Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kisah Putra, Bocah Asal Kediri yang Ketika Sekolah Selalu Dirundung Kini Pilih Jadi Pemulung

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Rabu, 19 Februari 2025 | 16:18 WIB
Putra memungut botol plastik bekas demi membantu ekonomi keluarga.
Putra memungut botol plastik bekas demi membantu ekonomi keluarga.

JP Radar Kediri - Jarum jam sudah menunjukkan pukul 17.00. Langit pun sudah mulai menggelap. Waktu surup, kata orang Jawa. Saatnya semua orang berada di rumah sebelum malam menjelang.

Tapi, keluarga yang tinggal di Dusun Ringinrejo, Desa Tirulor, Kecamatan Gurah ini terlihat tak tenang. Ada satu anggota keluarga yang belum berada di rumah. Masih berada di luaran, entah di mana.

“Berangkat jam enam pagi tadi. Pulang biasanya jam empat sore. Atau kadang juga maghrib,” ucap Siti Khoiriyah.

Wanita ini adalah ibu dari anak yang belum juga pulang tersebut. Si anak, Setya Putra, memang tak biasanya belum tiba di rumah seperti saat itu.

“Tak golekane. Biasane wis mulih tapi iki kok durung (Saya cari saja. Biasanya sudah pulang tapi ini kok belum, Red),” sahut suami Siti Khoiriyah, Hariyanto.

Bergegas pria 42 tahun itu  keluar, mencari anaknya. Ke mana sang anak? Ternyata, dia belum pulang setelah seharian mencari barang bekas alias rosok.

Ya, Setya Putra sehari-hari menjadi pemulung. Tidak lagi sekolah, meskipun usianya itu seharusnya masih harus mengenyam ilmu.

Mengapa Putra enggan sekolah dan memilih jadi pemulung? Siti bercerita, mencoba kembali ke masa belasan tahun silam.

Ketika anak sulungnya itu duduk di bangku taman kanak-kanak (TK). Entah karena fisiknya yang memang kecil atau datang dari keluarga kurang mampu, Putra selalu jadi sasaran perundungan.

“Sepatunya, buku sama tasnya sering dibuang. Dilempar sama temannya,” kenang Siti, mengisahkan perlakuan yang diterima anaknya saat itu.

Sebenarnya, seringnya Putra hanya diam. Menahan diri. Entah, mungkin karena sudah tak kuat menahan beban perasaan, suatu kali dia emosi. Melawan dan memukul si perundung.

“Gara-gara itu kepala temannya itu berdarah. Jadi harus ganti Rp 2 juta,” aku Siti.

Baca Juga: Beginilah Kehidupan Wanita Lansia Asal Kediri Ini, Ingin Hidup Mandiri meski Renta dan Hidup Seorang Diri

Tak lama setelah cerita Siti, ada suara berderit yang terdengar mendekat. Disertai gemeretak dari sepeda tua merek Poligon yang sudah kendor baut-bautnya.

Pengayuh sepeda warna hitam itu adalah Putra yang bersepatu boot dan celana jeans robek di sana-sini.

Begitu mendekat, wajah dekilnya terlihat. Rautnya lelah. Tapi sorot mata dan ekspresinya memancarkan semangat hidup yang membara.

Ekspresi semringah dia tampakkan. Penyebabnya, keberhasilannya mengumpulkan banyak barang bekas.

Sesaat sebelum duduk, dia menyodorkan susu yang dia beli. Untuk dua adiknya, Nur Asifa dan Ahmad Faisal.

Belum hilang lelahnya, dia kemudian bercerita mirip seperti yang dikisahkan sang ibu.

Mengaku tak ingin melanjutkan sekolah karena rasa trauma pada perundungan yang dia terima.

“Trauma di-bully terus,” akunya. Wajahnya tertunduk ketika mengenang masa-masa itu.

Putra sendiri bukan ‘orang baru’ dalam soal mencari barang rongsokan. Dia sudah jadi pemuluh sejak usia tujuh tahun!

Awalnya karena sering diajak sang ayah bekerja serabutan. Melihatnya dari kejauhan atau membantu yang ringan-ringan.

Sang ayah, kondisi fisiknya juga tak sempurna. Ada benjolan di punggung. Membuatnya selalu membungkuk. Membuatnya tak maksimal dalam bekerja. Terutama yang butuh tenaga besar.

“Awalnya pas masih bayi dulu ditabrak pesepeda. Saat usia 23 tahun juga pernah jatuh dari truk saat ikut tebang tebu. Jadi ya kerjanya seperti ini (tidak bisa maksimal),” terang Hariyanto.

Kondisi sang ayah yang seperti itu menambah keengganan Putra bersekolah. Memilih membantu keluarga dengan menjadi pemulung.

Selain ingin membantu orang tua, dia juga tidak ingin adik-adiknya mengalami kejadian seperti dirinya.

Dia ingin adiknya yang berumur 10 tahun dan 4,5 tahun bisa sekolah. Bisa lebih pintar darinya.

“Biar aku saja yang kerja, adik-adik sekolah saja,” ucap sang bocah.

Di mana dia mencari barang bekas? Putra mengatakan dia selalu berkeliling Kediri. Tapi paling sering adalah area Simpang Lima Gumul (SLG).

Karena di tempat ini banyak pengunjung dan sering ada acara besar. Barang rongsokan pun melimpah.

Pernah karena ada acara di SLG, dia pun tidak bisa pulang. Karena sepedanya yang mengangkut banyak rongsokan terhalang kerumunan massa.

“Iku sampek dadi golek-golek an (itu sampai dicari-cari, Red). Karena jam lima subuh baru pulang. Sampai saya cari-cari ke SLG. Saya minta diumumkan di panggung juga gak ketemu,” cerita Hariyanto.

Putra tidak pernah malu dengan kondisinya itu. Hal itu rela dia lakukan demi keluarga dan adik-adiknya.

“Yang penting gak mencuri,” akunya, sembari malu-malu, menunduk.

Berkat keuletannya itu, tidak jarang Putra mendapatkan bantuan orang. Seperti  Marga Cistha, yang juga guru Nur Asifa, adiknya, di SD Negeri Tirulor 2.

“Dia bantu orang tua dari kecil. Putra tidak sekolah. Tapi dia anak yang baik,” terang Marga secara terpisah. 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran  WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.   

 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#dibully #radar kediri #pemulung cilik #pemulung #putus sekolah #jawa pos #membantu ekonomi