Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kisah Herman, Dulu Konter Pulsanya Bangkrut Kini Kedai Ketannya di Seputaran Bandara Kediri Viral dan Diburu Pembeli

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Kamis, 12 Juni 2025 | 19:22 WIB

 

 

Herman dan Istrinya di lapak ketannya yang viral di seputaran Bandara Kediri.
Herman dan Istrinya di lapak ketannya yang viral di seputaran Bandara Kediri.

Dulu, konter pulsanya kolaps setelah ada proyek bandara. Sempat berjualan keliling yang pendapatannya naik turun. Hingga dia ‘nemu’ tempat yang membuat jualannya jadi viral.

 Hari masih pagi. Jam pun baru menunjuk pukul 07.00. Namun, lapak yang berada di tepi jalan yang menjadi akses alternatif menuju Bandara Dhoho Kediri itu sudah ramai pembeli.

Makanan yang dicari pun tergolong sederhana. Biasa disebut ketan bubuk. Namun, yang mengantre, sepagi itu, sudah mengular. Sementara, di kursi-kursi yang disediakan si penjual, sudah ada puluhan orang yang menikmati pesanannya.

"Saat hari kerja minimal ada sebanyak 100 pembeli yang datang. Kalau hari libur  bisa mencapai lebih dari 500 orang," ucap pria yang rambut panjangnya dikuncit ekor kuda.

Pria itu adalah pemilik lapak ketan bubuk tersebut. Namanya Herman Cahya Irawan. Tercatat sebagai warga setempat, Desa Bulusari, Kecamatan Tarokan. Yang membuka lapak non-permanen. Makanan yang dia jajakan ditempatkan di skuter modifikasi yang berbentuk tank yang panjangnya sekitar 1,5 meter

Sebenarnya, ketan bubuk yang dia jual tidaklah istimewa. Seperti ketan bubuk pada umumnya. Hanya, punya berbagai varian rasa topping. Selain bubuk kedelai dan parutan kelapa, ada pula fla susu vanila, coklat, topping keju, ataupun lainnya.

Yang membuat istimewa adalah lokasinya. Berada di jalanan yang membelah Desa Bulusari. Bila menghadap ke barat akan melihat jelas pemandangan Gunung Wilis. Bila di arah sebaliknya, yang terpandang adalah megahnya Stadion Gelora Daha Jayati (GDJ). Sebelah utara, walaupun tidak terlalu nampak, terlihat menjulang bangunan tower Air Traffic Control (ATC) Bandara Dhoho.

Jika di pagi hari, ketika matahari terbit, pemandangannya terlihat sangat indah. Demikian pula di sore hari, kala mentari hendak bersembunyi. Warna keemasan senja juga membuat anak muda maupun tua merasa hangat.

"Kalau momennya tepat, pas pagi-pagi, Gunung Wilis itu pucuknya terang. Karena kesorot matahari. Jadi pemandangannya bagus," terang Herman, yang juga seorang penghobi Vespa.

Nama kedai ketan bubuk ini adalah Vsp on the Road. Singkatan di kata paling depan itu bisa diduga, dari kata Vespa.  Karena kedai ini merupakan kedai berjalan. Yang berada di bagian atas Vespa modifikasi.

Namun, biasanya orang lebih mengenalnya dengan kedai ketan bubuk Stadion GDJ. Karena lokasinya dekat dengan stadion baru itu. Tepatnya sebelah barat daya stadion. Sekitar 500-an meter.

Di hari biasa, pengunjungnya sudah ramai. Buka dari sekitar  pukul 05.00 dan tutup sekitar pukul 10.00. Sorenya buka lagi sekitar pukul 16.00 sampai menjelang malam.

Menjadi viral dengan pembeli yang membeludak tidak dicapai dengan instan. Herman harus merasakan jatuh bangun terlebih dulu. Ada perjuangan panjang yang dilalui. Hingga jualannya terkenal dan diketahui tak hanya warga Kediri tapi juga luar Kediri.

"Banyak yang dari luar Kediri juga. Mereka datang karena penasaran. Akhirnya di sini juga langganan," terang Herman dengan logat Jawanya yang medok.

Dulu, Herman berbisnis konter pulsa. Berdiri sejak 2010, di rumahnya. Saat ada proyek Bandara Dhoho, pada 2020, akses ke arah rumahnya itu ditutup. Membuat bisnisnya sepi dan akhirnya bangkrut.

"Ekonomi kolaps. Gak saya saja, toko, bengkel, dan lain juga mati suri," kenang laki-laki 40 tahun itu.

Karena itu, dia pun menganggur selama satu tahun. Dan berusaha mencari akal bagaimana bisa memulai usaha lagi.

Kebetulan dia anak Vespa modifikasi. Dia pun mencoba menjajakan kopi di setiap ada event. Menggunakan vespa modifnya menjadi kedai kopi keliling.

"Itu 2021, awal saya coba buka lapak pakai Vespa saya," jelasnya.

Memang jualannya itu laku keras. Namun di situ dia kembali berpikir. Kalau hanya jualan saat event saja, hanya akan mendapatkan uang saat event saja. Ketika event libur, ya tentu tidak dapat penghasilan.

Pada saat 2023, sedang viral pula kopi senja. Dia pun mencobanya. Tidak berhenti di situ, dia juga mencoba berjualan yang lain, seperti nasi bungkus.

Tempat berjualannya juga berpindah-pindah. Desa Bangkerep Kecamatan Tarokan, SKB Grogol, hingga dekat Makam Desa Bedrek Kecamatan Grogol.

"Pindah-pindah karena ada yang tempatnya anginnya kencang banget, sampai payungnya terbang. Ada yang memang sepi," jelasnya.

Anak pertama dari tiga bersaudara itu memilih berjualan di barat Stadion GDJ itu pada akhir Desember 2024 lalu. Awalnya dia tidak sengaja. Ketika saat mengantar anaknya ke sekolah, dia melihat lokasi itu bagus. Dengan view Gunung Wilis dan Stadion GDJ.

Kebetulan di area itu juga ramai lansia yang olahraga pagi. Sehingga Herman pun mencoba untuk membuka di sana.

Bapak tiga anak itu mengatakan, karena di sana banyak lansia yang olahraga, dulu yang awal meramaikan membeli ketannya adalah orang-orang tua yang sedang olahraga pagi hari. Kemudian, temannya dari komunitas motor Vespa hingga CB Bandara Kediri, juga turut melarisi dagangannya.

Dia tidak menyangka dengan pindahnya di lokasi itu, dagangannya jadi viral. Bahkan sampai menarik PKL lainnya.

Dia adalah orang pertama kali jualan di lokasi tersebut. Hingga akhirnya banyak warga sekitar yang turut berjualan dengan berbagai menu makanan dan minuman. Sehingga, saat pagi atau sore hari, area itu seperti pasar kuliner ketika event-event car free day.

"Kebetulan jalan area ini juga sepi. Paling yang lewat hanya motor. Jadi kaya car free day," akunya.(fud)

Editor : Mahfud
#ketan bubuk #bandara kediri