Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Gunawan, Legenda Atlet Atletik dari Kabupaten Kediri yang Ingin Memunculkan Sprinter seperti Saya dari Kediri

Emilia Susanti • Rabu, 25 Juni 2025 | 16:30 WIB

 

 

Gunawan, mantan sprinter nasional
Gunawan, mantan sprinter nasional

Dia sudah empat kali tampil di pekan olahraga nasional. Tiga kali ikut SEA Games serta satu kali tampil di kejuaraan atletik Internasional di Jerman. Ada satu obsesi yang masih terus dia kejar hingga saat ini, melahirkan sprinter seperti dirinya.

 

Namanya singkat, Gunawan. Sudah tidak muda lagi, usianya 58 tahun. Sosoknya ramah, murah senyum. Bila berbicara tak banyak basa-basi. Seperti ketika ditemui Jawa Pos Radar Kediri beberapa waktu lalu, dia langsung menceritakan kisah mudanya. Semasa masih menjadi atlet atletik.

“Saya empat kali ikut PON (pekan olahraga nasional, Red).  Pernah ikut SEA Games (South East Asia Games, Red). Juga pernah (ikut) kejuaraan (atletik Internasional) di Jerman,” kenang pria asli Desa Doko, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri ini.

Saat membagi kisahnya, Gunawan langsung mengambil ponselnya. Lantas membuka galeri foto. Tak lama kemudian menunjukkan satu per satu sertifikat kejuaraan yang pernah dia ikuti. Lalu memperlihatkan fotonya ketika berada di Jerman pada 1989 silam.

Gunawan pun bercerita lebih masuk ke zona waktu lebih lama. Ketika dulu, sebelum terjun di atletik, lebih memilih bermain sepak bola. Posisinya penyerang sayap kanan.

pelariBaca Juga: Sosok Mariska Yunitasari, Atlet Atletik Kota Kediri yang Wakili Jatim di PON XII di Aceh dan Sumut

Olahraga para lelaki ini dia geluti sejak masih duduk di sekolah dasar. Setidaknya hingga di sekolah menengah pertama.

Hanya, sepak terjangnya di sepak bola belum bisa memberi status atlet. Setidaknya di zaman itu, di era 1980-an.

“Dulu itu, disebut atlet kalau sudah ikut PON,” dalihnya terkait kenapa dia belum layak disebut atlet sepak bola kala itu.

Hal itulah yang membuatnya banting setir. Mulai menerjuni cabang atletik pada 1986.

Benar saja, pilihan itu ternyata tepat. Setahun berlatih, Gunawan langsung menyabet juara di tingkat Jawa Timur. Persisnya dalam nomor lari sprint 100 meter dan 200 meter.

Prestasi itu pun menjadi awal karirnya sebagai atlet atletik. Setelah itu beragam kejuaraan dia ikuti. Mulai tingkat nasional hingga internasional. Bahkan dia menjadi peserta tetap PON selama empat kali berturut-turut!

“Di PON 2000 itu saya gantung sepatu. Saya dijuluki “Pelari si Tua” karena paling tua sendiri, sudah 34 tahun,” kenang bungsu dari lima bersaudara ini.

Usai pensiun, Gunawan tak serta merta meninggalkan dunia olahraga. Bahkan kegiatannya tak kalah sibuk saat menjadi atlet. Pasalnya, dia memutuskan untuk menjadi pelatih.

Bapak satu anak itu mengaku banyak mendapatkan permintaan untuk menjadi pelatih fisik. Tak hanya untuk atlet, juga orang-orang yang hendak menjalani tes fisik. Entah tes fisik untuk lolos kedinasan, polisi, atau lainnya.

“Ada yang privat. Ada juga yang kelompok,” aku pria yang juga pegawai negeri sipil (PNS) di Pemerintah Kabupaten Kediri ini.

Menariknya, dia juga kembali terjun di dunia sepak bola. Tentu saja bukan sebagai pemain. Melainkan menjadi pelatih fisik. Adalah Persedikab Kabupaten Kediri pernah menggunakan jasanya untuk meningkatkan fisik para pemainnya. Meskipun hanya untuk beberapa minggu saja.

“Saya dulu juga pelatih fisik di Triple-S (salah satu sekolah sepak bola di Kediri, Red). Ya zamannya Vava, Bagas, Bayu Otto, Habibi,” ingatnya.

Kini, Gunawan sudah memiliki klub atletik sendiri. Namanya Sangkara Gunawan Atletik. Dia pun menunjukkan lagi beberapa video. Isinya beberapa anak yang tengah berlatih dengannya.

Secara mengejutkan, dia terdiam saat disinggung mengenai tarif. Dia teringat oleh salah satu anak didiknya. Matanya lalu mulai berkaca-kaca. Sekitar lima detik kemudian, Gunawan mulai membuka suara. Walau dengan suara terbata-bata.

“Saya kasihan. Nggak kuat kalau anaknya sendiri yang minta (latihan dengannya, Red),” ujarnya dengan berlinang air mata.

Setelah menyeka air matanya dan mengontrol diri, Gunawan kembali meneruskan ceritanya. Dia mengaku tidak tega setiap kali menemui seorang anak yang ingin berprestasi namun orang tuanya tak memiliki cukup biaya. Di saat itulah Gunawan secara diam-diam tak akan mematok tarif.

Menariknya, pria yang juga aktif di bidang kesenian Jaranan ini juga masih memiliki cita-cita. Sejak ditunjuk sebagai pelatih Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) Kabupaten Kediri awal Juni ini, dia ingin menciptakan atlet-atlet berprestasi.

“Saya ingin Kabupaten Kediri muncul sprinter seperti saya. Saya ingin dua tahun lagi, Kabupaten Kediri bisa juara di Porprov (Pekan Olahraga Provinsi). Saya yakin bisa dapat emas,” tegasnya. (*)

 

Editor : Mahfud
#sprinter #atlet sea games