JP Radar Kediri - Di ruang tamu salah satu rumah di Desa Nanggungan, Kecamatan Kayenkidul, dua orang perempuan duduk lesehan.
Beralas karpet warna cokelat, bermotif bunga-bunga. Mengobrol dengan asyiknya. Sembari kedua tangan mereka menganyam potongan-potongan panjang. Menyusunnya jadi tas anyaman.
“Baru belajar ini Mbak,” ucap salah seorang di antaranya.
Wanita itu bernama Nikmah. Ibu rumah tangga berusia 35 tahun. Sedangkan rekannya adalah Rusminah.
Perempuan yang usianya sudah separo abad ini terlihat lebih cekatan dalam menganyam. Lebih jago karena menjadi anggota Mekar Hand Craft lebih dulu.
“Biasanya kami kerjakan di rumah masing-masing. Biasanya setelah selesai pekerjaan rumah atau sepulang dari sawah,” timpal Sri Wahyuni.
Wanita yang baru keluar dari ruang dalam ini adalah pemilik rumah sekaligus ketua Mekar Hand Craft. Kelompok perajin tas anyaman plastik yang semua anggotanya adalah ibu rumah tangga.
Perempuan 41 tahun itu bercerita, kelompok ini berdiri pada 2019. Awalnya ketika ada pelatihan oleh Pemerintah Desa (Pemdes) Nanggungan. Jumlah anggota awalnya ada puluhan orang.
“Kini tinggal sepuluh. Ada yang kerja ke luar kota, ada pula yang sudah tidak sempat,” terang wanita yang sebelum datang nimbrung tersebut harus mengurusi anaknya yang masuk angin.
Tak lama kemudian, datang tiga wanita lagi. Sunyik, Diyah Astutik, dan Lilik Kaminah.
Rata-rata berusia 40-an tahun. Mereka datang setelah mengerjakan tugas sebagai ibu rumah tangga lebih dulu.
Memang, mereka yang bertahan saat ini yang statusnya ibu rumah tangga dan buruh tani.
Yang memiliki waktu lebih banyak untuk berkutat dengan kerajinan. Itung-itung untuk memanfaatkan waktu menjadi produktif, menghasilkan.
“Daripada tidak ngapa-ngapain lebih baik ngerjain kerajinan tas,” aku Diyah.
Wanita 46 tahun ini sudah sibuk dengan urusan rumah tangga sejak pukul 4.00.
Menyiapkan sarapan untuk suami dan anak-anaknya, bersih-bersih rumah, hingga mencuci. Semua pekerjaan itu selesai pukul 9.00.
Beda lagi ketika musim tanam jagung. Diyah menyempatkan ke sawah, jadi buruh pilih benih yang akan ditanam.
Selesai siang hari, pukul 12.00. Setelah itu dia baru mengerjakan pembuatan tas.
Selain waktunya yang sedikit, Diyah mengaku kurang cekatan membuat tas. Karena itulah dia tergolong paling sedikit hasil jadinya.
Kalau ada pesanan besar misalnya, seperti saat Lebaran atau ada hajatan, wanita ini hanya menyelesaikan dua hingga lima tas besar.
“Dapatnya antara Rp 30 ribu sampai Rp 100 ribu,” akunya.
Beda lagi dengan Sunyik. Karena hanya ibu rumah tangga dia punya waktu lebih banyak. Tak heran bisa mengambil bahan tas lebih banyak pula.
“Sehari bisa bikin lima tas besar dan sepuluh tas kecil. Kadang juga lebih,” akunya.
Produktivitas kelompok ini memang belum begitu besar. Setahun kemarin misalnya, Mekar Hand Craft baru bisa menghasilkan 500 tas.
Kebanyakan dari pesanan orang hajatan. Juga hampers saat Lebaran.
Lumayan, mereka mengaku bisa mendapatkan tambahan penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari.
Yang patut diacungi jempol, kelompok ini berusaha membuat tas dengan varian terkini.
Adalah tugas Lilik Kusminah yang mencari inovasi dari internet. Agar variannya lebih beragam.
Jika mendapat bentuk baru Lilik segera mempelajari. Setelah itu membuat satu agar bisa dicontoh yang lain.
Beberapa anggota kelompok ini memang punya keahlian lebih dibanding yanglain.
Lilik misalnya, selain pandai mencari model baru dia juga tergolong cepat dalam menyelesaikan pekerjaan. Sehari bisa lima tas atau bahkan lebih.
Sedangkan Sri juga sering diajak lembaga pemerintah memberi pelatihan.
Yang paling berkesan bagi anggota kelompok, adalah ketika menerima pesanan dari Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa pada 2019. Jumlahnya sebanyak seratus tas.
“Deadline pengerjaan selama tiga hari,” kenang Sri.
Pada saat itu orang nomor satu di Jawa Timur itu pesan melalui asistennya. Seratus tas dengan motif batik. Untuk memenuhi deadline mereka bahkan sampai tidak tidur. Dari order itu mereka mendapat upah Rp 3,5 juta.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah