Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ida Sulistyawati, Seniman yang Nguri-uri  Permainan Tradisional, Jalan Terus meski Dicap Tak Punya Masa Depan

Hilda Nurmala Risani • Jumat, 15 Agustus 2025 | 14:15 WIB

 

Ida Sulistyawati menunjukkan permainan dam-daman yang sudah tidak dikenal oleh Generasi Z.
Ida Sulistyawati menunjukkan permainan dam-daman yang sudah tidak dikenal oleh Generasi Z.

Pilihan hidup perempuan ini ibarat menelusuri jalan sunyi. Ditengah gemerlap dan hiruk pikuk digitalisasi, dia bertekad menjaga kelestarian permainan tradisional. Jalan terus meski dianggap tak punya masa depan.

 

Berbaju salur, warna biru muda, dipadu dengan celana kain yang warnanya senada, perempuan ini duduk lesehan di ruang kerjanya. Menata koleksi aneka permainan tradisional. Semuanya hasil karya tangannya.

Di ruangan kecil itu, hanya berukuran 3x3 meter, semua karyanya dipajang. Ada yang ditempatkan di etalase, ada juga yang di gantungan.

Jenisnya, beraneka ragam. Ada othok-othok, alat serupa genderang kecil yang dilengkapi bola kecil sebagai pemukul di kiri kanannya. Bila digerakkan, bola kecil itu akan memukul permukaan othok-othok secara bergantian. Memunculkan irama ritmis sesuai namanya, othok…othok…othok…othok… 

Ada juga pathil lele, dakon, hingga lompat tali. Menariknya, semua berbahan dari alam, alias ramah lingkungan.

“Karena basic-nya memang seni, jadi permainan tradisional yang saya buat pun mayoritas berbahan dasar alam. Memanfaatkan barang tidak berguna yang ada di sekitar,” ucapnya disertai lemparan senyum.

Ya, Ida Sulistyawati adalah seorang seniman. Sekaligus pembuat permainan tradisional. Meskipun berpenampilan bersahaja ide dan kreativitasnya terus berputar di kepalanya. Terutama bila melihat barang tergeletak tak berguna di sekitarnya.

Wanita ini salah satu dari belasan seniman di Kediri yang memiliki keahlian membuat permainan tradisional. Mulai dari otok-otok, lompat tali, ketapel, hingga patil lele. Terhitung hingga saat ini dia sudah berkarya hampir puluhan tahun.

“Sejak kecil kreativitas saya sudah muncul. Misalnya menggambar dengan bercerita hingga membuat permaian kembang fantasi dari bahan bekas,” Ida melanjutkan ceritanya.

Menurut perempuan asal Surabaya itu, permainan tradisional ini berjaya pada era 1960-an, ketika dia masih duduk di bangku taman kanak-kanak (TK). Kemudian selang 16 tahun setelahnya beberapa jenis permainan tradisional ini berangsur menghilang.

Permainan yang mulai menghilang itu misalnya mobil-mobilan dari serabut kelapa, stempel dari batang pisang, patil lele, dan dam-daman. Tapi ada pula permainan tradisional yang masih bertahan hingga kini. Seperti  lompat tali, perabotan memasak dari gerabah yang berukuran kecil, bola bekel hingga pocong-pocongan.

Mulai hilangnya permainan tradisional itu tentu saja mengecewakan bagi Ida. Sebab, permainan ini  yang mampu membangun interaksi sosial. Karena itulah, fenomena tersebut menjadi perhatian tersendiri baginya.

Terlebih di perkembangan teknologi yang serba cepat dan canggih ini membuat permainan tradisional semakin ditinggalkan oleh pemiliknya. Mereka lebih memilih bermain melalui gadget yang mungkin dianggap lebih bersih dan praktis.

“Padahal permainan tradisional ini memiliki nilai karakter yang tidak bisa digantikan dengan gadget. Seperti nilai tanggung jawab, kebersamaann, dan kreativitas,” terangnya kepada wartawan Jawa Pos Radar Kediri.

Di lain sisi, faktor lingkungan juga menjadi penyebab hilangnya permainan tradisional. Tak jarang dia menemui orang tua yang tidak mendukung anaknya bermain tanah karena dianggap kotor dan menjijikkan. Menjadikan anak pun juga enggan untuk bermain. 

Tak hanya itu, semakin ke sini mencari tanah juga sulit. Penyebabnya adalah kebanyakan sudah di paving dan di aspal.

“Ingat permainan rumah-rumahan yang dari tanah, itukan melatih berkreativitas dan berimajinasi pada anak-anak. Bagaimana bentuk dari rumahnya hingga cerita aktivitas di dalamnya,” papar perempuan yang berdomisili di Kecamatan Mojoroto itu.

Selain penting memperkenalkan kepada anak-anak, keberadaan permainan tradisional ini secara tidak langsung juga mampu membangkitkan ingatan orang tua yang dulunya harus menabung untuk membeli permainan tradisional tersebut. Tak heran banyak dari mereka yang meneteskan air mata ketika melihat. Itu karena mengenang masa kebersamaan dengan teman-teman sebayanya.

Ida pun memiliki cara tersendiri dalam mempertahankan keberadaan permainan tradisional ini. Yaitu membuat miniaturnya dengan bahan seadanya. Terkadang juga membeli dari penjual mainan yang berjualan di sekolah dasar (SD). Tak jarang dia harus berebut dengan siswa SD demi mendapat permainan tradisional yang sudah sulit ditemui itu.

“Di penjual mainan Rp 2 ribuan itu biasanya saya menemukan permainan tradisonal yang sudah jarang terlihat. Saya beli kemudian saya simpan untuk koleksi pribadi,” ungkapnya.

Tak hanya untuk koleksi pribadi, Ida mengaku permainan tersebut terkadang menjadi inspirasinya dalam mengerjakan pesanan dari pelanggan. Tentu dia akan membuat permainan tradisional dengan bentuk dan kualitas yang hampir sama dengan sebenarnya.

“Pernah mendapat pesanan othok-othok dari bambu dan kertas semen untuk souvenir nikah. Dan ternyata ini diminati oleh beberapa kalangan masyarakat,” terangnya sembari menyebut jika dirinya sering memanfaatkan barang tak berguna disekitarnya.

Namun, di luar itu semua, perjuangannya konsisten dalan dunia ini tak berjalan mulus. Kegemarannya dalam membuat dan mengoleksi permainan tradisional serta barang-barang antik ini sering dihadapkan pada tantangan besar. Dia diremehkan dan dianggap kurang kerjaan. 

Ketika Ida ingin melanjutkan kuliah seni sempat ditentang orang tua karena dianggap tak punya masa depan. Namun itu tidak mengecilkan semangatnya, dia sering mengikuti lomba design semata-mata agar mendapatkan uang tambahan.

Proses perkuliahan pun dilalui dengan biaya mandiri. Ida mencari kerja sampingan sebagai guru menggambar. Hingga akhirnya kedua orang tua luluh karena melihat ketekunannya dalam berkecimpung di dunia seni.

“Baru semester empat orang tua mulai luluh. Karena mungkin melihat anak pertamanya memang bakatnya di seni,” ujar ibu dari dua anak ini.

Kini hasil karya tangannya pun mampu memenuhi kebutuhan hidupnya dan membuatnya dikenal oleh banyak orang. Bahkan kedua anaknya pun juga mengambil kuliah di jurusan seni. 

“Kebetulan anak tertarik dan berbakat di dunia seni juga. Jadi tidak ada salahnya untuk terus mendukung,” pungkasnya. (*)

Editor : Mahfud
#otok otok #permainan tradisional