JP Radar Kediri - Perempuan berjilbab cokelat duduk di trotoar, di Jalan Sudanco Supriadi. Tepat di depan Taman Harmoni, yang saat itu juga ramai oleh lalu-lalang warga kota.
Di sebelahnya, tergeletak beberapa boneka balon aneka bentuk. Didominasi tokoh kartun Upin-Ipin, yang memang banyak digemari anak-anak.
Di dekatnya juga tergeletak tas ransel. Warnanya sudah terlihat kusam. Tempat wanita tersebut menempatkan mukena dan bekal yang dia bawa dari rumah.
Topi besar bermotif polkadot terpasang di kepalanya. Melindungi dari terik matahari yang selalu dia rasakan. Raut lelah juga terlihat dari wajahnya.
“Dari Mojo itu diantar ke Kras. Terus naik bus, berhenti di Semampir. Habis itu keliling Mojoroto, terus ke timur sungai (Brantas),” ucapnya, menceritakan perjalanan yang baru dia lakukan.
Wanita ini adalah Rupiah. Penjual boneka balon. Rumahnya di Dusun Kemayan, Desa Kranding, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri.
Namun, area berjualannya sangat jauh. Bahkan, pernah ke sampai ke Tulungagung. Lebih hebatnya, itu dia lakukan dengan berjalan kaki!
Pekerjaan melelahkan itu sudah dilakukan wanita 65 tahun ini sejak 15 tahun lalu. Membantu sang suami yang jadi pedagang mainan.
Hebatnya, meskipun hanya seorang penjual boneka balon Rupiah ternyata punya tekad besar. Dia ingin melihat anak-anaknya bersekolah setinggi-tingginya.
Hasilnya, satu dari tiga anaknya sudah menggenggam gelar sarjana. Sedangkan dua lainnya hanya sampai jenjang sekolah menengah atas (SMA).
“Sekarang (anak saya yang sarjana) dari sukwan di TK dan guru ngaji. Tapi sekarang berhenti sementara, ngurusi anaknya sakit,” jelasnya.
Keinginannya melihat anak-anaknya sukses itulah yang membuat Rupiah tak merasakan lelahnya berjalan kaki menjajakan dagangan.
Pun, ketika dia pulang tak membawa uang. Semuanya dia terima dengan lapang dada.
“Laku satu dua itu ya disyukuri,” aku wanita yang hanya mengutip laba Rp 4 ribu untuk setiap boneka balon yang terjual itu.
Semangatnya memang pantang menyerah. Semua itu seiring dengan harapan dan mimpinya yang terpendam.
Yaitu bisa menyekolahkan anaknya setinggi mungkin. Dia tak ingin anak-anaknya merasakan hidup seperti dirinya. Yang harus berhenti sekolah gara-gara kesulitan biaya.
"Saya dulu tidak bisa sekolah, makanya anak saya tak sekolahkan tinggi," ucapnya.
Hasilnya, satu dari tiga anaknya berhasil menyelesaikan hingga bangku kuliah. Dua lainnya lulusan SMA.
Ia sangat bersyukur bisa mengantarkan putra-putrinya untuk mendapatkan pendidikan yang layak.
“Walaupun saya ndak lulus sekolah, saya ingin anak-anak saya harus sekolah yang tinggi dari saya,” ungkap Rupiah.
Meski anaknya sudah mempunyai keluarga sendiri-sendiri, Rupiah tetap berkeliling menjajakan balon karakter. Bahkan sering kali anak-anaknya melarang, tapi ia tetap nekat berjualan.
“Sudah dilarang sebenarnya sama anak saya, tapi saya ngga enak kalau ngerepotin anak,” dalihnya.
Sang anak pun, menurutnya, juga memberi penghormatan yang besar pada dirinya. Dia punya cerita, ketika berjualan hingga Tulungagung.
Nah, dia sempat bertemu dengan anaknya yang berkuliah di IAIN Tulungagung. Anaknya, Sri Rahayu, pun menghampiri Rupiah tanpa rasa malu.
“Saya bilang nduk aja rene engko sampean isin (nak jangan ke sini nanti malu, Red), tapi dia bilang aku ga isin wong mak e mbiyai aku teka ngeten niki (saya tidak malu karena ibu membiayai memang dari pekerjaan ini, Red),” kenangnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah