JP Radar Kediri - Ruangan itu hanya simpel saja, berbentuk persegi tanpa sekat sama sekali. Salah satu sisinya ditempati kompor dengan ukuran tungku yang di atas rata-rata. Cukup besar untuk menjadi tempat panci dan wajan jumbo.
Di dekatnya masih ada kompor satu tungku. Lebih pendek dibanding kompor pertama. Menempel langsung di lantai dapur.
Di atas tungku yang membara itu terletak pantat panci jumbo yang diameter lingkaranya sekitar 50 sentimeter. Sedangkan tingginya mencapai satu meter.
Hampir setinggi perut orang yang berdiri di dekatnya, yang sibuk mengaduk-aduk isi panci dengan spatula panjang.
“Masih agak lama ini matangnya,” ucap pria berbaju hitam dan celana pendek bermotif bintik putih itu, sambil menutup kembali panci tersebut.
Pria itu adalah Suparno. Dia adalah warga binaan pemasyarakatan (WBP)-sebutan lain untuk narapidana-Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Kediri.
Sehari-hari, terpidana kasus perlindungan anak ini merupakan salah satu pekerja dapur. Bertugas memasak makanan untuk jatah seluruh napi yang ada di Lapas yang jumlahnya 930 orang.
Seperti saat itu, Suparno sedang memasak sayur lodeh. Yang isinya kacang panjang dan pepaya muda.
Karena untuk orang banyak, porsinya pun jumbo. Harus dimasak di panci yang besar juga.
Suparno tak sendiri saat itu. Ada satu lagi yang juga tengah sibuk memasak.
Pria yang lebih muda itu berpakaian serba hitam, termasuk topinya. Juga mengenakan sepatu bot kuning, seperti halnya Suparno.
Bedanya, dia tengah memasak ayam bumbu kecap. Sebagai lauk makan para narapidan pagi itu.
Soal dapur memang menjadi sesuatu yang sangat penting bagi geliat lapas setiap hari. Sebab, para napi juga butuh asupan sebagai tenaga beraktivitas setiap hari.
Karena jumlah napinya ratusan, maka dapur ini setiap hari akan menyiapkan 2.800 porsi. Untuk tiga kali makan.
Untuk memenuhi kebutuhan itu, setiap hari butuh satu sak beras berisi 25 kilogram. Cara menanaknya juga agak beda. Bukan di tungku melainkan dalam gas rice steamer.
Beras-beras itu ditempatkan dalam tray hingga menjadi nasi yang siap disajikan. Alat ini juga digunakan untuk men-steam makanan pendukung seperti singkong maupun pala pendem lain.
Para pekerjanya berasal dari penghuni lapas, para warga binaan.
“Ada 14 warga binaan yang membantu. Yang khusus masak ada 11. Yang tiga khusus kebersihan,” papar Kasubsi Pembimbingan, Kemasyarakatan dan Perawatan Lapas Kelas IIA Kediri Dena Anggika Prayogo.
Tidak ada kualifikasi khusus bagi warga binaan yang membantu memasak di dapur. Pihak lapas hanya memilah dari segi kasus pidananya.
“Kebetulan ada yang pernah masak, pernah jadi koki. Kecuali yang narkoba, kalau yang lain-lain bisa karena mindset-nya takut kumat lagi nanti mempengaruhi ke yang lain,” terangnya.
Ya, yang bertugas di dapur memang rata-rata punya pengalaman sebagai tukang masak. Suparno misalnya, sebelum dipenjara pernah bekerja di restoran di Surabaya.
Yang menyajikan makanan-makanan Tionghoa alias chinese food. Namun, selama di penjara dia selalu menyajikan masakan Jawa.
“Kalau masakan Jawa lebih simpel.Kalau dulu, tahun 80-an, saya masak chinese food,” kenang pria yang terpidana lima tahun ini.
Hampir sepanjang masa tahanan Suparno bertugas jadi juru masak di dapur lapas. Dia pun sudah terlatih dan lihai dalam mengolah makanan untuk rekan-rekannya.
Hafal dengan menu harian teman-teman senasibnya itu. Mulai sayur lodeh, sup, sayur asem, hingga tumis sawi putih. Hidangan itu berganti dalam siklus sepuluh harian.
“Dibantu sepuluh teman dalam mempersiapkan makanan. Khusus bagian perbumbuan saya,” jelas pria beruban yang sudah hampir selesai melakoni masa hukumannya itu.
Setiap hari, Suparno dan kawan-kawan sudah mulai berjibaku sejak subuh, pukul 04.00 WIB. Menyiapkan menu sarapan yang akan berlangsung pukul 7.
Kemudian, bersiap memasak lagi pukul 09.00. Kali ini untuk jatah dua kali makan. Yaitu makan siang yang berlangsung usai Dhuhur dan makan sore sekitar pukul 17.00. Di lapas memang tak ada makan malam.
Setelah selesai dimasak, makanan itu dimasukkan kotak makan dari plastik yang warnanya beraneka rupa. Kotak-kotak inilah yang didistribusikan ke masing-masing blok.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah