Di era serba modern, pembatik asal Desa Menang, Pagu ini memilih konsisten dengan aliran batik klasik. Idealismenya itu justru mengantarkannya menjadi seniman yang unik dan beda dari yang lain.
Adi Wahyono menunjukkan beberapa mahakaryanya yang terpajang dalam sebilah kayu. Tidak hanya sekadar kain batik dengan beragam motif.
Lembar demi lembar kain yang ditunjukkannya masing-masing punya filosofi tersendiri. Sudah menjadi ciri khasnya pria asal Desa Menang, Kecamatan Pagu itu. Bahwa setiap batik klasik karyanya memuat kisah-kisah sejarah Bumi Panjalu.
Seperti batik dengan nama ‘Padma Loka Moksa’ yang dia pamerkan di Gedung Kesenian dan Museum Kabupaten Kediri kemarin (18/6). Butuh waktu hingga dua bulan untuk membuat salah satu mahakaryanya itu.
Goresan motifnya bercerita tentang kisah moksa Sri Aji Jayabaya. Khususnya, tentang lokasi moksa sang Raja Panjalu itu yang diyakini berada di Desa Menang.
Batik dengan unsur warna hijau, cokelat, dan kuning itu mengangkat bentuk dari tempat moksa sang Raja Kediri. Mulai dari lingga, yoni, dan batu manik. Wujud raja luhur itu juga digambarkan lewat unsur teratai.
Hingga kini, motif yang digoreskan di media kain 250 cm x 105 cm itu masih menjadi mahakarya terbaiknya.
“Terus terang secara spiritual di Menang tidak mudah serta merta membuat bentuk-bentuk seperti ini. Saya juga minta izin dulu ke yang bahurekso (ruh atau zat yang menjaga, Red). Dan penyempurnaan bentuknya ini butuh waktu lama,” ujar Adi.
Pria yang tahun ini berusia 50 tahun itu memiliki sejarah panjang dengan batik. Neneknya merupakan seorang pembatik.
Karena sering dititipkan di rumah sang nenek, Adi kerap menyaksikan neneknya mencanting. Dari situ, tumbuh kecintaannya terhadap karya wastra nusantara itu.
“Akhirnya saya punya hobi-hobian membatik, sampai kuliah pun saya masih hobi membatik. Kadang saya pakai-pakai sendiri,” ujar alumnus Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu.
Seiring waktu, aktivitas yang awalnya hanya sebagai hobi itupun semakin dia geluti. Terlebih, sejak dia memutuskan kembali ke Kediri. Meninggalkan karirnya di Kota Malang sebagai desainer interior.
Keputusan kembali pulang sekitar 20 tahun lalu itu diambilnya untuk menemani sang ibu di hari tuanya. Sejak saat itu, dia mulai merintis karir sebagai seniman batik di kampung halamannya.
“Sekitar 2010, waktu itu bupatinya masih Bu Haryanti, itu mengadakan lomba desain batik khas Kabupaten Kediri. Saya disuruh camat Pagu untuk ikut waktu itu. Dan saya hanya kirim tiga karya untuk tiga kategori, ternyata tiga-tiganya masuk nominasi juara. Dari situ Bu Haryanti manggil saya,” kenangnya.
BABaca Juga: Perempuan Asal Desa Besuk Gurah Ini Kreasikan Kain Batik Bermotif Khas Kediri
Dari situ, eksistensinya sebagai seniman batik klasik semakin diakui. Alumnus Seni Rupa Umum UNESA itupun sering diajak mengikuti pameran hingga pelatihan batik klasik.
Seiring waktu, karakternya sebagai seniman batik semakin terbentuk. Hingga kini, sudah tak terhitung motif-motif batik hasil karyanya.
Termasuk 10 masterpiece batik yang memuat berbagai kisah sejarah Bumi Panjalu. Salah satunya motif Padma Sangka yang menjadi salah satu batik khas Kabupaten Kediri.
“Ciri khas saya itu kalau menciptakan karya selalu dimulai dengan ngarang konsepnya dari mana, dirumuskan ke mana, baru dicari bentuk yang pas. Semua saya mengangkat tentang sejarah Kediri,” urai warga Desa Menang, Pagu itu.
Beberapa karyanya itu juga kerap dia ikutkan dalam perlombaan. Salah satunya di lomba cipta selendang batik Adiwastra Nusantara di Jakarta Convention Center, Jakarta, pada 2018 lalu. Di situ, dia mendapatkan juara tiga dari banyak kontestasi dari seluruh Indonesia.
Di tengah era serta modern, menurutnya batik klasik konvensional tetap memiliki pasarnya sendiri. Salah satunya dari pecinta batik yang menghargai wastra itu sebagai sebuah karya seni. Ciri khas yang ditonjolkan di setiap karya itulah yang menurutnya menjadi kelebihan seniman batik klasik.
“Kalau kita sudah menemukan karakter kita yang tidak sama dengan orang lain, itu (persaingan pasar) tidak menjadi masalah. Itu yang selalu saya jadikan inspirasi ke teman-teman,” tandas pria yang juga pengurus Asosiasi Pengrajin Batik Jawa Timur divisi pengembangan tersebut.
Meski tidak bisa dipungkiri, seniman yang kini sudah mempekerjakan empat pencanting di desanya itu tetap menyesuaikan permintaan pasar. Salah satunya dengan tetap memproduksi batik kontemporer.
“Istilahnya untuk yang cepat jadi dan menghasilkan duit itu tetap. Tapi brand kami yang benar-benar jiwa kami itu harus tetap dapet,” tandasnya.
Dari sebuah rumah di Desa Menang itu, karya-karya batik konvensional terus dilahirkan. Berdiri sejak 2011, Usaha kecil dan menengah (UKM) batik bernama Cittaka Dhomas itupun masih eksis.
Sebagaimana namanya yang berarti buah pikiran yang cemerlang, Adi ingin terus menghasilkan karya dari hasil gagasannya sendiri. Menjadi pelita di tengah arus modernisasi.(*)
Editor : Mahfud