JP Radar Kediri - Jari-jemari Suster Yosefina bergerak pelan. Merangkai satu per satu kepingan plastik bekas kemasan kopi instan. Menggunakan jarum dan benang, keping-keping plastik itu berusaha disatukan.
“Ini lalu ke mana?” tanya wanita yang mengenakan mantila-kerudung biarawati-itu sedikit bingung.
Wanita berkaus merah yang berdiri di dekatnya membungkuk. Mengambil jarum dan benang yang sebelumnya dipegang Yosefina.
Menunjukkan langkah yang harus dilakukan. Sekaligus menjelaskan caranya.
Wanita ini adalah salah satu suster di Susteran Puteri Kasih Kediri. Beberapa hai terakhir tengah belajar membuat kerajinan berbahan daur ulang sampah. Atau, istilahnya, ecocraft.
Dia juga baru tiba di Indonesia, berlibur. Sebab, sudah 35 tahun dia bertugas di Portugal. Wajar bila bahasa Indonesianya terasa kaku.
“Bisa bahasa Indonesia. Tapi karena lama jadi sedikit lupa,” dalih wanita 59 tahun ini.
Liburan sang suster ini lumayan lama. Sekitar enam bulan. Dan, selama itu pula dia akan belajar ecocraft.
Langsung di bawah pengajaran Florensia Lilik. Wanita yang berkaus merah yang dengan telaten mengarahkannya.
Florensia Lilik boleh disebut ahlinya ecocraft. Menjadi pengajar keterampilan ini. Tidak hanya di Susteran Puteri Kasih. Juga mengajar untuk masyarakat umum.
Aktivitas mendaur ulang sampah plastik menjadi berbagai produk pakai itu sudah menjadi rutinitas di Susteran Puteri Kasih sejak 2006, ketika susteran berada di Jalan Brawijaya Kota Kediri.
Sekarang susteran ini pindah ke Pusat Pelatihan Keterampilan Griya Luisa, di Jalan Achmad Yani, Gurah, Kabupaten Kediri.
“Tapi saya mulai sering mengajar pada 2012,” kata perempuan yang akrab disapa Lilik ini.
Kegiatan sosial dengan menyebarluaskan edukasi tentang ecocraft itu menjadi salah satu karya dan bakti dari Susteran Puteri Kasih.
Karena itu, pengajaran pun banyak menyasar masyarakat umum. Pelajar hingga perempuan ibu rumah tangga.
“Awalnya waktu marak isu global warming. Itu kan juga jadi keprihatinan bagi suster. Lalu apa sih yang bisa kami perbuat? Akhirnya mulai sosialisasi. Dan suster kan punya sekolah ya. Jadi dari sekolahan dulu, wali murid dikumpulkan untuk diberitahu bahayanya sampah plastic. Jangan dibuang tapi dikumpulkan,” beber Lilik, bercerita awal mula layanan pelatihan ecocraft di kongregasi puteri-puteri Gereja Katolik itu.
Hasilnya, tak hanya membuat orang paham dengan daur ulang. Tapi, juga mencetak perajin yang memiliki merek produk ecocraft buatan mereka.
“Ada dua orang yang sudah eksis. Bisa jadi trainer juga seperti yang dari Blitar,” sambungnya, sambil menunjukkan beberapa karya di etalase. Produk warga Blitar itu.
Sambil bercerita, tangan Lilik tetap menuntun Suster Yosefina merangkai keping plastik dengan benang dan jarum. Menjadi dompet kecil wadah uang koin.
Untuk membuat satu karya dompet kecil dari anyaman keping-keping plastik itu saja relatif rumit. Bagi pemula, butuh waktu sekitar tiga jam.
Itu dari melipat setiap plastik menjadi keping-keping siap anyam. Kemudian menjahit untuk merangkaikan satu per satu, hingga memasang pelengkap seperti resleting dan rantai gantungan.
“Dan satu dompet ini butuh 36 bungkus saset kopi,” bebernya, sambil menunjukkan dompet koin kecil berukuran 5 x 10 centimeter.
Lilik melanjutkan ceritanya. Mengulang kenangan ketika mengajar ecocraft hingga Kepulauan Mentawai.
Usai tempat tersebut diterjang tsunami pada 2010. Saat itu dia tergabung dalam rombongan relawan untuk memulihkan trauma para korban.
“Di sana memberi pelatihan, tapi hanya anyam-anyaman saja. Karena nggak mungkin bawa mesin jahit atau apa. Jadi ya bikin-bikin dompet dan sebagainya,” kenang perempuan asal Magetan itu.
Pengalaman itu menjadi penugasan terjauhnya selama ini. Saat itu, dia sempat merasa waswas. Apalagi lokasinya terpencil. Yang harus ditempuh dengan kapal selama berjam-jam.
“Naik kapal dari Padang itu sehari. Tapi ya seru sekali,” ujarnya mengingat-ingat pengabdiannya selama seminggu itu.
Ketika itu, masih kerap terjadi gempa susulan. Membuat dia dan relawan lain harus berlarian, bersama warga, menuju bukit untuk menyelamatkan diri.
“Sampai lari-lari ke bukit. Tapi ya campur aduk perasaannya antara takut tapi seru. Karena di sana bagus sekali pemandangannya. Airnya berwarna toska, ikan-ikannya juga kelihatan dari pantai,” kenang perempuan kelahiran 1986. Tawa kecil keluar saat dia bercerita.
Pengabdian di jalur pelestarian lingkungan itu hingga saat ini terus dia tekuni. Tidak hanya di lingkup susteran saja.
Melainkan juga ke masyarakat umum. Demi menyebarluaskan rasa kepedulian padas lingkungan hidup melalui aktivitas daur ulang sampah.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah