Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Gus Reza dalam Pengajiannya Selalu Terapkan Basic Ilmu Agama dan Ilmu Pengetahuan Umum agar Tidak Ketinggalan Zaman

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Rabu, 12 Maret 2025 | 16:46 WIB
Photo
Photo

KEDIRI, JP Radar Kediri- Aula di kompleks Ponpes Al Mahrusiyah Unit 3 itu terisi penuh para santri putri. Sementara santri putra memenuhi area-area di luar aula. Atau, di emperan masjid yang juga tak jauh dari tempat itu.

Jumlah para santri itu ratusan. Semuanya adalah santri ponpes yang berada di Kelurahan Ngampel, Kecamatan Mojoroto itu. Mereka tengah menyimak materi yang disampaikan sang guru, Reza Ahmad Zahid alias Gus Reza.

Sang guru memberi materi dari dalam aula. Suaranya masih jelas terdengar hingga di luar.

Pengeras suara yang dipasang sangat membantu para santri putra dalam menyimak kajian yang disampaikan. Bersumber dari kitab Tibyan Fii Adabi Hamalatil Qur’an,

“Saat Ramadan seperti sekarang ini santri harus katam (menyelesaikan, Red) tiga kitab. Mereka bisa memilih kitab apa yang diambil. Salah satunya yang saya kaji ini,” jelas Gus Reza, ketika ditemui usai pengajian.

Ketika menyimak, para santri terlihat sangat khusyuk. Mencatat beberapa hal penting dengan huruf pegon, huruf Arab-Jawa. Menulis makna ayat di kitab tersebut.

Ponpes ini didirikan oleh KH Imam Yahya Mahrus, ayahanda Gus Reza, pada 1988. Tentu, di awal berdirinya jumlah santrinya tidak sebanyak sekarang. Bahkan, saat itu bisa disebut hanya memiliki segelintir santri.

“Saat itu usia saya baru delapan tahun,” kenang kiai muda kelahiran 1980 itu.

Dulu, cerita Gus Reza, namanya Ponpes Ibnu Rusdi. Kemudian diubah menjadi HM Putra, kependekan dari Haji Mahrus. Hingga menjadi HM Al Mahrusiyah pada 2012.

Tempatnya, awalnya, di sebelah kediaman Kiai Imam di Kelurahan Lirboyo. Santrinya adalah beberapa orang yang mengaji dengan sang kiai. Lambat-laun bertambah. Ponpes pun berkembang.

Termasuk dalam sistem belajar-mengajarnya. Muncul kemudian lembaga pendidikan tambahan, baik formal maupun non-formal. Seperti madrasah diniyah (madin), kelompok bermain (KB), taman kanak-kanak (TK), sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama dan atas (SMP dan SMA), madrasah tsanawiyah dan aliyah (MTs dan MA), bahkan perguruan tinggi.

“Sekarang ada tiga cabangnya. Lirboyo sebagai pusatnya. Ada di Kemuning, masih Kelurahan Lirboyo, ada juga di Ngampel serta di Kandat (Kabupaten Kediri, Red),” urai Gus Reza.

Kini, Al Mahrusiyah tak melulu bergelut di dunia ponpes dengan kajian ilmu agama saja. Itu dibuktikan dengan pendirian tiga prodi di perguruan tingginya yang bersifat ilmu pengetahuan umum.

Yaitu teknik sipil, teknik informatika, dan sistem informasi. Ini sesuai dengan harapan sang ayah yang menekankan bahwa ilmu agama penting sebagai pedoman tapi juga harus dipadu dengan ilmu umum.

Menurut pria yang lulus sarjana strata-1 dari jurusan Syariah dan Hukum Universitas Al Ahgaff Yaman ini, ayahnya memang kuat berprinsip.

Seorang santri, selain menguasai ilmu agama, juga harus paham ilmu umum. Agar tidak ketinggalan dengan perkembangan zaman. Agar bisa bersaing dengan lulusan lembaga pendidikan umum.

“Kombinasi antara wawasan umum dan ilmu agama itu penting. Ilmu agama harus dijadikan dasar. Ilmu umum juga penting agar santri tidak ketinggalan dengan perubahan sosial, realita yang di tengah masyarakat,  serta dinamika kehidupan. Yang kemudian ilmu agama dijadikan ilmu dasar untuk  prinsip mereka berkhidmah pada masyarakat, tujuannya itu,” jelas magister Ilmu Perbandingan Agama dan Lintas Budaya Universitas Gajah Mada ini.

“Jadi, walaupun di sini ditemukan banyak lembaga pendidikan, kami punya prinsip. Apapun unit pendidikannya, seorang santri harus punya pegangan kitab kuning sebagai asupan ilmu agama untuk prinsip mereka,” imbuh doktor Fakultas Syariah dan Hukum  Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya ini.

Gus Reza mengatakan, sepeninggal Kiai Imam pada 2012, dia bersama enam saudaranya meneruskan Al Mahrusiyah sesuai prinsip sang ayahanda. Yakni mengolaborasikan ilmu modern namun tetap berpedoman pada kitab kuning.

Termasuk ketika berdakwah pada para santri maupun orang umum.

“Dan saya menyampaikan di ponpes ataupun lembaga pendidikan yang kebetulan di situ, ada unit pendidikan umum dengan masdrasah diniyah. Saya motivasi pengasuhnya, stakeholder, komponennya, agar tetap istikomah untuk mengkombinasi dua nuansa pendidikan ini jangan sampai hilang. Salah satunya. Akan tetapi agamanya harus diperkuat. Diniyahnya harus diperkuat,” tegas Gus Reza.

Dia juga menekankan pada para jemaah maupun santri, ilmu umu itu harus dikuatkan dengan kitab kuning. Sebagai ilmu pedoman. Agar ilmu dalam menerapkan ilmu umum memiliki pedoman berdasarkan tuntunan rasulullah.

“Karena ini adalah ilmu turun-temurun dari para ulama yang tentunya sumbernya dari Rasulullah. Diberikan pada sahabat, tabiin, para ulama, dan ilmu punya sanad yang sambung sehingga bisa dipertanggungjawabkan, Saya motivasi ponpes ini untuk selalu berpegangan pada kitab kuning,” urainya panjang lebar.

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran  WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.  

 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #Gus Reza #pengajian #ilmu agama #santri #jawapos #Ponpes Al Mahrusiyah #materi #Sang Guru #pengetahuan umum