KEDIRI, JP Radar Kediri- Ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU) Rumah Sakit Bhayangkara Kediri terasa lain dari biasanya. Beberapa orang berkumpul.
Termasuk Kepala Rumah Sakit (Karumkit) Kombes Pol drg Agung Hadi Wijanarko Sp BM.
Beberapa staf rumah sakit milik Kepolisian Republik Indonesia (Polri) itu juga bergerombol. Sebagian dengan mata berkaca-kaca.
“Sehat nak ya, semoga jadi anak saleh,” ucap Karumkit Agung.
Ucapan Agung tersebut ditujukan pada sosok bayi berusia sekitar 44 hari yang ada di gendongannya.
Balita bernama Muhammad Daffa tersebut hari itu menjalani momen penting. Diserahkan ke negara alias menjadi anak negara.
Sebab, hingga kemarin tidak ada satu keluarga pun yang mengakui sebagai orang tua maupun kerabat.
“Pagi ini (kemarin) bayi akan langsung diserahkan ke Pusat Pelayanan Sosial Anak Balita (PPSAB) Sidoarjo. Agar mendapatkan perawatan lebih lanjut,” terang Plt Kepala Dinas Sosial Kabupaten Kediri Ariyanto, yang kemarin diwakili oleh Kabid Rehabilitasi Sosial Sri Pancawati.
Proses penyerahan bayi berlangsung sederhana. Awalnya, secara simbolik, Kanitreskrim Polsek Ngancar Aiptu Pujianto-tempat bayi itu ditemukan-menyerahkan ke Karumkit Agung.
Seharusnya, setelah itu karumkit menyerahkan lagi ke dinsos. Namun, karena ada keperluan, sementara proses administrasi bayi belum tuntas, penyerahan kepada dinsos dilakukan bagian humas.
Toh, kesederhanaan acara serah terima tak mengurangi keharuan yang menyelimuti suasana di ruang NICU itu. Apalagi, beberapa kali bayi tersebut mengeluarkan suara tangis.
“Baa...baa...habis ini ikut jalan-jalan ya...,” hibur Azizah Kusuma Wardani, pengawas Perempuan dan Anak Dinsos Kabupaten Kediri, berusaha menenangkan bayi seberat 3,6 kilogram itu ketika menangis.
Baca Juga: Garap Tas Plastik Sepulang Tanam Jagung, Begini Kesibukan Kumpulan Ibu-Ibu di Kayenkidul Kediri
Memang, sembari menunggu proses administrasi tuntas, Daffa kembali diletakkan di tempat tidur. Saat itulah si bayi kembali menangis. Baru tenang setelah dikudang.
“Bayi ini memang butuh sosok orang tua. Butuh kasih sayang. Jadi, ketika digendong, diajak main seperti itu bisa tenang,” terang Humas RS Bhayangkara Weti Lusiana.
Weti bercerita, setiap malam Daffa hampir selalu menangis. Baru tenang setelah digendong. Dan, wanita ini yang juga sering melakukannya.
“Meskipun saya ngetik pun tetap saya gendong,” akunya.
Bayi telantar yang pertama kali ditemukan bakul jenang di Desa Jagul, Kecamatan Ngancar ini setiap hari dirawat empat orang.
Tiga perawat dan satu kepala ruang NICU. Mereka berjaga selama 24 jam, bergantian.
Para penjaga itu pula yang memberi nama Daffa pada sang bayi.
“Sebenarnya hanya spontanitas. Kemudian, kalau Daffa saja kok kurang. Akhirnya ditambahi Muhammad,” cerita Istiroah, kepala ruang NICU.
Meskipun bukan anaknya, Istiroah memperlakukan seperti anak sendiri. Yang berharap tumbuh menjadi anak saleh.
Yang diwujudkan dengan pengucapan kata-kata baik. Termasuk memperdengarkan murotal-lantunan ayat Alquran.
“Biar memorinya berisi kata-kata dan bacaan yang baik. Selalu kami berikan hal terbaik. Ngunen-nguneni-nya juga dengan hal yang baik. Dilem ganteng (dipuji tampan, Red), pinter. Biar dia besok jadi anak yang baik,” ucapnya.
Penanganan mereka kepada sang bayi mereka lakukan dengan hati-hati.
Selain kondisinya yang naik turun, ketika pertama masuk pusar bayi sudah berbau. Tanda proses persalinan yang tak prosedural.
Baca Juga: Perjuangan Pria Asal Kediri Tetap Berbisnis Cupang meski Pasarnya Tak Seramai Dulu
Selain itu, ada penumpukan darah di bawah kulit kepala sisi kiri. Belum lagi sesak nafas yang diketahui setelah observasi.
“Kami sampai pasang oksigenasi pakai alat sipet (nasal canula, pipa kecil untuk menyalurkan oksigen ke dalam hidung, Red),” terang Istiroah.
Di hari kelima, alat tersebut sempat dilepas. Namun, kesehatan Daffa menurun. Serta tak bisa minum susu dalam jumlah banyak.
Bila dipaksakan muntah. Akhirnya dipasanglah sonde-selang yang dimasukkan hidung langsung menuju lambung-untuk memenuhi nutrisi si bayi.
Kini, setelah kondisi membaik, sonde juga dilepas. Bayi Daffa pun bisa diserahkan ke negara.
Penyerahan pun secara resmi berlangsung setelah urusan administrasi beres. Momen yang membuat para perawat campur aduk perasaannya. Antara sedih dan bahagia.
“Sedih, tentu. Kehilangan itu pasti. Namun bangga bisa membuatnya sembuh. Semoga dia mendapatkan orang tua yang baik. Yang bisa merawat sepenuh hati,” harap Istiroah.
Soal mendapat orang tua yang tepat, tentu bergantung proses adopsi bila itu terjadi.
Menurut Panca proses adopsi harus berkoordinasi langsung dengan PPSAB, bukan dengan dinsos Kabupaten Kediri.
“Adopsi baru bisa dilakukan jika bayi sudah berusia lebih dari satu tahun. Agar memastikan kondisi bayi sehat dan tidak memiliki kelainan. Proses adopsi juga sangat ketat,” ujarnya, sebelum akhirnya bertolak ke Sidoarjo, membawa sang bayi untuk diserahkan ke PPSAB.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah