JP Radar Kediri - Di Desa Kalirong memiliki jajanan khas. Yakni kerupuk lamuk. Kerupuk berbahan dasar singkong ini banyak digemari karena rasanya yang gurih.
Kerupuk lamuk dikenal memiliki aroma khas. “Dari segi rasa, lamuk tadinya memang cenderung kecut.
Tapi setelah diolah, rasanya bisa diterima lidah masyarakat,” terang Fuji Fatma, salah satu pembuat keripik lamuk di Desa Kalirong.
Usaha yang didirikan Fuji ini sudah berjalan belasan tahun. Selama ini untuk proses produksi dia dibantu empat karyawan.
Tak lain warga setempat. Beberapa di antaranya merupakan kalangan anak sekolah. “Ya kerja ini buat sambilan juga. Karena bisa dijual juga sekalian di sekolah,” imbuhnya.
Fuji mengatakan bahwa awalnya memulai usaha ini karena minimnya biaya saat menjalani masa kuliah.
Perempuan berusia 32 tahun ini mengawali dengan membagi-bagikan kerupuk lamuk pada teman-temannya di kampus. Lalu muncul ide untuk memproduksi dan menjualnya di pasaran.
“Saya awalnya ingin teman-teman tahu rasanya dulu. Gimana sih kerupuk lamuk itu,” ucap Fuji.
Kerupuk ini mampu menjadi bahan pangan yang layak dikonsumsi. Produksinya dilakukan setiap hari.
Dengan jangka waktu disesuaikan dengan jumlah permintaan dan pesanan. “Kebetulan setelah tiga tahun ini kerupuk lamuk mulai dikenal. Terlihat dari pemesanan yang bertambah,” ujar Fuji.
Untuk pemasaran, dia menitipkan barang dagangannya melalui warung-warung kopi, hingga toko.
Terkadang juga langsung dijual ke sekolah. Bahkan pemerintah desa ikut serta mempromosikan produk desanya seperti kerupuk lamuk.
Permintaan kerupuk lamuk sendiri datang dari segala usia. Mulai dari anak-anak hingga dewasa. “Banyak yang bilang paling cocok dimakan sama nasi hangat,” tandasnya.
Baca Juga: Pemdes Blawe, Purwoasri, Kediri Dirikan Taman Posyandu, Ini Alasannya
Ini Cara Kepala Desa Kalirong Imam Jamiin Bagi Waktu
Menjadi kepala desa bukanlah perkara mudah. Tak terkecuali bagi Imam Jamiin. Salah satunya dalam mengelola waktu yang ada.
“Menyeimbangkan waktu tidak mudah, tapi tetap harus dicoba. Waktu untuk keluarga, untuk pelayanan warga dan waktu luang yang dimanfaatkan,” terang Imam.
Dia mengatakan bahwa dengan pintar mengelola waktu dapat mempermudah melayani warga. Semenjak menjadi kepala desa, dia membutuhkan waktu untuk beradaptasi.
“Yang tadinya hanya fokus ke bangunan dan proyek setelah keluarga. Sekarang harus punya waktu lagi untuk warga,” imbuhnya.
Laki-laki 55 tahun tersebut terbuka dengan warganya. Termasuk untuk ditemui di luar jam kantor. “Kita bisa ngopi bareng, nge-warung bareng. Sambil ngobrol,” kata Imam.
Pengelolaan waktu yang dia terapkan sangat fleksibel dan kondisional. Saat ini zamannya tidak harus selalu formal. Bisa juga pertemuan secara informal di mana saja.
“Ya intinya saling bekerja sama agar proyek apapun bisa diselesaikan sesuai waktunya,” pungkasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Andhika Attar Anindita