KEDIRI, JP Radar Kediri- Dulu, dia adalah atlet taekwondo yang malang-melintang di kejuaraan internasional. Prestasi yang mengantarnya menjadi abdi negara.
Kini, dia mencoba mencetak bibit-bibit unggul dengan mendirikan klub bela diri asal Korea ini.
Tahun ini menandai hampir seperempat abad Joko Arianto mengabdi di Pemerintah Kota Kediri sebagai pegawai negeri sipil (PNS).
Sejak 2024, dia memegang tongkat komando Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kediri sebagai kepala pelaksana (kalaksa).
Namun, di balik identitasnya sebagai PNS Pemkot Kediri, ada sisi lain yang belum banyak orang tahu. Pria ini saat muda merupakan atlet nasional.
Pria kelahiran 1976 itu punya relasi yang begitu dekat dengan olahraga taekwondo. Ya, dia adalah taekwondo-in, atlet olahraga beladiri asal Korea tersebut.
Ditunjukkannya bukti perjalanan karirnya sebagai atlet yang tersimpan dalam sebuah kliping.
Sang ibu, Umi Barokah, gemar mengumpulkan potongan koran-koran yang berisi prestasi-prestasinya.
Dalam kliping koran itu, tertera potongan berita-berita dari 1996, 1999, hingga 2002. Semua tersimpan rapi bak memorabilia masa mudanya.
“Mulai latihan Taekwondo itu tahun 1992, waktu usia 14 tahun. Kemudian proses-proses dari kejuaraan di Kediri, juara. Terus di Jawa Timur, juara. Terus akhirnya ikut PON tahun 1996,” kenang Joko, mengisahkan awal karirnya di olahraga taekwondo.
Hari-hari yang diisi dengan berlatih dan mengikuti pertandingan itu berhasil mengantarkannya menjadi atlet nasional.
Puncaknya, mewakili Indonesia dan membawa pulang gelar juara di kompetisi yang diselenggarakan di negara asal taekwondo; Korea Selatan.
Baru merintis di usia belasan, perjalanannya sebagai atlet pun tak selalu mulus. Termasuk kompetisi PON pertamanya yang belum membuahkan hasil maksimal.
Tak dinyana, kekalahannya itu justru menjadi titik balik karirnya. Banyak mata yang semakin tertuju padanya. Termasuk pemusatan latihan nasional (pelatnas) yang mulai meliriknya sejak itu.
“Gara-gara itu dipanggil pelatnas. Setelah itu baru event-event nasional pasti juara terus. Akhirnya mulai 1999 sampai 2004 itu saya bisa juara nasional terus,” kenangnya.
Puncaknya, pria asal Kelurahan Jamsaren itu beberapa kali mewakili Indonesia dalam kejuaraan Taekwondo di Korea Selatan. Salah satunya Korea Open 2002, saat Joko berhasil membawa pulang emas untuk Indonesia.
“Awal ingin ikut taekwondo itu dari orang tua yang mengarahkan. Karena dulu kecil sering berkelahi. Akhirnya disuruh ikut beladiri. Semenjak itu jadi enggak pernah berkelahi lagi,” ungkapnya, sembari tertawa kecil.
Berada di puncak karir, Joko justru mengambil langkah besar dalam karirnya; menjadi PNS. Keputusannya bergabung dalam gerbong pemerintahan itu berawal dari tawaran yang diberikan Wali Kota Kediri saat itu, mendiang Achmad Maschut.
“Waktu itu atlet-atlet dikumpulkan. Waktu saya duduk, beliau menghampiri di depan saya dan bilang, kamu belum kerja? Saya jawab, belum, Pak. Terus disuruh ikut tes CPNS dan masuk. Tapi waktu itu saya masih main terus,” kenangnya.
Wali kota dua periode itu dikenal gemar membaca berita. Termasuk dari koran-koran yang dikliping tiap harinya.
Perjalanan karirnya yang terus diberitakan koran lokal pun membawanya dikenal oleh sang wali kota.
Bahkan, tak lama setelah diangkat sebagai PNS di bagian keuangan, suami Ervina Februanti itupun ditarik menjadi sekretaris pribadi (sekpri) wali kota saat itu.
“Beliau kan setiap hari dari rumah dinas melewati ruang bagian keuangan. Setiap pagi lewat situ saya selalu ‘selamat pagi, Pak’ (dengan gestur membungkukkan badan, Red). Akhirnya ditarik (menjadi sekpri mendiang Maschut),” urainya.
Menggeluti taekwondo selama bertahun-tahun baginya tak hanya sekadar belajar teknik bela diri saja.
Melainkan secara mental, seni bela diri itu mengajarkannya nilai kearifan khas Timur. Mentalitas itu yang juga dia terapkan selama menjadi PNS.
“Kalau di taekwondo itu kan menghormati senior. Di PNS juga gitu, loyalitas kepada pimpinan bisa diambil dari itu. Jadi seolah-olah pimpinan belum ngomong apa, saya sudah ngerti. Istilahnya begitu. Jadi tanggap,” tandas bapak tiga anak itu.
Pun dengan nilai sportivitas dalam olahraga. Nilai itu relevan dengan prinsip ‘tidak bermain di belakang’ dalam suatu tatanan birokrasi.
Hingga sekarang, perjalanan karirnya sebagai PNS pun terus menanjak. Mulai dari sekpri wali kota, kepala bidang, hingga menjabat kepala organisasi perangkat daerah (OPD).
Meski sudah menjadi PNS, Taekwondo tetap menjadi bagian dari jiwanya. Kecintaannya terhadap seni bela diri itu mendorongnya mendirikan klub taekwondo di Kota Kediri.
Klub itu dirintisnya bersama adiknya, Agung Yulianto, yang juga mantan atlet nasional. Melalui klub itu, dia ingin ada juara-juara nasional baru yang lahir mewakili Kota Kediri—bahkan Indonesia—di kancah internasional.
“Sampai sekarang belum ada lagi (juara tingkat internasional Taekwondo dari Kediri, Red). Semoga ini nanti bisa,” harapnya, yang sudah mulai mencetak ratusan atlet Taekwondo melalui klubnya, AGS Taekwondo Club.
Editor : Andhika Attar Anindita