Merasakan Pengalaman Berkeliling Kabupaten Kediri dengan Bus Wisata Gratis
Habibah Anisa M.• Jumat, 25 Juli 2025 | 17:56 WIB
Para penumpang bus wisata gratis mendapat penjelasan dari guide sebelum mereka berkeliling ke beberapa destinasi di Kabupaten Kediri
Berebut Kursi karena Setahun Jatahnya Hanya Sekali
Minat naik bus wisata ini sangat tinggi. Tak hanya dari warga Kediri, yang luar kota pun berebut. Tak heran bila kuota penumpang bisa habis dalam hitungan menit.
----------
Siang itu, sanggar tari Ande-Ande Lumut lebih riuh dari biasanya. Yang menari tak hanya puluhan siswa sanggar. Ada pula ‘penyusup, yang jumlahnya juga puluhan.
Para penyusup itu adalah orang-orang yang menjadi peserta tur menumpang bus wisata gratis. Kebanyakan ibu-ibu dan remaja putri. Mereka mengikuti program wisata gratis yang digagas dinas pariwisata dan kebudayaan (disparbud).
“Ayo ibu-ibu biar lebih hafal gerakannya, Ongkek, pekoh, love, angsa, dagu, kidang,” teriak Nur Setyani, instruktur tari sekaligus pemilik Sanggar Ande-Ande Lumut.
Sanggar Ande-Ande Lumut menggunakan padepokan di area Taman Ngadiluwih sebagai lokasi berlatih. Kebetulan, sepanjang Juli ini rute bus wisata gratis menyasar dua kecamatan, Ngadiluwih dan Kras. Termasuk di sanggar tersebut.
Para penyusup, baik yang ibu-ibu, remaja, ataupun anak-anak, antusias mengikuti instruksi tersebut. Sebagian sudah bisa mengikuti dengan baik. Meskipun baru belajar.
Padepokan Ande-Ande Lumut ini adalah salah satu destinasi yang dituju program bus wisata gratis bulan ini. Kebetulan, sepanjang Juli, rutenya menyasar Kecamatan Ngadiluwih dan Kras. Sedangkan tempat berlatih sanggar tari itu di padepokan yang satu area dengan Taman Ngadiluwih.
Nyaris semua penumpang menikmati acara tersebut. Termasuk Jihan Kartikaningtyas.
“Karena waktu kecil saya pernah menari, jadi seru bisa belajar lagi,” ujar perempuan yang biasa disapa Jihan ini.
Wanita yang merupakan warga Kabupaten Nganjuk ini tahu ada program bus wisata gratis dari temannya, Najwa Bella Budiantara. Najwa sendiri tahu karena informasinya masuk di feed Instagram.
“Tahu baru-baru ini, melihat di feed Instagram. Terus tertarik karena bakal mengunjungi beberapa tempat wisata dan belajar budaya,” aku wanita asal Desa Mojokendil, Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk ini.
Pada saat pengumuman pertama, Najwa memilih menyimpannya dahulu. Sebab, masih belum ada kepastian waktunya. Barulah ketika tanggalnya diposting oleh admin, dia pun langsung nge-chat.
Saat melakukan chating Najwa sempat waswas. Takut tidak dapat kursi. Sebab, dia melihat di kolom komentar yang yang mengatakan sudah tutup.
“Jadi agak khawatir,” kenangnya.
Untungnya dewi fortuna berpihak ke mereka. Keduanya mendapat kesempatan mencoba bus wisata gratis. Mendapatkan tempat duduk
Meski orang Nganjuk, Jihan harus berangkat dari Surabaya. Sebab, dia sementara ini memang tinggal di kota pahlawan tersebut.
Dari Surabaya Jihan berangkat pagi-pagi. Berangkat dari Terminat Purubaya sekitar pukul 05.00.
“Sampai di Papar pukul 06.30 WIB,” terang Jihan.
Setibanya di perempatan Desa Papar, Kecamatan Papar disana ia sudah dijemput oleh Najwa. Dengan kecepatan penuh keduanya melajukan motornya menuju area parkir nomor dua Monumen Simpang Lima Gumul. Takut ketinggalan bus wisata.
Bagi keduanya momen ikut Bus Wisata Gratis tak boleh dilewatkan. Juga jadi momen yang tak bisa dilupakan. Selain harus berebut kuota kursi, satu orang juga hanya bisa ikut sekali dalam setahun.
Bus berangkat pukul 07.30 WIB. Yang dituju pertama kali adalah Taman Ngadiluwih. Melihat-lihat taman bunga dan mendengar kisah sejarah Mayjen TNI Prof Dr Moestopo, pahlawan nasional asal Kabupaten Kediri.
Meskipun berlabel gratis, peserta masih dikenakan biaya. Tidak mahal, hanya Rp 35 ribu. Uang tersebut untuk mendapatkan akses ke paket wisata seperti belajar sejarah dan beragam edukasi lain.
Memang, peserta tak hanya mendapat edukasi tari. Juga pembuatan gula merah, emping melinjo, serta opak uyel. Mereka juga dibawa ke Pabrik Gula Ngadirejo serta menyaksikan latihan tari tiba kolosal di Balai Desa Purwokerto, Kecamatan Ngadiluwih.
Di tempat-tempat itu antusiasme peserta sangat tinggi. Ketika di pembuatan gula merah milik Pak Lamidi, peserta tak hanya berfoto-foto. Juga sibuk bertanya.
“Ternyata proses membuat gula merah itu banyak, baru pertama kali lihat,” ungkap Irdintya Wulan.
Bagi wanita asal Kelurahan Pesantren, Kota Kediri ini, mengunjungi lokasi pembuatan gula merah sangat menyenangkan. Apalagi dia juga bisa melihat cara membuat cimplung, makanan dari ketela pohon matang yang dimasukkan dalam adonan nira yang mendidih.
“Jadi ketela ini dimasukan kuali besar untuk merebus nirah sampai mendidih,” kata Wulan.
Keseruan tidak berhenti di situ. Dipandu para anggota Kirana 2024, peserta berkunjung ke emping dan opak uyel. Berlanjut ke PG Ngdiredjo. Menyaksikan mesin-mesin produksi gula putih. Setelah itu ke Balai Desa Purwokerto, menyaksikan tari tiban kolosal.
Destinasi terakhir adalah ke pemandian Sumber Sugihwaras. Merasakan sensasi berenang di kolam yang airnya langsung dari sumber.(*)