Pagi Masak Dulu, Sepulang Sekolah Suapi Ibu
Tanggung jawabnya boleh disebut terlalu besar bagi anak seusianya. Merawat sang ibu yang tak bisa apa-apa akibat pengeroposan tulang. Toh, itu dilalui sang bocah dengan hati gembira.
------------------------------------
Di halaman belakang rumah yang sangat sederhana, seorang bocah bermain layang-layang. Berusaha keras menerbangkan benda berbentuk belah ketupat itu ke angkasa. Meskipun, kenyataan tak seperti yang dia inginkan. Sang layang-layang berkali-kali terjerembab ke bumi. Gagal terbang.
Bagi yang terbiasa menerbangkan layang-layang, penyebab kegagalan itu sudah jelas terlihat. Tempat yang digunakan bermain kurang lapang. Terlalu dekat pepohonan rimbun. Menahan embusan angin yang dibutuhkan menerbangkan sang layang-layang.
“Nggak mau main jauh. Jaga ibu di rumah,” ucap bocah usia sepuluhan tahun itu ketika ditanya alasan tak mencari tanah lapang untuk menerbangkan layang-layangnya.
Bocah itu adalah Marfellino Duha Saputra. Tinggal di rumah sederhana di lereng Gunung Kelud. Tepatnya di Desa Ngancar, Kecamatan Ngancar.
Marfel, demikian si bocah ini biasa disapa, tak bisa bebas bermain seperti anak sepantaran. Di usianya yang masih tergolong anak-anak itu, dia memiliki tanggung jawab besar. Merawat sang ibu, Kumala Nur Hidayati, yang terbaring sakit. Tak bisa beraktivitas apa-apa akibat pengeroposan tulang.
“Sudah satu tahun seperti ini,” ucap sang ibu, yang terbaring lemah di tempat tidur.
Penyakit yang menyerang Mala, sapaan ibu Marfel, sudah parah. Dia tak bisa lagi beranjak dari tempat tidur. Untuk makan pun dia harus disuapi anak tunggalnya tersebut.
Lalu, di mana suaminya? “Suami saya sudah meninggal sebelum Marfel lahir,” ucap wanita yang sebelum sakit berjualan sayur di Pasar Ngancar ini.
Beban deritanya seakan belum cukup ketika di tengah sakitnya, sang ayah justru meninggal dunia karena kecelakaan. Praktis, tinggal Marfel yang jadi gantungannya sehari-hari.
Sambil meneteskan air mata, Mala bercerita tentang awal mula sakitnya. Setahun lalu, tiba-tiba dia merasa kesemutan. Sulit menggerakkan kaki. Lututnya seperti kaku.
Keesokan hari, dia benar-benar tak bisa berdiri. Membuatnya hanya bisa berbaring di kasur.
Keterbatasan ekonomi, membuat Mala tak mendapat layanan medis yang mencukupi. Dia hanya bisa berobat ke puskesmas. Hal itu berlangsung hingga sebelum Lebaran, Maret lalu.
“Setelah setahun kondisi saya seperti ini saya bilang ke bapak. Pak piye iki kok gak mari-mari (Pak, bagaimana ini kok tak sembuh-sembuh, Red)?. Sama bapak dipanggilkan dokter. Dan akhirnya dirujuk ke RS SLG,” kenang Mala, menceritakan keluhannya pada sang ayah, Mistah, waktu itu.
Saat itulah dia baru tahu terkena pengeroposan tulang. Namun, hanya seminggu dia berada di rumah sakit. Setelah itu dibawa pulang oleh sang ayah. Menjalani perawatan di rumah.
Sejak sakit, Mala dan Marfel sangat bergantung pada sang ayah untuk hidup sehari-hari. Bertumpu pada penghasilannya sebagai buruh tani.
Beberapa waktu kemudian, malapetaka kembali datang. Sang ayah meninggal dunia karena kecelakaan.
“Mungkin karena kecapekan, dan banyak pikiran dengan yang di rumah (kondisi anaknya, Red). Jadinya bapak kalut di jalan dan tabrakan dengan truk,” ucap Mala.
Suaranya bergetar ketika bercerita bagian itu. Air mata menetes dari sudut matanya. Tangis kecil pun tak terbendung.
Setelah itu peran Mistah berganti ke pundak Marfel, bocah yang baru duduk di kelas empat sekolah dasar. Setiap pagi, sebelum hendak berangkat sekolah, lebih dulu dia mengurus sang bunda.
Bangunnya pun harus lebih pagi dibanding sebayanya. Menyapu rumah lebih dahulu. Kemudian, menanak nasi, membeli sayur atau memasak mi instan.
Setelah itu dia masih harus membuang kotoran yang dihasilkan sang ibu di pispot. Menempatkan lagi pispot yang isinya telah dibuang itu ke bawah ranjang. Usai semua pekerjaan itu dia baru berangkat ke sekolah.
“Berangkat sekitar jam setengah tujuh (6.30, Red) karena sekolahnya agak jauh. Dan, tolene juga naik sepeda,” jelas Mala sembari mengusap air matanya.
Sepulang sekolah, Marfel tidak seperti teman-temannya yang bisa bermain di luar rumah. Dia memilih pulang. Menemani dan merawat sang ibu.
Dia harus kembali membuang kotoran ibunya di pispot. Berikutnya, dia juga harus menyuapi sang ibunda.
“Jari saya gak bisa buat megang sendok. Jadi harus dibantu, didulang (disuapi, Red),” terang Mala.
Selain itu, Marfel juga yang mencuci pakaian. Tidak hanya miliknya, termasuk punya sang ibunda.
“Mandi saya juga dibantu tole. Pakai kain, terus diseka sama anak saya,” terang Mala.
Walaupun disibukkan dengan berbagai kegiatan, namun Marfel tetap rajin belajar. Bahkan, dia termasuk anak yang berprestasi. Kelas tiga lalu dia mendapatkan juara kelas.
“Suka matematika, suka menghitung pengurangan, tambah-tambahan dan perkalian,” kata Marfel, sambil malu-malu. “Pingin jadi polisi,” sambungnya, menjawab pertanyaan apa cita-citanya nanti.
Lalu, dari mana biaya hidup sehari-hari mereka? Mala mengatakan, mereka hanya berharap dari bantuan pemerintah desa dan relawan. Kadang, juga dari kakak Mala yang tinggal di Jawa Tengah.
“Kalau masnya ada rezeki ya ditransfer. Kalau gak ada nggih mboten,” aku Mala, dengan suara lirih sambil berbaring lemah di tempat tidur.
Editor : Mahfud