JP Radar Kediri - Di tempat usahanya, di Jalan Mawar, Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare, Sudirman membuka kursi lipat yang biasa untuk camping.
Mempersilakan koran ini menjadikan tempat duduk. Dia kemudian menyeret bangku kecil ke depannya. Menjadikan meja.
Duduk dengan kursi camping dan meja pendek seperti itu, menjadikan obrolan menjadi gayeng. Lebih enak dan santai.
“Bagi orang lain, mungkin traveling untuk menghabiskan uang. Tapi, bagi saya, traveling itu untuk mencari uang,” ucap pria yang lahir dan besar di Sulawesi namun sudah berkali-kali pindah mengikuti orang tua ini.
Ya, Dirman-demikian keseharian pria ini disapa-adalah penghobi traveling. Saking hobinya, dia sampai meninggalkan pekerjaannya sebagai tutor di lembaga kursus bahasa Inggris.
Ganti menekuni usaha rental peralatan naik gunung. Sekaligus bisa menjadi pemandu.
Equipment yang dia sewakan itu berjejal di tempat usahanya yang lebarnya sekitar 10 meter itu.
Begitu banyak jaket tebal yang bergelantungan. Sepatu mendaki juga tertata tak jauh dari jaket-jaket itu.
“Jika bekerja dengan orang lain tak bisa memiliki waktu untuk memenuhi hobi ini,” dalih pria yang masuk ke Pare pada 2012 ini.
Dengan rambut panjang yang diikat gaya cepol, Dirman mengulang awal menekuni bisnis persewaan peralatan mendaki. Yaitu ketika dua tahun setelah kedatangannya di Pare.
“Karena ada peluang. Dulu belum ada penyewaan seperti ini (di Kampung Inggris),” cerita pria yang menikah dengan wanita Pare ini.
Kesukaanya ber-traveling itu mengantarnya menjelajahi banyak daerah di Indonesia. Mulai Pulau Jawa, Kalimantan, Sumatera, hingga Sulawesi.
“Yang belum ke Papua,” ucapnya, sembari berharap bisa melakukannya tahun depan.
Maka, jangan heran bila pria yang sudah menjadi bapak satu anak ini punya banyak kisah perjalanan. Yang bila didengarkan butuh waktu seharian.
Salah satunya adalah pengalaman terbarunya, mendatangi Ibu Kota Nusantara (IKN) Agustus tahun lalu.
Tidak untuk mendaki, melainkan bersepeda dari Kediri demi mengikuti upacara bendera,
“Dari Pare ke IKN (perjalanannya) dua minggu,” cerita pria yang juga penghobi berat bersepeda ini.
Sebenarnya, waktu tempuh bisa lebih cepat. Tapi, dasar penghobi naik gunung, dia menyempatkan melampiaskan kesukaannya itu terlebih dulu. Naik ke beberapa gunung di Banjarmasin.
Dalam bersepeda ke IKN itu dia melakukannya seorang diri, solo. Dengan mematok target mencapai jarak minimal 100 kilometer dalam sehari.
“Tapi di sana ketemu pesepeda lain. Ada yang dari Bandung (Jawa Barat), Surabaya, banyaklah,” kenangnya.
Hobi traveling-nya itu menular ke sang istri. Akhir tahun lalu, dia bahkan membawa anaknya ke Sumba.
Menempuh perjalanan dengan sepeda motor selama dua bulan. Padahal, saat itu sang anak belum genap dua tahun.
“Banyak yang menghujat. Tetapi sebelum itu dilatih dulu. Saya ajak bersepeda, saya ajak camping, dan sebagainya. Sebagai orang tuanya saya yang tahu anak saya, saya sudah pertimbangkan segala risikonya. Jadi saya tidak mungkin bawa anak saya kalau itu berisiko (buruk),” kilahnya.
Salah satu tempat yang meninggalkan kesan dalam adalah ketika dia berkunjung ke Kecamatan Kodi, di Kabupaten Sumba Barat Daya.
“Di sana setiap pria pasti bawa parang. Sudah seperti identitas diri,” kenangnya.
Tapi, ada satu hal yang membuat dia bergidik. Dari cerita warga setempat, bila musim kemarau tiba dan cari makan sulit, banyak pria memilih melakukan kejahatan agar bisa dipenjara.
“Karena di penjara dapat makan gratis,” ucap Dirman, mengulang cerita warga setempat.
Banyak tempat yang sudah dia jelajahi hingga kini. Toh, itu belum membuatnya puas. Dia ingin terus menjelajahi setiap daerah di Nusantara.
Tak hanya berkunjung, juga mendaki gunung-gunung. Saat ini dia juga tengah menjalani ekspedisi 100 puncak.
“Jelajah sudut Nusantara. Jadi pengen lihat sudut-sudut Nusantara dari Rote ke Miangas, dari Sabang ke Mearauke. Tapak awalnya sudah ke Rote,” tandasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah