Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Mereka, Anak-Anak Muda, Yang Ada di Balik Upacara Manusuk Sima

Ayu Ismawati • Selasa, 29 Juli 2025 | 16:42 WIB

Guru Seni Budaya SMPN 8 Kota Kediri Russidiq membacakan mantra disela seremoni penyerahan Prasasti Kwak dalam ritual Manusuk Sima di Balai Kota Kediri (27/7).
Guru Seni Budaya SMPN 8 Kota Kediri Russidiq membacakan mantra disela seremoni penyerahan Prasasti Kwak dalam ritual Manusuk Sima di Balai Kota Kediri (27/7).

Tak Cuma Baca Naskah Jawa Kuno, Juga Pahami Intonasinya

Kehadiran anak-anak muda dalam Upacara Manusuk Sima memunculkan nuansa berbeda. Ritual yang lebih banyak bernafas soal era lama itu jadi lebih kekinian. Tentu, tanpa menghilangkan intisari kegiatan.

                       ______________ 

Tahun ini menjadi kali kedua bagi Doni Santoso terlibat dalam upacara Manusuk Sima. Pemuda 23 tahun ini berperan sebagai utusan Rakai Kayuwangi, raja Mataram Kuno. Memberi hadiah berupa tanah sima kepada huka pucatura-pemangku wilayah yang kini menjadi Kota Kediri.

Tanah sima adalah tanah perdikan, tanah yang dibebaskan dari pajak. Lokasi tanah sima itu merujuk pada Wanua (Desa) Kwak. Diyakini ada di area yang saat ini masuk Lingkungan Ngadisimo, Kelurahan Ngadirejo, Kecamatan Kota.

Kisah itu terukir dalam Prasasti Kwak yang bertanda tahun 801 Saka atau 879 Masehi. Penemuan prasasti itu kemudian menjadi dasar penetapan hari jadi Kota Kediri. Visualisasi cerita tersebut yang dihadirkan setiap puncak peringatan Hari Jadi Kota Kediri. Seperti yang berlangsung Minggu lalu (27/7) di Balai Kota Kediri.

Dalam prosesi yang dikemas dalam sendratari tersebut, Doni membacakan naskah prasasti berbahasa Jawa kuno. Kemudian menyerahkan kepada Wali Kota Kediri Vinanda Prameswari. 

“Karena sudah ada pengalaman dari tahun lalu, kali ini sudah cukup lancar,” aku mahasiswa jurusan bimbingan konseling Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri ini.

“Cuma, yang tahun lalu kan memang sangat baru. Harus membaca prasasti yang isinya diterjemahkan dulu, baru bisa menentukan pemenggalan kalimatnya,” sambungnya.

Memerankan utusan raja, bagi pemuda ini, tak sekadar membacakan isi prasasti saja. Dia juga harus memahami betul isinya. Agar mampu menyampaikan ke penonton dengan baik.

 

“Awal dulu memang harus diubah. Karena membacakan naskah Jawa Kuno juga merupakan hal baru bagi saya. Jadi harus diubah dulu bahasanya dan latihan pelafalannya harus didampingi yang ahli juga,” ungkap pemuda asal Kelurahan Balowerti itu. 

Agar bisa membacakan isi prasasti dengan pelafalan yang pas, dia butuh waktu dua minggu untuk berlatih. Mahasiswa semester 8 itu banyak mengambil referensi dari dalang-dalang. 

“Untuk pelafalan atau nada intonasinya itu banyak koreksi dari teman-teman. Termasuk dari ahli seperti arkeolog atau dari teman seniman yang lain. Mungkin naik turunnya nada lebih baik seperti ini, tanpa mengubah struktur kalimat dan arti dari prasastinya,” urai Doni. 

Selain Doni, tahun ini juga menjadi pengalaman kedua bagi Hendra Dwi Saputra, 24, berpartisipasi dalam Manusuk Sima. Pemuda ini bertugas menjadi pambiwara atau pemandu acara. 

Sebagai kunci berjalannya acara, pemuda asal Kelurahan Bandarkidul itu tidak hanya harus menguasai susunan acara. Sejarah Prasasti Kwak itu juga wajib dipahami luar kepala. 

“Karena tahun ini ada prosesi kirab prasasti dari rumah dinas menuju balai kota, jadi narasinya juga harus lebih dipanjangkan,” ujar Hendra. 

Karena itu, dia harus lebih banyak menggali tentang Prasasti Kwak. Termasuk sejarah yang mengiringi awal terbentuknya peradaban Kota Kediri. Tak hanya itu, dia juga bertanggung jawab memberikan pemahaman kepada audiens tentang Manusuk Sima. Di antaranya menjelaskan ubarampe atau kelengkapan upacara yang memiliki makna tersiratnya masing-masing. 

“Itu kan ada makna-makna yang sinandi (tersirat, Red). Termasuk dupa yang kumebul itu juga ada maknanya. Jadi biar tidak menjurus ‘Loh, ini kok gini? Garai musrik’. Melainkan itu kan bentuk harapan kepada Tuhan juga,” urai alumnus Sastra Jawa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta itu. 

Berbeda dengan Doni dan Hendra, tahun ini menjadi pengalaman pertama bagi Russidiq terlibat dalam upacara Manusuk Sima. Guru seni budaya di SMP Negeri 8 Kota Kediri itu bertugas sebagai mangkudur atau pembaca mantra. Tentang bagaimana Rakai Kayuwangi dari Kerajaan Mataram Kuno memberikan anugerah Tanah Sima pada tahun 801 Saka. 

Mantra itu dibacakan dengan gaya sastra pedalangan. Baik dalam bahasa Jawa Kuno maupun bahasa Indonesia. Lengkap dengan properti sebuah wayang. “Alhamdulillah diberikan kepercayaan untuk memerankan tokoh pembaca mantra,” katanya. 

Membacakan naskah berbahasa Jawa Kuno diakuinya menjadi tantangan tersendiri. Bagaimana caranya menyampaikan naskah dengan baik, teknik pelafalan, dan intonasinya harus dia persiapkan dengan baik. 

“Waktu membacanya kan bukan seperti orang membaca pidato. Tapi membaca mantra ada intonasi sendiri. Apalagi dengan bahasa Jawa Kuno,” ungkap pria yang tahun ini berusia 37 tahun itu. 

Berbagai konsultasi juga dia lakukan demi menyempurnakan penampilan. Termasuk beberapa kali perbaikan dari sisi pelafalan dan intonasinya. Terakhir saat gladi bersih sehari sebelumnya, masih ada beberapa revisi yang dia terima. 

“Karena intonasinya terlalu tinggi. Dibilang jangan tinggi-tinggi. Malah koyok wong getak-getak. Harus pelan karena intinya kan memohon kepada Tuhan,” ungkap seniman asal Gurah, Kabupaten Kediri itu. 

Mereka adalah sebagian kecil dari banyak seniman yang terlibat dalam prosesi Manusuk Sima tahun ini. Selain Doni, Hendra, dan Russidiq, masih ada banyak anak-anak muda yang terlibat. Mulai dari seniman karawitan hingga penari, semuanya merupakan pelajar, mahasiswa, dan seniman-seniman muda yang profesional di bidangnya. 

“Banyak dari mereka yang latar belakang pendidikannya memang seni. Termasuk seni pedalangan. Jadi meskipun mereka masih muda, tapi mereka semua profesional,” kata Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Kediri Zachrie Achmad terkait pelaksanaan Manusuk Sima tahun ini yang seluruhnya melibatkan anak muda.

Editor : Mahfud
#anak muda #upacara #manusuk sima