JP Radar Kediri - Mohammad Elham Yahya Luqman alias Gus Elham, masih sangat muda. Lahir pada 8 Juli 2001. Artinya, usianya baru 23 tahun. Dan, belum menikah.
Wajar bila kemudian ada sebagian orang yang memandang sebelah mata langkahnya dalam syiar agama. Omongan miring bernada meremehkan sering terdengar.
Termasuk komentar-komentar nyinyir para netizen di media sosial.
Toh, Gus Elham tak pernah berkecil hati. Juga tak memusingkan komentar orang. Baik yang menyoal gaya dakwahnya atau penampilan dan gaya bicaranya.
“Ya, kembali lagi, sebaik apapun seseorang tetap terlihat jelek di mata orang yang tidak suka sama kita,” kilah alumnus Ponpes Lirboyo ini.
Karena itu, dia berprinsip, selagi ada kesempatan berbuat baik, akan dilakukan. Tak peduli apakah dianggap masih muda.
“Umur itu hanyalah angka. Menjadi baik itu nggak harus menunggu umur tua. Kalau kita lihat Gusti Allah berfirman, maut itu datang kapan saja. Ya kalau menunggu tua kan kita tidak tahu kapan meninggal? Kapan masih diberi nyawa ataupun tidak,” tutur pengasuh Ponpes Al Ikhlas 2 ini.
Bukan soal perkara maut saja. Gus Elham juga menyampaikan pesan Nabi Muhammad.
Bahwa setiap manusia harus bermanfaat bagi orang lain. Dan untuk bisa bermanfaat, tak perlu melihat umur.
“Nggak usah menunggu nanti-nanti, karena (merasa) belum pantas. Yang menunda tidak jadi melakukan kebaikan itu syaitan,” tegas sang kiai muda.
Meskipun demikian, Gus Elham mengaku memang belum memiliki pengalaman apa-apa dalam hal berdakwah ketika mendirikan MT Ibadallah.
Dia hanya berbekal ilmu yang didapatkannya saat menjadi santri Lirboyo. Pondok pesantren besar di Kota Kediri yang juga jadi tempat ayah dan kakeknya menimba ilmu.
“Saya lulus SD langsung dipondokkan di Lirboyo,” kenangnya sembari menyebut pada saat itu sudah memasuki 2011 akhir.
Setelah itu, pada 2023 lalu, Gus Elham pulang. Saat itulah sang abah menitipkan pesan.
“Ham, Nduwu itu masih menjadi sawah. Ya ditempati. Dulu mbah e sampean pernah berpesan, Nduwu itu bakale ramai. Tapi entah kapan ramainya, namanya dawuh (wasiat, Red) itu harus diusahakan,” ceritanya.
Nduwu adalah sebutan daerah di mana Gus Elham tinggal. Semacam dukuhan di Desa Kaliboto. Dulu, hanya ada bangunan masjid.
Lalu ada satu kamar di sebelah utara masjid. Tempat di mana Gus Elham tidur.
“Dari dawuh kiai Mudhofir saya bersemangat. Akhirnya tiga bulan saya tinggal, saya pondasi pondok. Lalu rumah, lalu aula untuk pengajian, lalu dan lain-lain,” lanjutnya.
Awal pulang dari pondok, Gus Elham mulanya belum tahu cara meramaikan Nduwu.
Dia hanya berusaha menghidupkan secara perlahan. Dan cara yang diambilnya dengan mengaji.
“Metode saya mengaji ya seperti itu tadi, ngaji, ada guyonnya, ada salawatnya, ada tanya jawab. Jangan sampai kita mengaji terlalu kenceng yang akhirnya semua mengantuk dan kedepannya trauma untuk datang lagi,” kilahnya.
Melihat semua ceritanya, itulah berbagai alasan kenapa Gus Elham tetap bersyiar agama dengan “caranya”.
Dia ingin mengajak semua orang berbuat kebaikan. Setidaknya, dia bisa membuat seseorang meninggalkan aktivitas maksiatnya saat pengajian MT Ibadallah berlangsung.
“Riwayat saya cuman anak santri yang dipeseni oleh guru-guru, muleh ojo lali ngedep dampar (pulang jangan lupa menghadap dampar-meja panjang kecil untuk mengaji-,Red). Artinya jangan lupa mengajar, siapa aja yang diajar ditelateni,” tegasnya.
Eits, cerita Gus Elham belum berakhir. Usianya yang masih muda juga membuat orang-orang bertanya apakah Gus Elham sudah menikah atau belum.
Baca Juga: Punya Banyak Jemaah, Gus Kautsar Sebut Itu Warisan para Pendiri Ponpes Al Falah Ploso
Pasalnya, mungkin ada sebagian orang yang beranggapan bahwa dakwah yang disampaikan terasa kurang mantap bila itu disampaikan oleh orang yang belum menikah.
Untungnya, Gus Elham yang terlebih dulu menyinggung terkait hal tersebut.
“Kalau saya menikah sesuai prinsip. Prinsip itu kan suatu saat nanti bisa diubah, kalau janji harus ditepati. Kalau saya sendiri mikirnya kalau pondoknya belum jadi, sulit bagi saya untuk menikah. Kalau keinginan saya 80 persen sudah terealisasi, saya menikah,” tandasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah