Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Cerita Perempuan Asal Mojo Kediri yang Masih Mengalami Trauma Menjadi Korban Longsor

Novanda Nirwana • Kamis, 16 Januari 2025 | 16:23 WIB
MASIH RAWAN: Aningtyas Sartika Dewi bersama Bripka Nur Qoyim dan Sertu Muhtadin, bhabibkamtibmas dan babinsa yang kemarin mengecek kondisi terkini rumahnya pascalongsor.
MASIH RAWAN: Aningtyas Sartika Dewi bersama Bripka Nur Qoyim dan Sertu Muhtadin, bhabibkamtibmas dan babinsa yang kemarin mengecek kondisi terkini rumahnya pascalongsor.

JP Radar Kediri - Longsor di Desa Pamongan, Mojo memang sudah berlalu. Namun, peristiwa sekitar pukul 21.00, Kamis (9/1) lalu itu masih lekat di benak Aningtyas Sartika Dewi.

Betapa tidak, rumah perempuan berusia 27 tahun itu jebol setelah tertimpa material berupa lumpur dan bebatuan.

Tak hanya rumahnya saja yang rusak. Perempuan berambut lurus itu juga nyaris menjadi korban. Jika Kamis malam lalu dia tidak refleks berlari usai mendengar suara gemuruh, hampir dipastikan perempuan yang akrab disapa Aning itu ikut tertimpa reruntuhan bangunan.

Sebab, saat kejadian dia memang sedang leyeh-leyeh di kamar yang dindingnya jebol dihantam material longsor tersebut.

“Sampai sekarang saya masih trauma,” ungkap Aning lirih.

Selain ketakutan mendengar suara gemuruh, perempuan yang harus tinggal sendiri karena suaminya bekerja di Kalimantan itu juga selalu cemas saat hujan deras.

“Kalau hujan deras saya pasti langsung naik,” lanjut Aning menunjuk ke rumah sang paman yang letaknya berjarak beberapa ratus meter di atasnya.

Tinggal di daerah berbukit, Aning sadar benar jika bencana longsor bisa mengintai setiap saat.

Apalagi, tahun 2023 bukit di belakang rumahnya juga ambrol. Hanya saja material tidak sampai masuk ke dalam rumahnya.

Selamat di bencana pertama tahun lalu, perempuan yang kemarin memakai baju berwarna abu-abu itu hanya bisa menyerah pada takdir.

Dia pasrah saja dinding rumahnya jebol dihantam lumpur dan bebatuan.

“Suaranya kencang sekali. Bergemuruh seperti batu-batu yang terjatuh bareng,” kenang Aning tentang bencana longsor yang menimpa rumahnya.

Perasaan perempuan yang saat kejadian sedang sendiri itu campur aduk. Takut dan bingung campur jadi satu.

Hingga kemarin (15/1) atau enam hari pascabencana, lumpur dan bebatuan yang ambrol masih berada di belakang rumahnya. Kerja bakti yang dilakukan warga pada Jumat (10/1) lalu agaknya baru menepikan material itu ke dekat tebing. Belum memindahkannya.

Aning yang hanya tinggal sendiri pun tidak bisa berbuat banyak. Dia hanya bisa membersihkan sisa-sisa material yang ada di dalam rumah.

“Baru tadi malam (13/1) saya berani tidur di sini,” tutur Aning yang sejak kejadian Kamis malam lalu selalu tidur di rumah pamannya itu.

Meski dinding bagian belakang dalam kondisi terbuka, dia berani tidur di salah satu kamar yang tidak rusak.

Kebetulan kamar juga sudah dilengkapi dengan pintu dan kunci. Sehingga, dia tetap berani tinggal di sana.  

Pada siang hari, dia memilih untuk membersihkan rumah secara bertahap. Perempuan yang belum memiliki momongan ini berharap pemerintah bisa membantu memindahkan material longsor dari dekat rumahnya. Sehingga, dia bisa segera melakukan perbaikan.

“Nggak dapat bantuan material nggak apa-apa. Nanti saya benerin sendiri,” ungkap perempuan yang Jumat (10/1) lalu mendapat bantuan paket makanan dan sembako dari Pemkab Kediri itu.

Kondisi Aning yang rumahnya masih bolong melompong jadi perhatian bhayangkara pembina keamanan dan ketertiban masyarakat (bhabinkamtibmas) dan bintara pembina desa (babinsa).

Sekitar pukul 10.00 kemarin, Bripka Nur Qoyim dari Polsek Mojo dan Sertu Muhtadin dari Koramil Mojo mendatangi rumah Aning.

Personel polisi dan tentara yang sehari-hari memantau Desa Pamongan itu mengecek kondisi terkini.

“Gimana kabarnya, Mbak?” tanya Nur Qoyim dan Muhtadin saat melihat kembali bagian belakang rumah Aning.

Seperti kepada Jawa Pos Radar Kediri, Aning pun mengisahkan upayanya membersihkan rumah secara bertahap hingga lumpur bisa benar-benar hilang dari dalam rumah.

Terlepas dari bantuan material yang sedang diusulkan ke Pemkab Kediri, kini Aning hanya bisa berharap agar Dusun Kunci, Desa Pamongan tidak menjadi langganan bencana.

“Soalnya kalau hujan masih waswas (takut longsor susulan, Red),” tutur Aning di depan Qoyim dan Muhtadin sembari menyebut dia akan memperbaiki rumahnya jika material lumpur di belakang rumah sudah hilang.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #korban longsor #korban bencana alam #longsor #trauma #trauma korban #jawa pos #kota kediri