juga Lulusan Queen’s University Belfast UK

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Selasa, 26 Agustus 2025 | 16:11 WIB
AKP Joshua Peter Krisnawan, kasatreskrim Polres Kediri.
AKP Joshua Peter Krisnawan, kasatreskrim Polres Kediri.

Awalnya Cuman Komik, Kebablasan Jadi Suka Baca

Sebagai polisi, pria ini tak hanya berkutat pada pengungkapan kasus. Kegemarannya pada buku juga mewarnai kesehariannya. Mengasah otak hingga dia bisa meraih beasiswa LPDP dan lulus dari perguruan tinggi di Inggris Raya.

Rak itu berada di samping meja kerjanya. Penuh dengan beragam buku. Tentu, didominasi yang terkait dengan bidang kerja pemilik ruangan, kepolisian. Mulai Dasar-Dasar Ilmu Hukum, Prinsip-Prinsip Hukum Pidana, hingga soal perlindungan konsumen. 

“Itu hanya sebagian. Di rumah masih banyak,” ucap sang pemilik ruangan,  Joshua Peter Krisnawan. 

Pria berpangkat ajun komisaris polisi (AKP) itu adalah kepala satuan reserse kriminal (kasatreskrim) Polres Kediri. Wajar bila buku yang ada di ruangan itu bertema-tema seperti itu. 

Walaupun, sejatinya, sang kasatreskrim memang benar-benar seorang penyuka buku. Koleksinya relatif banyak. Tak hanya soal hukum, juga buku-buku keilmuan lain.

“(Buku-buku) Itu untuk mendukung tugas saya,” ucap pria yang biasa disapa Joshua ini, merendah.

Dia mengatakan itu untuk menolak disebut sebagai seorang kutu buku. Menurutnya, dirinya bukan seorang pembaca yang sampai kutu buku dan menjadi sangat akademis. Melainkan membaca karena suka dan menjadi kebutuhan.

Dan, itu dia awali dari hal yang sepele. Bermula ketika Joshua kecil senang membaca komik.

“Akhirnya keterusan jadi suka baca yang lain-lain juga,” kenang perwira polisi kelahiran 1994 ini.

Kegemarannya saat usia anak-anak memang berbeda dengan sebayanya. Alih-alih membeli mainan dia lebih suka diajak ke toko buku. Kebiasaan yang berlanjut hingga sekarang. 

“Di aplikasi online shop saya isinya buku semua. Keranjangnya buku semua,” lanjutnya, menceritakan kebiasaannya membeli buku lewan daring.

Meskipun mengelak disebut kutu buku, toh Joshua memang sosok yang pintar dan cerdas sejak kecil. Dia selalu masuk sekolah favorit. Dia adalah alumnus SMPN 19 Jakarta. Salah satu sekolah favorit di Ibu Kota. 

“Saya masuk kelas akademik, kelas pilihan untuk 40 siswa terbaik. Setiap tahun ada tes agar bertahan terus di kelas itu,” ceritanya.

Lulus dari SMPN 19, Joshua kembali diterima di sekolah favorit Ibu Kota. Kali ini di SMAN 78 Jakarta jurusan IPA.

Selepas SMA, dia sebenarnya diterima di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia melalui jalur tes, yang dulu bernama Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Namun, pada saat itu dia juga mengikuti seleksi di Akademi Polisi (Akpol) dan, hebatnya, diterima!

“Puji Tuhan, Tuhan menghendaki saya setiap tahapan itu lulus, lulus, dan lulus sampai tahap akhir perangkingan saya lolos,” jelas laki-laki yang sehari-hari memakai kacamata itu. 

Joshua lulus Akpol pada 2016. Namun, selain menuntaskan gelar sarjana ilmu  kepolisian (SIK) dia juga menempuh pendidikan S2. Kali ini dia menempuhnya di Queen’s University Belfast, satu universitas di Irlandia Utara, United Kingdom (UK). Hebatnya, gelar itu dia tempuh dengan fasilitas beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan.

Hasil yang dia peroleh juga tidak sembarangan. Lulus dengan predikat distinction atau summa cumlaude dan menyandang gelar master of science human resource management pada 2019.

Meskipun demikian, bagi Joshua, tetap belajar adalah suatu keharusan. Tak harus di bangku kuliah. Karena itu, dia terus memupuk kegemaran membacanya itu. Tak hanya yang terkait dengan hukum maupun humaniora saja. Juga yang berhubungan dengan eksakta seperti matematika. Bahkan, hal itu dianggapnya sebagai pengasah logika yang berguna meningkatkan performanya dalam bekerja.

“Saya suka mengasah logika. Kayak matematika misalnya. Itu kayak menyusun strategi gitu kan? Gimana kita bisa memecahkan soal. Bagaimana kita bisa menemukan jawaban,” aku laki-laki 31 tahun itu. 

“Dan itu terpakai sampai sekarang. Sampai di sini pun untuk memecahkan kasus kan otomatis harus gunakan logika. (Suka matematika) bukan untuk memecahkan soal matematika namun untuk memecahkan kasus,” lanjutnya.

Hasilnya, berbagai kasus berhasil dia ungkap dan pecahkan. Dari kasus biasa hingga yang menonjol dan menjadi perhatian publik. Seperi ketika dia masih jadi kasatreskrim Polres Ngawi, mengungkap pencurian pompa air lintas provinsi dengan ratusan tempat kejadian perkara (TKP). Kemudian, kasus dana nasabah Bank Jatim dengan kerugian ratusan juta rupiah. Berujung pada penghargaan dari Bank Jatim untuk Satreskrim Polres Ngawi.

Berikutnya, sindikat pencurian mobil pikab lintas daerah, pembajakan truk cabai yang dikendalikan dari dalam lapas, serta kasus illegal logging yang berbuah penghargaan khusus dari Perhutani.

Juga, ada empat kasus pembunuhan di Ngawi yang berhasil dia pecahkan. Salah satunya viral dengan sebutan mutilasi koper merah dan kasusnya masih disidang di PN Kota Kediri saat ini. Prestasi yang mengantarnya mendapat apresiasi dari Kapolda Jatim. 

Terbaru, dia dan timnya juga berhasil mengungkap kasus pembunuhan dengan korban yang ditemukan di Blitar. “Saking seringnya menangani kasus pembunuhan dan berhasil terungkap, saya dijuluki spesialis pembunuhan,” ucapnya sambil mengembangkan senyum. (*)

Editor : Mahfud
#Kasatreskrim #lpdp #polisi