JP Radar Kediri - “Prioritas utama memang untuk melayani masyarakat.” Kalimat ini keluar dari ucapan dr Anggi-panggilan akrab Direktur Indonesia Healthcare Corporation Rumah Sakit (IHC RS) Toeloengredjo ketika menyinggung soal tesis S2-nya yang tertunda.
Ya, waktu itu Indonesia tengah masuk dalam masa pandemi Covid-19. Dia, yang kala itu menjadi wakil direktur pelayanan medis RS Gatoel Mojokerto ditunjuk menjadi ketua tim penanganan Covid-9 di rumah sakit tersebut.
Padahal, dia juga pada fase pengerjaan tugas akhir program magister. Sejak awal tahun, 2020, dr Anggi baru menyelesaikan ujian proposal tesis. Yang harus berlanjut ke penelitian.
Keputusan berat pun terpaksa dia ambil. Menunda tesis dan fokus melayani masyarakat.
Apalagi Covid 19 saat itu adalah penyakit baru. Sehingga dia harus mempelajarinya dari awal. Agar bisa menentukan langkah penanganan.
“Termasuk untuk mempertimbangkan pelayanannya seperti apa. Sehingga harus fokus,” kenang perempuan berkacamata ini.
Sambil menceritakan pengalamannya, sesekali sang dokter melihat layar gawainya.
Bukan tidak menghargai lawan bicara, melainkan dia harus nyambi mengikuti online meeting.
Sejurus kemudian, dr Anggi kembali pada kisahnya saat itu.
Yang merelakan menunda penyelesaian tesis. Fokus pada pelayanan pada masyarakat.
“Harus megutamakan kepentingan masyarakat daripada kepentingan individu,” tekannya lagi.
Menangani Covid-19 menjadi pengalaman yang berat. Jumlah pasien yang masuk rumah sakit sangat banyak. Sampai membuat kewalahan. Akibatnya banyak tenaga kesehatan yang juga tumbang karena penyakit ini.
Baca Juga: Inilah Sosok Florensi Lilik dan Kisahnya Mengajar Ecocraft dari Susteran hingga Kepulauan Mentawai
“Termasuk saya juga sempat kena saat yang varian omicron,” kenangnya.
Barulah setelah situasi sudah aman dia melanjutkan pengerjaan tesisnya.
“Harusnya pada Juli 2020 itu selesai. Tapi karena fokus penanganan pandemi, jadi molor pada tahun berikutnya. Jadi nambah satu semester,” ucap perempuan yang saat ini berdomisili di Kecamatan Gedeg, Mojokerto ini.
Kini, dia menjadi direktur IHC RS Toeloengredjo Pare. Posisi yang tidak dia raih secara instan.
Dan memulai semua dari nol. Diawali ketika duduk di bangku SMA Negeri I Ponorogo.
Setelah tekatnya dibulatkan oleh orang tua, dia memutuskan menjadi dokter.
“Untuk daftar agar bisa diterima ikut bimbingan intensif. Saya pilih lokasi yang dekat dengan Unair (Universitas Airlangga, Red). Setiap pagi saat jalan lewat depanya itu sambal berdoa, semoga diterima, semoga diterima,” ujarnya mengingat peristiwa bertahun-tahun silam.
Ketika lulus dari Unair, dia mengawali karirnya dengan bekerja di beberpaa klinik di Surabaya. Setelah setahun, Anggi ditawari menjadi dokter jaga malam di RS Gatoel.
Dari sanalah karirnya terus bergerak. Sejak 2006 hingga 2014, Anggi menjadi dokter jaga di IGD dan Poli Umum RS Gatoel.
Berikutnya dia menjadi Hospital Liaison Officer (HLO) BPJS RS Gatoel hingga 2016. Sekaligus merangkap sebagai kepala Subdivisi Poli Umum dan Spesialis RS Gatoel
Tahun berikutnya dia menjadi kepala Divisi Penunjang Medis RS Gatoel.
Kemudian pada 2018 hingga 2022, naik jabatan menjadi wakil Direktur Pelayanan Medis RS Gatoel.
Tahun berikutnya Anggi kembali naik jabatan menjadi VP Strategic Operation PT Nusantara Medika Utama pada 2023 – 2024.
“Mulai masuk di IHC RS Toelongredjo ini sejak 1 Februari ini hingga sekarang,” akunya.
Ke depan, untuk melayani masyarakat, Anggi akan terus melakukan inovasi. Agar pelayanan kepada masyarakat bisa lebih baik.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah