Sulit mendapat kerja setelah lulus dari SMK tak membuatnya menyerah. Daya kreatifnya justru muncul ketika melihat limbah batok kelapa yang melimpah di sekitarnya. Hingga dia mampu menjadi perajin yang produknya sudah dipasarkan hingga Hongkong dan Korea Selatan.
Suara mesin menderu dari satu bengkel. Di dalamnya seorang pria berdiri di depan mesin perkakas yang dikendalikan komputer, bernama computer numerical control alias CNC. Alat yang bisa melakukan berbagai kerja manufaktur seperti memotong, menggiling, mengebor, dan lainnya dengan hasil yang sangat presisi.
“Mesin ini saya beli pada 2024,” cerita sosok bernama Moh Khamim ini, sambil terus mengamati mesin di depannya bekerja menyelesaikan pembuatan tray pan.
“Ini sedang proses mengukir tray pan,” lanjutnya, menerangkan jenis pekerjaan yang tengah berlangsung.
Menurut suami dari wanita bernama Binti Ulfatun Nafikhah ini, kerajinan-kerajinan itu merupakan pesanan konsumen dari luar negeri. Tepatnya di Negeri Ginseng, Korea Selatan.
“(Mintanya) dikirim akhir Juni,” sambungnya, menyebut tenggat yang harus dia penuhi.
Di mesin tersebut terdapat satu lembar papan kayu mahoni, berukuran satu meter. Nantinya akan menjadi empat tray pan. Untuk memenuhi pesanan yang juga dalam bentuk buku dan piring karakter.
“Kerjasama ini sudah berjalan dua tahun, setiap tahunnya dilakukan pengiriman barang sebanyak dua kali,” imbuhnya.
Ya, Khamim-demikian dia biasa disapa-adalah perajin perkakas yang terbikin dari kayu. Baik yang dari kayu jati maupun mahoni. Pekerjaan yang dia geluti sejak 2023.
Karya yang dia buat didominasi peralatan dapur dan peralatan makan. Seperti irus (sendok sayur), sutil (spatula), dan entong (sendok nasi). Namun, Khamim juga menerima pesanan lain sesuai permintaan.
Ketika mengawali membuat kerajinan dari kayu, peralatan yang dia gunakan relatif sederhana. Hanya gergai, mesin ampelas, dan bor duduk. Setelah itu, perlahan, dia membeli peralatan yang sesuai kebutuhan. Termasuk membeli CNC.
Selain itu, Khamim tak langsung terjun di kerajinan kayu. Dia bahkan mengawalinya dengan membuat kerajinan dari batok kelapa.
“Di rumah banyak batok kelapa karena bapak jualan kelapa,” aku anak kedua dari empat bersaudara ini.
Karena melihat limbah yang melimpah itulah hasrak kreativitasnya tergelitik. Apalagi, dia tak kunjung mendapat pekerjaan setelah lulus dari sekolahnya di salah satu SMK.
Tentu saja dia tak bisa langsung membuat. Sebab, dia lulusan jurusan teknik mesin sepeda motor. Karena itu, dia harus belajar terlebih dulu agar bisa membuat kerajinan dari batok kelapa.
“Otodidak, dari belajar melihat video Youtube,” akunya.
Hasilnya, dia bisa membuat berbagai karya. Mulai dari gantungan kunci, kap lampu, hingga peralatan memasak.
Kerajinan buatannya itu dia pasarkan melalui media sosial. Mayoritas pembelinya berasal dari luar kota. Ada juga yang dari luar pulau.
Sayangnya setelah berjalan selama tiga tahun. Produksi kelapa di desanya berkurang drastis. Sebab banyak pohon yang mati terserang penyakit. Menjadikan batok kelapa yang tersisa juga tidak standar kualitasnya.
Pada 2020 Khamim memutuskan mendatangkan batok kelapa dari Jogjakarta. “Kemudian dikembangkan ke mangkok, piring, gelas, sendok dan garpu,” ungkap laki-laki kelahiran 1999.
Namun, pada 2023, Khamim memutuskan berhenti membuat kerajinan dari batok kelapa. Memutuskan beralih ke kerajinan dari kayu jati dan mahoni yang bahannya lebih mudah didapatkan.
Kini, meski sudah banyak mendapat pesanan dari luar negeri, Khamim masih aktif mengikuti berbagai bazar atau pameran. Salah satunya acara Festival Kuno Kini 2025 lalu. (*)
Editor : Mahfud