Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Sosok Dewi Hapasari, dari Sekadar Iseng Main Game kini Jadi Atlet E-Sport Profesional

Redaksi Radar Kediri • Selasa, 14 Januari 2025 | 16:45 WIB
MEMBANGGAKAN: Dewi Hapsari menunjukkan medali, trofi, dan plakat juara event Mobile Legend tingkat lokal hingga regional yang dikoleksinya.
MEMBANGGAKAN: Dewi Hapsari menunjukkan medali, trofi, dan plakat juara event Mobile Legend tingkat lokal hingga regional yang dikoleksinya.

JP RADAR KEDIRI- Gadis cantik itu berkemas-kemas. Memasukkan barang-barang ke dalam tas ranselnya. Baju-baju, charger handphone, serta perlengkapan kesehariannya. Terlihat seperti hendak bepergian jauh.

“Ini sedang siap-siap. Rencananya hari ini berangkat ke Surabaya. Dijemput oleh pihak sana. Besok baru berangkat ke Timor Leste,” ucap gadis bernama lengkap Dewi Septiya Hapsari ini.

Pihak sana yang dia maksud itu adalah perwakilan dari 3v.esport, salah satu tim e-sport profesional di Timor Leste.

Ya, Dewi-demikian gadis biasa disapa-akan memperkuat tim luar negeri tersebut. Dikontrak untuk durasi dua bulan.

Direkrut oleh tim dari luar negeri bukan dia dapat secara kebetulan saja. Tim e-sport negara yang memilih memisahkan diri dengan Indonesia tersebut karena track-record Dewi yang oke.

Salah satunya, gadis yang tinggal di Dusun Plosorejo, Desa Sumberagung, Kecamatan Plosoklaten ini juga masuk tim Kabupaten Kediri yang tampil dalam Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim beberapa waktu lalu.

Di rumahnya yang sederhana, di sela-sela proses berkemas, gadis kelahiran 2004 ini bercerita bagaimana dia akhirnya menekuni e-sport.

Bermula kesukaannya bermain multiplayer Online Battle Arena (MOBA) Mobil Legend (ML) saat duduk di bangku MTsN 6 Kediri. Setelah melihat sang kakak, Muhammad Zaizul Nizam Thalar, memainkannya.

“Kok bagus game-nya, jadi keterusan,” kenang nomor dua dari tiga bersaudara ini tertawa. Mengenang awal ketika dia mencoba permainan tersebut.

Merasa suka, Dewi jadi keterusan bermain game rilisan Tiongkok itu. Apalagi, tujuannya adalah menghibur diri. Sepulang sekolah untuk melepas penat setelah seharian belajar.

“Main game itu bikin terhibur. Jadi stresnya hilang,” dalih gadis yang lahir September ini.

Laiknya bocah sepantarannya, dia sering lupa waktu ketiga nge-game. Hal itu yang kadang memicu kemarahan sang ibu. Beberapa kali pula dia peringatkan.

Baca Juga: Pemdes Sumberejo, Ngasem, Kediri Bekali Pendidikan Agama untuk Hindari Masalah Kenakalan Remaja

Main game ae, ora oleh apa-apa (main game saja, tidak ada manfaatnya, Red),” ucapnya menirukan perkataan sang ibu saat dia keasyikan nge-game dan lupa bantu-bantu. Senyum simpul, dengan sedikit rona malu, keluar ketika dia menceritakan hal itu.

Ucapan ibunya itu yang memantik sesuatu di hatinya. Dalam hati dia bertekad, tak ingin hanya main game yang tak bermanfaat. Namun, juga bercita-cita jadi gamer professional.

Jalan ke arah itu mulai terbuka ketika dia bersekolah di SMKN 1 Plosoklaten. Saat ada class meeting dan salah satu lombanya adalah ML, dia jadi peserta.

Tak sekadar menang, Dewi juga terpilih sebagai most valuable player (MVP). Menjadi pemain yang paling berkontribusi dalam tim.

Setelah itu, anak pasangan Adi Prayitno dan Sumarni ini mulai ikut turnamen resmi. Meskipun baru sebatas di wilayah Kabupaten Kediri.

Toh, itu sudah cukup memikat pelatih e-sport Kabupaten Kediri, Mohammad Indra  Kurniawan.

Kebetulan, sang pelatih tengah mencari player perempuan untuk Porprov 2023. Di mata Indra, panggilan sang pelatih, Dewi memiliki ketangksanan dalam  bermain. Mampu fleksibel menggunakan semua karakter dalam ML.

"Dewi mempunyai role fleksibel. Sehingga bisa ditempatkan di beberapa posisi dan bisa mengikuti arahan pelatih dengan baik," terang laki-laki 27 tahun yang ikut mendampingi berkemas itu.

Dia juga tak berpikir panjang untuk segera merekrut Dewi. Apalagi, mencari atlet e-sport wanita sangat sulit.

Dan, pilihannya itu terbukti tidak salah. Saat Porprov Jatim, Kabupaten Kediri bisa meraih medali. Meskipun hanya perak, belum emas, tapi sudah mencapai pencapaian yang bagus.

Kemampuan Dewi itu pula yang memantik minat tim e-sport Timor Leste. Tim bernama panjang Veni Vidi Vici e-sport ini kepincut dengan kemampuan sang atlet.

"Tim Timor leste itu katanya sudah menyeleksi banyak pemain, sebenarnya. Ketika melihat track record Dewi ini tertarik.

Setelah melakukan trial  Dewi berhasil, tim Timor Leste ini juga setuju," suluk Indra, bangga dengan pencapaian anak didiknya.

Kontrak Dewi dengan tim itu memang tak lama. Hanya dua bulan untuk terjun di turnamen yang berlangsung Februari.

Toh, itu sudah bisa mementahkan anggapan orang yang menilai cita-citanya dulu sebagai tak masuk akal.

"Dulu saat PKL di SMK pernah ditanyai cita-citanya apa. Aku jawab ingin jadi pro-player ML. Tapi diketawai banyak orang," ceritanya, mengenang bagaimana mimpinya yang sempat dianggap tak serius oleh banyak orang. Tapi, keinginan itu sudah tercapai saat ini.

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #main game #profesional #jawapos #e sport #atlet