KEDIRI, JP Radar Kediri- Pemerintah Desa (Pemdes) Badas terus berusaha menambah pendapatan asli desanya. Salah satunya dengan menyulap lahan kurang produktif jadi pasar hewan.
Desa Badas memiliki lahan yang sulit mendapatkan air. Makanya, spot ini kurang diminati. Padahal, lahan tersebut seluas lebih dari tiga hektare. Meski begitu, pemdes tak menyia-nyiakan begitu saja.
Melalui berbagai pertimbangan, akhirnya diambil keputusan bahwa lahan kurang produktif itu disulap jadi pasar hewan.
“Di sini potensi peternakannya tinggi. Hampir setiap rumah memiliki ternak sapi. Tetapi kebanyakan menjualnya melalui blantik,” ujar Kepala Desa (Kades) Badas Nur Said.
Terlebih, dia berkaca dari pasar tradisional di desanya yang mampu menyumbang pendapatan asli desa.
Antusiasme pembeli dan perputaran uang yang tinggi membuat pemdes yakin dengan ide tersebut.
Proyek telah dikerjakan empat tahun ini. Karena biaya besar, pemdes tidak bisa langsung mengeluarkan semua dananya. Tahun ini yang digunakan sekitar Rp 450 juta. Hingga kini, telah ada sepuluh lapak di sana.
Lapak tersebut dibangun di tanah seluas 2 hektare. Dari sepuluh lapak itu, Said memperkirakan dapat menampung sekitar 200 ekor sapi.
Nantinya, jika sudah rampung semuanya, Said menargetkan dapat menampung sekitar 700 ekor sapi di sana.
“Insya Allah akhir tahun ini sudah dapat digunakan sebagian. Sambil nunggu lapak sisa lainnya selesai,” urai Said.
Dalam menggarap proyek ini, dia mengaku telah study banding. Itu untuk mempelajari seluk-beluk pengelolaan pasar hewan.
Salah satu yang menjadi perhatiannya adalah faktor kesehatan dan kebersihan pasar hewan di desanya. Seperti halnya sanitasi.
“Harapannya dengan adanya pasar hewan ini dapat meningkatkan pendapatan desa dan juga warga di sini,” harap Said.
Mengenal Lebih Dekat Kades Badas Nur Said dan Hobi Burungnya
Nur Said memiliki memiliki cara unik untuk mendekatkan diri dengan warganya. Dia bahkan dapat menggabungkannya dengan hobi yang dimiliki.
Kepala Desa Badas tersebut memanfaatkan hobi kicau mania sebagai sarana bersosialisasi.
Pria kelahiran 1976 ini memang memiliki hobi memelihara burung. Bahkan, sebelum Said menjadi kades. Mulai burung cendet hingga murray batu ada di rumahnya.
Jika dijumlahkan, burung peliharaannya ada 8 ekor. “Setiap subuh sudah mulai merawat burung-burung ini,” ceritanya.
Ayah empat orang anak ini sendiri yang merawat burung-burung tersebut. Dia mengaku tidak terbebani dengan tugasnya sebagai kades.
Pekerjaannya sebagai kades pun tidak terbengkalai dengan hobinya tersebut. Pasalnya Said biasanya merawat burung-burung miliknya hingga pukul 07.00. Sebelum dia berkantor.
Bukan sembarang burung yang dipelihara Said. Semua burung yang dipelihara merupakan burung untuk perlombaan.
Bahkan dia kerap mendapatkan gelar juara. Dia mengaku sampai tidak hafal dengan jumlah total penghargaan yang didapatkan.
Pasalnya, Said rutin mengikuti perlombaan yang diadakan. Pria yang juga hobi motor trail ini mengaku beruntung bisa menyalurkan hobinya sekaligus mendekatkan diri dengan warga.
Pasalnya dia juga dapat memberikan sosialisasi dan informasi kepada warganya dengan gaya yang lebih mudah dipahami.
“Efeknya sangat terasa, dengan warga menjadi tidak ada sekatnya. Tidak selalu harus seperti pemimpin dan warganya. Bisa membaur kalau di sini,” pungkas Said.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Andhika Attar Anindita