Bagi Rifqi Nadhim Uqail, tekad besar ibarat jadi urat nadinya. Setiap keinginan akan berusaha dia realisasikan. Termasuk keinginan menyerahkan lukisan diri Bupati Dhito langsung ke sang bupati.
-----------------
Nama lengkapnya Rifqi Nadhim Uqail. Namun remaja 13 tahun ini akrab disapa Nadhim. Karakternya sedikit unik. Penuh dengan kejutan. Apalagi saat berkaitan dengan obsesinya yang ingin bertemu tokoh-tokoh idola.
Tanpa ada rasa ragu, dia pun memberanikan diri mengirim direct massage (DM) ke Instagram Jawa Pos Radar Kediri. Nadhim bercerita banyak hal. Namun tujuan utamanya mengirim pesan ke redaksi adalah karena ingin bertemu dengan Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana untuk berjabat tangan. Sebabnya, lukisan yang dikirim ke kantor orang nomor satu di Bumi Panjalu ini tak kunjung mendapatkan respon.
“Dulu sudah diminta nomornya (Nadhim, Red). Katanya nanti dihubungi,” cerita Imam Syafii, ayah dari Nadhim yang kala itu mendampingi saat diwawancarai oleh wartawan koran ini.
Ya, sosok Nadhim memang pendiam dan sedikit pemalu. Apa yang diucapkannya pun tak banyak. Hanya satu atau beberapa kata saja. Sehingga, ayahnya yang lebih banyak bercerita.
“Waktu masa kampanye, Mas Dhito tampil di Desa Pagu. Anak saya lukis Mas Dhito terus mau dikasihkan. Tetapi waktu itu masa kampanye jadi tidak boleh melibatkan anak kecil,” beber pria yang akrab disapa Imam ini.
Terpaksa saat itu Nadhim gagal menyerahkan karyanya. Lukisannya hanya disimpan di rumah.
Lantaran resah, tercetuslah ide dari anak bungsu dari tiga bersaudara ini. Ya, dia berinisiatif untuk mendatangi langsung Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana.
“Pak piye pak gambarnya (bagaimana pak ini gambarnya, Red). Akhirnya, Pak tak terne ke kabupaten ae (Pak diantar ke kantor kabupaten saja, Red). Terus saya bilang, wani we mlebu dewe? (Berani kamu masuk sendiri? Red). Wani (berani, Red), jawabnya Nadhim,” cerita Imam.
Akhirnya, Imam pun mengantarkan anaknya ke kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri. Menariknya, dia hanya mengantar Nadhim sampai pintu satpam. Selebihnya, Nadhim dengan keberaniannya masuk sendiri ke kantor Pemkab Kediri dengan tujuan bertemu Hanindhito Himawan Pramana.
“Saya pengen bertemu Mas Dhito sama berjabat tangan dengan beliau,” kata Nadhim sembari menceritakan dirinya berada di dalam kantor Pemkab Kediri selama kurang lebih satu jam.
Menariknya, Nadhim tidak sekali dua kali membuat ide yang terbilang nekat. Sebelumnya, dia pernah melukis Gus Iqdam yang sosoknya dia idolakan. Pada 2024 silam, kegiatan pengajian yang ada di desanya mengundang penceramah terkenal tersebut. Kala itu, Nadhim bercerita kepada sang ayah bahwa sangat ingin bersalaman dengan Gus Iqdam.
“Ya njajalo kowe nggambar Gus Iqdam, menawa kepanggil (Ya coba kamu menggambar Gus Iqdam, mungkin bisa dipanggil, Red),” saran Imam saat itu.
Benar saja, Nadhim pun mencuri perhatian dalam acara pengajian tersebut. Dia dipanggil oleh Gus Iqdam. Lalu, remaja yang kala itu masih duduk di bangku kelas 6 sekolah dasar menyerahkan langsung karya lukisannya plus bersalaman dengan sang idolanya.
“Terus yang kedua (pengajian Gus Iqdam di tempat dan waktu yang berbeda, red), dia (Nadhim) melukis anaknya supaya bisa dipanggil lagi,” lanjut Imam.
Mengulik lebih dalam, Nadhim memang mewarisi darah seni dari ayahnya. Ternyata, ayahnya memang menggambar meskipun tidak menjadi seniman. Melainkan berprofesi sebagai guru. Sementara, kakak Nadhim merupakan seorang pelukis yang karyanya sudah dijual di berbagai daerah di Indonesia.
“Saya belajar dari kelas 4 MI (Madrasan Ibtidaiyah), belajarnya sama kakak,” cerita Nadhim yang menamatkan sekolah dasarnya di MI Al Falah Pagu, Kecamatan Wates.
Tak sekadar menggambar saja. Rasa ingin tahu Nadhim pun juga besar. Bisa dibilang, dia memang menyukai tantangan. Sekaligus pandai dalam mencari peluang. Contohnya, dia berkali-kali mengikuti lomba menggambar yang informasinya didapatkan dari media sosial. Bahkan, dia pernah terbang ke Singapura setelah memenangkan lomba menggambar dari salah satu brand susu di Indonesia.
“Anaknya itu nggak cerita. Tiba-tiba saya diajak ke kantor imigrasi. Karena waktu itu untuk bikin paspor nggak bisa kalau tidak ada tanda tangan orang tua,” beber Imam.
Tak hanya itu, Aning Wardani, ibunda dari Nadhim, juga pernah dibuat kaget lantaran ada kiriman minuman kemasan. Ternyata, Nadhim memenangkan lomba dari event yang diadakan salah satu brand minuman teh.
“Biasanya scroll-scroll (di media sosial, red), terus di situ tahu kalau ada lomba,” kata Nadhim menceritakan bagaimana mendapatkan informasi lomba.
Apa yang dilakukan Nadhim tidak sekedar unik. Melainkan juga mengesankan. Pasalnya, bila mendapatkan hadiah berbentuk uang, dia tidak akan menghambur-hamburkan untuk jajan. Melainkan ditabung. Jika tidak, dia menggunakannya untuk membeli peralatan melukis.
“Cita-cita saya pengen menjadi pelukis,” ujar Nadhim yang berharap bisa kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.
Informasi terbaru, Nadhim sudah mendapatkan pesan langsung dari Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana. Katanya, orang nomor satu di Bumi Panjalu ini berencana menemuinya pada bulan ini. Hanya saja, belum ada kepastian kapan waktu pertemuan itu berlangsung.(*)
Editor : Mahfud