Kabupaten JP Radar Kediri - Gudang itu sederhana. Berada di bagian belakang rumah. Dindingnya terkesan belum selesai.
Tekstur bata merah yang menyusunnya masih terlihat. Langsung dilapisi cat warna putih tanpa plester terlebih dulu. Mirip model bangunan kekinian yang biasa disebut bata ekspose.
Dua orang, lelaki dan perempuan, berada di dalam gudang. Di sela-sela peralatan yang boleh disebut sudah jadul, sudah kuno.
Ada wajan, nampan, ember, gayung, gelas ukur, serta entong-sendok besar yang biasa untuk mengambil nasi-.
“Setiap hari kami berdua aktivitasnya ya di sini,” ucap yang wanita.
Pasangan itu adalah suami istri Guncono dan Sri Wahyuni. Keduanya bergelut dalam pembuatan gula merah olahan.
Yang salah satu varian terlarisnya adalah gula semut. Gula merah dari bahan nira yang berbentuk kristal kecil.
Bila ditumpuk mirip sarang semut di permukaan tanah.
“Karena itu disebut gula semut,” lanjut warga Desa Nambaan, Kecamatan Ngasem ini.
Sementara, yang pria-Guncono-berada di depan tungku besar berbahan bakar kayu.
Mengaduk adonan gula merah di dalam wajan jumbo. Yang diameternya satu meter lebih.
“Sejak pagi bapak memasak adonan gula itu. Siangnya saya ayak. Kemudian dijemur,” lanjut wanita yang mengenakan daster tersebut.
Ketika bercerita, Sri menunjuk bagian luar gudang yang mirip teras rumah. Hanya berdinding di satu sisi.
Tapi atasnya sudah diberi atap galvalum sebagai peneduh. Di tempat ini terdapat meja bedak untuk menjemur ayakan gula merah.
Sudah sebelas tahun pasutri ini menggeluti usaha olahan gula kelapa seperti itu, sejak 2014. Membuat mereka memiliki pengalaman segudang.
“Awalnya ketika suami saya melihat banyak gula merah yang tidak lolos sortir (seleksi, Red) ketika dikirim ke pabri kecap,” kenang Sri. Dulu, Guncono memang bekerja sebagai pemasok gula merah di perusahaan kecap besar di Kediri.
Jumlah gula sortiran itu sangat banyak. Guncono pun berfikir mengolahnya kembali. Dengan ukuran yang lebih kecil dan bentuk bervariasi.
Saat itu jumlah pelanggannya masih sedikit. Hanya satu dua orang saja. Tapi, mereka bertekad tetap melanjutkan. Karena memiliki feeling bahwa usaha tersebut bakal berjalan lancar.
“Benar saja, saya akhirnya bisa mendapat penghasilan hingga ratusan juta rupiah. Itu masih pendapatan kotor,” jelas Sri, yang duduk di kursi di dalam gudang.
Bajunya basah oleh keringat. Menyanding teko berisi air putih yang siap diminum untuk menghilangkan dahaga.
Handphone-nya tergeletak di dekatnya, yang siap diangkat bila sewaktu-waktu bel berdering dari pelanggan.
Raut muka Sri dan suami terlihat sangat lelah. Peralatan yang sederhana, serta tenaga yang sudah menua benar-benar membuat mereka harus bekerja keras.
Berupaya memenuhi jumlah pesanan yang diterima.
“Peralatan yang kami gunakan masih tradisional. Tenaga yang mengerjakan juga manusia lanjut usia. Jadi semua dikerjakan sesuai kemampuan saja,” akunya, diiringi dengan cerita yang berisi harapan bisa mendapat bantuan peralatan yang memadai.
Meskipun demikian, Sri dan suami tak akan menyerah. Justru, daya juang tinggi itu yang mengantar mereka seperti sekarang ini.
Termasuk bisa menembus pasar di luar negeri. Ya, produk olahan gula merah buatan mereka dijual hingga ke Malaysia, Jepang, dan Australia.
“Kirimnya (ke luar negeri) dulu sebulan sekali. Paling banyak ke Malaysia, satu ton. Sedangkan kalau ke Jepang hanya 2,5 kilogram. Ke Australia 25 kilogram,” urai Sri.
Sri tidak mengirim sendiri produksinya ke luar negeri. Tapi, ada eksportir di Surabaya yang melakukan. Dia hanya mengirim ke eksportir tersebut.
Keberhasilan pasutri ini menembus pasar internasional tak lepas dari ketekunan dan ketelatenan mereka.
Mempelajari berbagai jenis olahan dan pemasaran. Hingga menemukan bentuk-bentuk gula merah yang diminati. Mulai bentuk koin, bumbung, hingga batang.
“Bentuk batang jadi yang paling banyak diminati setelah gula semut,” terangnya.
Kalau pasar dalam negeri, juga bisa ke luar pulau, Papua. Selain di Kediri dan sekitarnya.
Hasil dari usahanya ini mereka bisa menyekolahkan anak semata wayangnya hingga lulus kuliah. Dan, kini bekerja di Jakarta.
Praktis, Guncono dan Sri hanya tinggal berdua di rumah. Meskipun demikian, mereka tak merasa kesepian.
Kesehariannya dihiasi dengan kegiatan produksi. Sibuk memasak dan menjemur gula semut.
“Saat musim kemarau tinggal dibiarkan di bawa terik matahari sudah kering. Sebaliknya, musim hujan seperti ini yang susah. Kami harus menggunakan bantuan alat pengering,” ucapnya memungkasi cerita.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah