KEDIRI, JP Radar Kediri- Desa Sumbererjo berada di jantung Kabupaten Kediri. Tak ayal, banyak tantangan yang harus dihadapi pemdes setempat. Salah satunya potensi kenakalan remaja. Oleh karena itu, pemdes memiliki solusi jitu.
Keberadaan monumen simpang lima gumul (SLG) sangat membantu warga Desa Sumberejo.
Tak sedikit warga yang berjualan di sana. Perekonomian warga pun banyak terbantu. Namun, itu juga menjadi tantangan sosial tersendiri.
Salah satu yang menjadi perhatian pemdes adalah potensi kenakalan remaja. Melihat hal tersebut pemdes berusaha mencari solusi.
“Ini juga bisa membuat remaja dengan hal-hal yang negatif,” ujar Sekdes Sumberejo Misbakhu Muhtar.
Pemdes tercetus untuk membekali anak-anak setempat dengan pendidikan agama. Pasalnya, bekal agama yang kuat dapat menjadi fondasi kukuh.
Oleh karena itu, pemdes mendukung penuh kegiatan Taman Pendidikan Alquran (TPQ) di sana.
Salah satu bentuk dukungan ditunjukkan dengan sokongan anggaran. Pemdes tak segan mengucurkan dana untuk mendukung operasional TPQ.
Dengan begitu, Lembaga tersebut berjalan lebih efektif. Sehingga membuat anak-anak desa memiliki bekal agama yang baik.
Tak hanya satu. Tercatat ada lima TPQ yang berdiri di Desa Sumberejo. Sekitar 90 persen anak di sana mengikuti program tersebut.
“Harapannya kalau anak-anak ini sudah tertanam ilmu agama sejak kecil, kenakalan remaja bisa ditangkal,” harap Muhtar.
Tidak hanya itu. Setiap tahunnya pemdes mengadakan kegiatan bertajuk Festival Anak Sholeh. Festival tersebut berisi perlombaan-perlombaan yang bisa diikuti para santri di tiap TPQ.
Ada lomba ngaji, adzan, wudhu, cerdas cermat sampai fashion show muslim. Nanti pemenangnya akan mendapat hadiah yang dianggarkan oleh dari desa.
Kegiatan ini dianggap efektif dalam menanggulangi kenakalan remaja di Desa Sumberejo. Muhtar tak menampik apabila dulu sering kali ada kasus yang melibatkan remaja setempat. Mulai dari narkoba, asusila, hingga premanisme. Namun akhir-akhir ini berkurang drastis.
Kepala Desa Sumberejo Dwi Santosa Miliki Prinsip Pelayanan Prima untuk Masyarakat
Kepala Desa Sumberejo Dwi Santosa fokus pada pelayanan warga yang optimal. Dwi memanfaatkan pengalaman sebelumnya di kantor pajak untuk berhadapan dengan warga. Sebelumnya, selama puluhan tahun Dwi bekerja sebagai petugas lapangan.
“Saya dulu kurang lebih sepuluh tahun di lapangan. Tugas saya memetakan suatu bidang untuk keperluan Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang (SPPT),” ujar Dwi.
Dalam pekerjaan tersebut Dwi dituntut untuk mengenal perangkat desa setempat. Saat itu dia bertugas di wilayah Kabupaten Blitar. Karena itu, Dwi terbiasa dengan berbagai karakter dari banyak orang.
Semenjak muda, Dwi aktif menjadi ketua karang taruna di Desa Sumberejo. Jiwa kepemimpinanya sudah terlihat.
“Alhamdulilah gagal jadi kasun. Sekarang malah dipercaya jadi kades,” ungkap Dwi lalu tertawa.
Kesan pertama yang dia ingat saat menjabat menjadi kepala desa adalah banyaknya aspirasi warga.
“Ternyata permintaan warga itu bermacam-macam ya. Makanya sebisa mungkin saya tampung dulu aspirasi itu,” ucapnya.
Menurut Dwi, pelayanan untuk masyarakat adalah yang terpenting. Karena itu dia membekali laptop dan printer di setiap rumah perangkat desa.
“Kita adakan layanan 24 jam, jadi malam-malam warga butuh surat bisa minta ke rumah perangkat,” lanjut pria 34 tahun itu.
Pasalnya, banyak warganya yang bekerja sebagai pekerja kantoran. Sehingga hanya memiliki waktu untuk mengurus surat di sore hingga malam hari. Maka dari itu layanan 24 jam ini dirasa efektif bagi warga.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Andhika Attar Anindita