JP Radar Kediri - LELAKI berbaju salur, yang dominan warna abu-abu, duduk di saung yang berada tepat di tengah lahan yang penuh pepohonan besar.
Pohon pule ukuran besar yang mendominasi. Mengelilingi gubuk kecil beratap terpal yang senada dengan warna bajunya itu.
Mata pria berusia sekitar 60 tahun itu mengawasi dua pekerjanya yang sedang beraktivitas.
Membersihkan tanah dari ranting pohon yang patah. Kemudian memindahkan bibit tanaman hias dari bak pikap ke tempat penanaman sementara.
“Ini sedang ngecek tanaman. Menyortir pohon yang akan dikirim,” terang pria yang saat itu mengenakan topi dengan logo Chanel itu.
Lelaki ini adalah Parman. Biasa dipanggil Pak Man. Seorang petani tanaman hias yang berdomisili di Desa Bedug, Kecamatan Ngadiluwih.
Desa tempat tinggal Pak Man selama ini identik dengan tanaman hias berukuran raksasa.
Di antaranya pohon pule. Nah, pohon itu pula yang banyak ditanam oleh dia. Kemudian memperjual-belikan.
Sebagai petani tanaman hias, Pak Man bukanlah orang kemarin sore. Hampir seperempat abad dia lewati di bisnis itu. Tepatnya ketika dia berusia 35 tahun.
“Dulu di sini belum banyak petani tanaman hias. Belum seperti sekarang,” kenangnya.
Sambil tetap duduk di saung. Beralaskan tumpukan sak atau karung bekas. Di dekatnya juga ada botol wadah air minum dalam kemasan (AMDK).
Raut mukanya terlihat Lelah. Keringat juga belum sepenuhnya kering. Tanda aktivitas berat yang baru saja dia lakukan.
Dan, memang, seperti itulah kesehariannya sebagai petani tanaman hias.
“Khusus penyiraman saat ini tidak rutin. Setiap hari sudah hujan. Sehingga kebutuhan air sangat tercukupi,” akunya, menyela cerita dengan kegiatan rutin yang dia lakukan sehari-hari.
Parman kemudian kembali ke masa awal 2000-an. Ketika mulai menggeluti pekerjaan ini.
Selain belum banyak memiliki saingan, ragam tanaman hias yang dia tanam juga sedikit. Hanya beberapa jenis tanaman bunga bougenvil.
Semangatnya yang tinggi dan sikap pantang menyerah mampu mengantarkannya di posisi seperti sekarang ini.
Semua dilakukan seiring harapan dan mimpinya menjadi petani tanaman hias berskala besar. Dia pun dengan tekun mempelajari berbagai jenis tanaman.
Juga soal pemasarannya. Agar memikat banyak pembeli serta terus diminati pelanggan.
Dari situlah dia kemudian merambah ke tanaman pohon berukuran besar. Terutama pohon pule. Sebab, apapun yang diminta pelanggan selalu dia turuti.
Kini, Parman memiliki lahan seluas 300 ru. Satu ru setara dengan 14 meter persegi. Bila dikonversikan ke ukuran meter, tanah yang dia gunakan untuk bisnis ini adalah 4.200 meter perseg.
Di lahannya itu, mayoritas yang ditanam adalah pohon pule. Karena pohon ini yang paling banyak peminatnya.
Bahkan, Parman adalah salah satu petani yang mengirimkan tanaman pohon pulenya ke Ibu Kota Nusantara (IKN), di Kalimantan Timur.
“Selama ini rutin setiap bulan saya kirim ke sana (IKN, Red) sesuai permintaan,” aku sang petani.
Bahkan, sebulan dia bisa mengirim dua kali. Masing-masing satu hingga dua truk besar. Dengan nilai yang mencapai Rp 100 juta per pengiriman.
“Kalau dua kali kirim berarti satu bulan omzet ke sana Rp 200 juta,” aku pria yang mampu menguliahkan tiga anaknya dari hasil bertani tanaman hias ini.
Satu truk besar itu isinya juga beragam. Bergantung jenis pohon pule yang diangkut.
Bila jenis fosil, yang ukurannya memang raksasa, hanya cukup satu pohon saja. Sementara bila jenis pule air bisa terisi hingga 30 pohon.
Soal jenis pule yang paling banyak diminati saat ini, Pak Man menyebut pule fosil. Harganya juga tak main-main. Bila berukuran besar kisaran harganya antara Rp 100 juta hingga Rp 200 juta!
Pasar Pak Man untuk menjual tanaman hiasnya tak hanya ke IKN. Dia juga memiliki pelanggan lain yang tersebar di beberapa kota.
Salah satunya di Surabaya. Konsumennya yang ini setiap kali pesan bisa senilai hingga Rp 50 juta.
“Tapi tak hanya pule. Juga kamboja dan flamboyant. Pulenya pun ukurannya kecil,” terangnya.
Musim penghujan seperti ini omzet penjualannya boleh dikatakan meningkat. Dalam sebulan bisa mencapai empat truk.
Satu kondisi yang benar-benar dia syukuri. Di tengah kelesuan ekonomi seperti sekarang ini dia tetap bisa menjalankan bisnisnya. Yang dia Jalani dengan segala dinamikanya. Dengan segala pasang surutnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah