Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Nasib Sungai Parung Kediri, Kadar Fosfatnya Tinggi, dari Mana Asalnya?

Ayu Ismawati • Senin, 23 Juni 2025 | 14:30 WIB

 

Alat berat melakukan pengedukan di Sungai Parung yang terkena sedimentasi dan pendangkalan.
Alat berat melakukan pengedukan di Sungai Parung yang terkena sedimentasi dan pendangkalan.
 

Kondisi Sungai Parung juga pernah diteliti Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan, dan Pertamanan (DLHKP) Kota Kediri.

Hasilnya, di beberapa titik ada beberapa parameter kualitas air yang melebihi baku mutu. Salah satunya fosfat.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan, dan Pertamanan (DLHKP) Kota Kediri Imam Muttakin melalui Kepala Bidang Penataan dan Penaatan Lingkungan Hidup Aris Mahmudin mengatakan, kadar fosfat yang tinggi di dalam sungai dapat berasal dari beberapa jenis limbah.

Di antaranya limbah domestik dari rumah tangga hingga aktivitas pertanian.

“Potensi limbah domestik itu rata-rata yang banyak dari detergen. Kemudian fosfat itu juga bisa dari pemakaian pupuk yang berlebihan sehingga terlarut ke sungai,” ujarnya.

Berdasarkan pengujian yang pernah dilakukan terhadap kualitas air Sungai Parung setahun yang lalu, beberapa parameter di atas baku mutu juga mencakup ammonia.

Kemudian chemical oxygen demand (COD) yang memengaruhi penurunan kadar oksigen terlarut dalam air. Serta biological oxygen demand (BOD) yang jika konsentrasinya terlalu tinggi dapat menyebabkan penurunan kadar oksigen terlarut.

Hingga mengarah pada kematian organisme air, air tidak layak digunakan, hingga ganggunan keseimbangan ekosistem air.

Selama ini, masih banyak limbah cair domestik yang dibuang langsung ke badan sungai. Yakni, tanpa diolah terlebih dahulu salah satunya dengan sistem instalasi pengolahan air limbah (IPAL).

“Salah satu upaya pembinaan kami dengan menyebarkan sosialisasi dan informasi larangan membuang limbah cair ke sungai. Di Sungai Parung ada empat titik yang jadi sasaran,” ungkap Aris.

“Kami pun juga bekerja sama dengan pemerintah dalam hal pembersihan dan pemantauan sungai di beberapa titik. Tapi mungkin saat ini yang dibutuhkan kebijakan,” ujarnya.

Menurutnya saat ini belum ada kebijakan yang mengatur tentang sungai di Kediri. Terutama yang fokus menegaskan tentang larangan membuang limbah maupun sampah ke sungai. Termasuk sanksi tegas bagi pelanggar.

“Selama ini baru ada perda yang masih tentang larangan membuang sampah sembarangan. Dan di sungai itu termasuk membuang sampah sembarangan. Akan tetapi yang fokus di sungai itu belum ada,” terangnya.

“Pemerintah perlu membuat aturan yang bisa memberi ketegasan. Saya ingin sungai di Kediri kembali seperti dulu. Banyak ikan, anak-anak bisa bermain dan belajar di sungai,” sambungnya. (*)

 

 

Editor : Mahfud
#fosfat #Baku Mutu Limbah Domestik