Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Embran Nawawi, Seniman Wastra Berdarah Betawi tapi Berhati  Kediri

Ayu Ismawati • Senin, 18 Agustus 2025 | 16:07 WIB

 

Embran Nawawi dalam satu kegiatan.
Embran Nawawi dalam satu kegiatan.

Bawa Kekayaan Budaya Kediri ke Ruang Studi hingga Panggung Internasional

Nama Embran Nawawi sudah tak asing lagi di dunia mode Indonesia. Kerap terlibat berbagai event lokal, nasional, hingga internasional. Kekayaan budaya Bumi Panjalu membuat pria Betawi ini jatuh cinta pada Kediri.

Tahun ini akan menjadi yang ketiga kalinya Embran Nawawi terlibat dalam Kediri Fashion Batik Festival (KFBF). Menjadi desainer mode sekaligus konseptor event mode tahunan yang digelar Pemkab Kediri. Acara yang mewadahi potensi karya wastra khas Bumi Panjalu. Utamanya, kain batik dengan motif dan warna khas yang menunjukkan kekayaan budaya Kediri. 

Sebagai seniman, mengeksplorasi budaya-budaya nusantara menjadi bagian dari perjalanan karirnya. Termasuk mengunjungi Kediri yang, menurutnya, punya potensi kekayaan budaya yang melimpah. Sejak 2022, Embran mulai berkarya di Bumi Panjalu dengan membawa seni pertunjukkan wastra. 

“Waktu saya kenal Kediri, saya mendapat keluh kesah bahwa Kediri belum bisa membuat batik yang luar biasa. Dalam arti setara dengan batik yang sudah populer. Itu yang bagi saya mengganggu,” ujarnya.

embraBaca Juga: Ini Dia, Tren Busana Muslimah 2025 dari Embran Nawawi

Sebab, dia meyakini Kabupaten Kediri dibangun di atas jejak kebudayaan yang kuat. Dimulai sejak era kerajaan. Apalagi Kerajaan Kediri termasuk kerajaan besar pada masanya. Dia meyakini, dominasi Kerajaan Kediri pada era itu turut berpengaruh terhadap peradaban Kediri setelahnya. 

“Saya yakin Kediri (sejak era Kerajaan Kediri, Red) punya wastra, busana, atau apapun yang dipakai di tubuh manusianya yang pasti luar biasa. Karena Kediri adalah kerajaan besar,” sambungnya. 

Selama di Kediri, dia pun terus menggali potensi-potensi yang ada. Mencari tahu yang menjadi kendala seni wastra kurang bisa berkembang. Dari situ, dia menilai Kediri sudah memiliki banyak potensi. Tinggal membutuhkan ‘kacamata’ baru untuk melihat agar kekayaan seni dan budaya Kediri itu bisa naik kelas. Salah satunya melalui seni pertunjukan wastra khas Kediri. 

“Nah itu yang bisa saya berikan untuk Kediri dan ternyata feedback-nya besar ke saya, saya makin cinta dengan sama Kediri,” ungkap pria yang saat ini berdomisili di Surabaya itu.

Dari berbagai daerah yang dikunjunginya, Kediri memberikan kesan tersendiri. Dia merasa ada keterikatan batin kuat dan dalam. Membuatnya selalu ingin kembali ke tanah ini. 

Kecintaannya pada Kediri juga mendorongnya selalu menggaungkan Kediri di berbagai kesempatan. Termasuk di panggung pertunjukan seni busana internasional. Bahkan hingga ke ruang-ruang studi mancanegara. 

Di usianya yang menginjak 54 tahun ini Embran masih terikat kuat dengan dunia akademik. Dia mengambil program doktoral di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Ini yang membuatnya tetap intens hadir di ruang-ruang studi.

Belum lama ini, dia juga diberi kesempatan mengikuti program observasi kebudayaan. Digelar oleh salah satu universitas di Bremen, Jerman. 

“Di situ kami harus membawa identitas (kebudayaan). Kebetulan saat saya datang ke Kediri, pas ada acara Kuno Kini yang saat itu Radar Kediri juga yang buat. Lalu ketemu satu pengrajin dan saya dikasih satu kain batik. Di situ jadi inspirasi saya,” urainya. 

Secarik kain batik khas Kediri itu lalu dia potong-potong menjadi beberapa scarf. Juga dengan beragam motif. Mulai gringsing, lidah api, hingga jaranan. 

Scarf dengan motif batik khas Kediri itulah yang dia kenalkan kepada para representator perguruan tinggi dan institut seni yang terlibat dalam pertukaran pelajar di Jerman itu.

“Akhirnya di situ saya bikin KFBF versi mini di sana. Dan kebetulan penelitian saya di program doktoral ini adalah mengenai kritik seni pertunjukan wastra di Kediri, yaitu KFBF,” tandasnya. 

Memasuki usia 50-an tahun, dia memutuskan sedikit demi sedikit mundur dari panggung peragaan busana sebagai desainer di Jawa Timur. Namun, itu justru menjadi awal baginya untuk mempelajari lebih dalam tentang seni wastra. Yang dimulai dengan keputusannya mengambil program doktoral di usia 50-an tahun. 

Selain di waktu yang sama, event tahunan seperti pertunjukan busana di Laos dan Thailand juga tetap dijalaninya. Di dua negara itu dia secara khusus menampilkan kekayaan wastra nusantara yang dikemas sebagai produk pakaian yang sesuai tren masa kini. 

“Yang namanya ilmu, buat saya nggak akan pernah berkurang. Dan dengan program doktoral saya hanya termotivasi jika saya punya gelar doktor, maka accessibility saya untuk berkarya dan meneliti itu akan jauh lebih gampang ketimbang saya tidak punya dasar keilmuan sebagai peneliti,” tandasnya.(fud)

Editor : Mahfud
#wastra #Embran Nawawi #desainer