Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Berkurban Sekaligus Kampanye Ramah Lingkungan ala Warga Bujel, Bungkusnya Daun Jati, Dagingnya Bisa Seperti Ini

Ayu Ismawati • Selasa, 10 Juni 2025 | 17:00 WIB

Panitia kurban membungkus daging dengan daun jati.
Panitia kurban membungkus daging dengan daun jati.
 

Mereka ingin melestarikan warisan leluhur. Membungkus daging kurban dengan daun jati dan besek. Sekaligus ikhtiar membuat lingkungan lebih sehat.

Halaman rumah di Jalan Terusan Anjasmoro, Kelurahan Bujel, Kecamatan Mojoroto itu ramai orang sejak pagi. Duduk beralas terpal biru. Berpayung pepohonan rimbun. Sibuk dengan tugasnya masing-masing. Memotong tulang dan daging sapi dengan pisau besar. Sebagian lagi berlalu-lalang. Membawa setumpuk daun jati.

Yang wanita beda lagi pekerjaannya. Menimbang daging yang telah dipotong-potong. Kemudian, daging yang telah ditimbang dengan cermat itu diberikan ke kelompok satunya. Yang membungkus daging tersebut dengan satu atau dua lembar daun jati.

Saat itu satu hari setelah Hari Raya Idul Adha. Kebetulan, di rumah yang sekaligus base camp Yayasan Hijau Daun tersebut masih melakukan penyembelihan hewan kurban. Satu ekor sapi.

“Ini sudah merupakan tradisi leluhur dari dulu, turun temurun. Setiap kurban selalu mengemas dengan daun jati atau juga besek,” terang Miftah Dwi Putri Maulidiyah. Wanita ini adalah panitia pelaksana kurban yayasan yang konsen dengan persoalan lingkungan tersebut.

Miftah, demikian dia biasa disapa, menyebut ada perbedaan daging yang dibungkus daun jati dengan plastik kresek. Lebih awet dan tidak gampang berbau saat dibagikan.

“Kalau dikemas menggunakan plastik, misalnya pagi ini disembelih, nanti sorenya itu warnanya sudah ungu dan berbau. Tapi ketika menggunakan daun jati, sampai besok paginya itu daging masih fresh,” ungkap perempuan 22 tahun itu.

Lebih penting, menggunakan daun jati sebagai pembungkus daging kurban lebih ramah lingkungan. Mengurangi sampah plastik yang sulit terurai tanah.

“Selain mempertahankan tradisi, kami juga ingin ikut mengedukasi masyarakat agar bisa mengurangi penggunaan plastik sekali pakai,” dalih Miftah.

Karena itu, momentum hari raya seperti itu jadi sarana edukasi yang sederhana. Penerima daging kurban secara tidak langsung diajari mengurangi sampah plastik.

“Selain diberikan ke warga sekitar, beberapa juga kami distribusikan kepada masyarakat pedesaan di lereng Gunung Wilis,” ungkap Miftah. Dia kemudian menyebut Dusun Tengger, Desa Ngetos, Nganjuk sebagai tempat yang dituju.

Tak sulit mendapatkan daun jati? Miftah menggeleng. Sebab, banyak tanaman itu di halaman rumah yang luas tersebut.

“Kebetulan di belakang ini ada kebun, dan banyak pohon jati juga. Jadi kami ambil sendiri dari kebun sudah tersedia,” aku mahasiswi Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri itu.

Ketua Yayasan Hijau Daun Mandiri Endang Pertiwi, yang juga pemilik rumah, mengatakan tradisi menyembelih hewan kurban seperti itu berlangsung sejak 2011. Metode pengemasan dan pendistribusian daging masih belum berubah. Sayangnya, masyarakat era sekarang masih banyak yang tidak terbiasa dengan tradisi itu.

“Orang sekarang kadang ada yang belum familiar dengan bungkus daun jati. Kadang ada yang bilang, ‘kok gini saja? Kreseke mana?’ Padahal dengan daun jati saja sudah aman. Karena senyawa di daunnya itu membuat darah pada daging menggumpal, sehingga lebih awet,” ungkapnya.

Meskipun beberapa masyarakat zaman sekarang asing dengan metode itu, tak sedikit yang menyambut baik. Salah satunya Luluk Puji Rahayu, 43, warga Kelurahan Bujel, Mojoroto. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, tahun ini dia kembali mendapat pembagian daging yang dibungkus daun jati.

“Memang lebih ramah lingkungan, ya. Selain itu lebih awet daripada daging yang dibungkus dengan plastik,” ujar Luluk.

Salah satu indikasinya dari bau. Menurutnya, hingga malam pun daging yang dibungkus daun jati tidak mengeluarkan bau menyengat. Sebagaimana daging yang dibungkus dengan kantong kresek.

“Saya harap lain-lainnya juga mengikuti seperti yang dilakukan di sini, pakai daun jati. Karena kan lebih aman juga (untuk kesehatan, Red),” pungkasnya

Editor : Mahfud
#lingkungan #kurban