KEDIRI, JP Radar Kediri- Kediaman Mohammad Elham Yahya Luqman relatif jauh dari keramaian. Dari jalur utama Kediri-Nganjuk masih harus ke arah utara, menuju Desa Kalirong di Kecamatan Tarokan.
Setelah sampai perempatan, di dekat tempat pemakaman umum (TPU) Kalirong, berbelok ke kiri menuju Desa Kaliboto. Kemudian, ketika bertemu pertigaan belok ke kanan. Hingga mentok sebelum persawahan.
Kediaman pemuda yang biasa disapa Gus Elham ini memang berada di tepi sawah. Jauh dari hunian lain. Di lahan yang luas itulah kompleks Pondok Pesantren Al Ikhlas 2 berada.
Belum banyak bangunan yang berdiri. Hanya rumah induk, bangunan yang masih terus dalam proses pengerjaan, dan musala saja.
Di dekat musala itu ada makam tokoh agama yang juga jadi jujukan berziarah. Yaitu makam KH Mudhofir Ilyas, pendiri Pondok Al Ikhlas Kaliboto.
Gus Elham merupakan cucu dari KH Mudhofir. Putera dari KH Luqman Arifin Dhofir, pengasuh Ponpes Al Ikhlas saat ini.
Usianya juga sangat muda, 23 tahun. Namun, sudah mengasuh pengajian yang memiliki jemaah yang jumlahnya ribuan.
“Bangunan itu untuk santri yang mukim,” tunjuk Gus Elham ke arah bangunan di sebelah rumah induk.
Nama Gus Elham mulai banyak dikenal luas sejak mendirikan Majelis Taklim Ibadallah pada September 2023. Kini jemaahnya sudah ribuan.
Karena kompleks Ponpes Al Ikhlas 2 belum sepenuhnya tuntas, pengajian juga menempati lahan seadanya. Di serambi musala dengan jemaah duduk di halaman. Lesehan beralas terpal.
Bagi yang kebagian duduk di tempat yang jauh, ada layar untuk menampilkan Gus Elham ketika mengaji. Ada dua layar yang disiapkan.
Yang menarik, terbentuknya majelis taklim ini dari ketidaksengajaan. Saat itu Gus Elham tengah mengisi bahan bakar di SPBU yang ada di Kecamatan Banyakan. Tiba-tiba dia didatangi seorang pemuda.
Kondisi pemuda itu juga tidak baik-baik saja, alias tengah di bawah pengaruh minuman keras.
Namun, bukannya mengganggu pemuda itu justru meminta Gus Elham menuntun menjadi orang yang lebih baik.
“Ya itu awalnya Majelis Taklim Ibadallah. Akhirnya dia saya tuntun belajar iqra’, alif, ba, ta, dan lain-lain. Dia saya peseni sesok kalau ada yang ingin ikut diajak nggak apa-apa,” kenang Gus Elham, sambil lesehan di teras rumah induk, bersama para tamu yang masih ingin bersilaturahmi malam hari itu.
Setelah itu semakin hari jumlah yang datang mengaji semakin banyak. Hingga berjumlah 30 orang.
Menariknya, semua datang dari golongan ‘abangan’. Yang memiliki kebiasaan minum minuman keras.
Jemaah ngaji itu pula yang meminta Gus Elham membuat pengajian rutin.
“Intinya, ngaji, ngopi, selow, santai, guyon, dan lain-lain. Usulan itu akhirnya saya terima,” lanjut pria yang masih membujang ini.
Meskipun mau mengaji, awalnya sebagian besar jemaah itu masih suka mabuk-mabukan. Bahkan, mereka melakukan itu ketika hendak berangkat ke majelis taklim yang berlangsung Kamis malam Jumat itu.
Ketika ditanya alasannya, mereka mengaku agar lebih pede bila berkumpul dengan jemaah lain.
Sikap nyeleneh itu tak serta-merta dilarang oleh Gus Elham.
“Saya beri syarat, nggak papa mendem, ora apa-apa ngombe. Namun, saya membolehkan mereka minum-minum seperti itu bukan karena menghalalkan. Tapi taktik supaya mereka bisa nyaman dengan ngaji. Supaya saya bisa pelan-pelan membersihkan dari minum minuman seperti itu. Jadi, supaya nyaman dulu. Kalau sudah nyaman akan manut dengan saya,” tegasnya.
Nyatanya, satu per satu jemaahnya mulai lepas dari ketergantungan dengan miras.
Meskipun, masih ada beberapa yang belum bisa mentas total hingga sekarang. Namun jauh berkurang dibanding sebelumnya.
Dari itulah dia terinspirasi menamai majelis taklimnya dengan Ibadallah.
“Saya beri nama Ibadallah yang berarti hamba Allah. Artinya apa, tujuannya apa, senakal-nakal mereka, ketika mau berangkat ngaji itu pasti yang disebut nama Ibadallah. Otomatis secara tidak langsung mereka mengucap nama Allah,” jelasnya.
Dari situlah mulai banyak yang penasaran dengan sosok Gus Elham. Hingga akhirnya, jemaah dari kalangan masyarakat biasa mulai mengikuti pengajian rutinan tersebut.
Semua tidak lepas dari informasi yang disampaikan dari mulut ke mulut. Lalu, jemaahnya mulai bertambah hingga berjumlah ratusan orang.
“Dua bulan sudah nambah 200 orang. Akhirnya lima bulan tambah lagi menjadi 500 orang. Lalu dari tim kami memberi usulan kalau dibuatkan media sosial bagaimana? Akhirnya bertambah-tambah terus sampai sekarang ini,” ceritanya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah