JP Radar Kediri - Pria berbaju abu-abu bersandar pada tiang yang berada di dekat kolam-kolam ikan.
Terlihat memandangi tiga orang temannya yang sibuk di dalam kolam. Yang sibuk memanen ikan-ikan dari kolam tersebut.
Pria itu adalah Andik Imam Muarifin. Dia juga memiliki beberapa petak kolam di tempat yang sama.
Ditaburi jenis ikan kecil yang biasa disebut cupang. Nama umum dari jenis ikan Betta sp.
“Pasar cupang memang tidak seramai dulu. Tapi tetap bisa kalau untuk hidup,” ucap pria 36 tahun.
Andik memiliki enam petak kolam cupang. Tepat di belakang rumahnya, di Desa Mojosari, Kecamatan Kras.
Berukuran sekitar 1 x 2 meter. Setiap petak, berisi lima ribu ekor cupang yang masih kategori benih.
“Kolam-kolam ini memang untuk pembesaran,” terangnya.
Raut wajah Andik terlihat lelah. Pekerjaan sebagai pembudidaya ikan hias air tawar memang perlu tenaga ekstra.
Belum lagi harus berjemur di bawah terik matahai. Topi warna biru, dengan logo NY di bagian depan, menjadi senjata melindungi kepala dan wajahnya dari sengatan sang mentari.
“Setiap hari harus mengecek suhu air. Mengganti air, memberi makan, dan rutin melihat perkembangan ikan,” ujarnya mengurai pekerjaan yang harus dia lakukan setiap hari.
Semua itu dia lakukan karena ikan cupang mudah sekali mati. Terutama kalau suhu air tidak stabil.
Baca Juga: Sosok Kepala BPS Kabupaten Kediri yang Terobsesi Menulis Buku
Jangan heran bila sepatu boots warna hitamnya terlihat kusam akibat sering dikenakan. Saat itu, sepasang sepatu itu tergeletak di pinggir kolam. Di samping bekas wadah cat dan serok ikan.
Menjadi pembudidaya ikan hias selalu merasakan pasang surut. Dan, Andik adalah salah satu yang mampu bertahan. Ketekunan dan ketelatenannya membuatnya survive hingga lima tahun ini.
Ketika awal menerjuni pekerjaan ini, pasar cupang sedang bergairah-bergairahnya. Waktu itu masa pandemi Covid-19.
Cupang banyak diburu. Baik oleh anak-anak hingga orang dewasa. Harganya pun bisa meroket tajam.
Uniknya, ketika permintaan sedang ramai, Andik tetap menjual dengan harga wajar. Berkisar Rp 1.700 per ekor. Bahkan, saat inipun masih dia jual seharga itu.
“Dulu masih merintis. Menjual dari pasar ke pasar. Belum punya pelanggan,” kenangnya.
Koneksi pun mulai dia rajut. Mencari kenalan dan pelanggan. Dari sedikit hingga banyak.
Bahkan dia juga siap membantu bila ada yang membutuhkan bantuan. Termasuk bila ada yang meminta merawat cupang.
Sikapnya yang suka menolong teman sesama pembudidaya itu mengantarnya bisa menjual hingga ke Tiongkok.
Memang, bukan dia pengirimnya. Tugasnya adalah merawat hingga ikan siap dikeluarkan dari kolam. Kemudian diekspor ke Negeri Tirai Bambu itu.
“Kalau kirim ke China (Tiongkok, Red) biasanya seminggu sekali. Totalnya bisa 12 ribu cupang,” sebutnya.
Meskipun bukan pengirim, Andik paham riwayat hingga ada pembeli dari Tiongkok itu.
Bermula pada 2023 silam. Melalui proses perkenalan yang relatif lama. Mulai Juni hingga Oktober.
Setelah sama-sama yakin, barulah proses transaksi terjadi. Pengiriman berlangsung sejak Maret hingga Oktober 2024.
“Setelah itu berhenti hingga saat ini. Karena di negeri sana masih musim dingin,” akunya.
Pembeli di negeri itu minta dikirim jenis yang berbeda-beda. Awalnya, ingin yang putih saja atau jenis unicorn. Namun, setelah itu juga minta yang berwarna gelap serta cupang plakat.
Andik tidak tahu pasti mengapa pesanan dari Tiongkok relatif banyak. Mungkin, menurutnya, dibudidayakan lagi.
Atau, untuk ritual buang sial yang biasanya dilakukan dengan menebar ikan dan kura-kura.
Terlepas dari sepinya pasar cupang saat ini, permintaan yang datang ke dirinya justru tak surut. Bahkan, dalam kurun 1.5 tahun terakhir, produksinya juga meningkat.
Dari biasanya 4 ribu ekor per bulan menjadi 10 ribu ekor. Ikan-ikan jenis halfmoon itu dia kirim ke berbagai kota di Indonesia. Mulai Semarang, Garut, hingga Bandung.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah