JP Radar Kediri - Bidang pendidikan sangat dinamis dalam lima tahun terakhir. Beberapa kali mengalami perubahan kebijakan yang fundamental.
Terutama yang terkait dengan konsep evaluasi pembelajaran siswa serta proses penerimaan peserta didik.
Dalam praktiknya, evaluasi pembelajaran akan terkait dengan pelaksanaan ujian nasional (UN) dan asesmen nasional (AN).
Kemudian, penerimaan siswa didik baru bakal saling beradu antara sistem zonasi dan non-zonasi. Bahasan tentang itulah yang akan sangat mewarnai pada 2025 nanti.
Di mata praktisi pendidikan, ada beberapa catatan pada sistem pendidikan yang berjalan lima tahun terakhir.
Yang bisa menjadi acuan pelaksanaan sistem tersebut tahun depan. Salah satunya terkait implementasi sekolah berbasis zonasi.
“Banyak kajian yang mengangkat bahwa zonasi itu tidak mendorong sekolah untuk melakukan perbaikan,” kata Agus Muji Santoso, wakil rektor III Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri yang juga menjadi Tim Narasumber Pendidikan Anak Usia Dini, Dasar, dan Menengah (PDM) 02, 06, dan 10 Ditjen PAUD Dasmen Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek)-saat ini jadi Kemendikdasmen.
Baca Juga: Rumah Warga di Puhsarang Kediri Jadi Jujukan Menginap Jemaat Luar Kota
Padahal, menurut dosen biologi ini, dengan zonasi idealnya setiap sekolah di wilayah tersebut bisa berbenah. Sayang, realitanya, sistem itu justru diakali dengan fenomena titip kartu keluarga (KK).
Atau membuat KK baru setahun sebelumnya. Belum lagi, masih ada sekolah yang mempersoalkan keragaman input siswa dengan adanya sistem itu.
“Artinya sekolah-sekolah saat mendapatkan siswa yang pintar, senang. Tapi ketika mendapat yang kesiapan belajarnya kurang, itu wis bingung ora karuan. Itu yang menjadi semacam critical review,” tandasnya, sembari mengingatkan bahwa urgensi penerapan zonasi adalah pemerataan input siswa di sekolah pinggiran dan perkotaan.
Kemudian, ada pula kebijakan yang harus dipertahankan dan dikembangkan. Yaitu AN, yang dinilai sebagai konsep evaluasi pembelajaran yang ideal.
Sebab, patokan keberhasilan pembelajaran siswa tidak lagi hanya pada pemahaman mata pelajaran saja. Melainkan lebih kompleks, menggali wawasan literasi, numerasi, dan karakter.
“Kalau asesmen nasional dihapus, mampu tidak ujian nasional yang berbasis mapel itu menggantikan model evaluasi yang selama ini kita gunakan?” tanya Agus. Menurutnya, asesmen lebih efektif dalam meningkatkan keterampilan berpikir anak-anak.
Baca Juga: Di Gereja Puhsarang Kediri, Hari Jumat Legi Punya Daya Pikat yang Kuat
Hal itu juga tidak lepas dari penguatan pendidikan karakter yang masih menjadi prioritas program Kemendikdasmen. Menjadi salah satu parameter kualitas satuan pendidikan.
“Guru kelas harus memahami prinsip-prinsip bimbingan konseling dan pendidikan nilai. Jadi guru kelas nggak boleh kalau ada masalah langsung diserahkan ke guru BK (bimbingan konseling, Red),” beber Agus.
Dengan demikian, mulai tahun depan, setiap guru kelas akan mendapat pelatihan BK dasar dan pendidikan nilai. Sehingga bisa mendeteksi masalah yang dialami siswa.
Penguatan pendidikan nilai itu sekaligus menjawab banyaknya kasus kriminalisasi terhadap guru. “Banyak guru yang terintimidasi oleh perilaku siswa. Tidak hanya siswa, tapi juga perilaku orang tua siswa,” sambungnya terkait isu yang kerap berujung pada kasus kriminalisasi guru.
Lalu, apa pekerjaan rumah dan tantangan pemerintah tahun depan? Agus menyoroti pentingnya edukasi dan partisipasi dalam menjalankan sistem pendidikan.
Sebab, sebaik-baiknya kurikulum jika tidak disampaikan secara tuntas kepada orang tua siswa, implementasinya pasti tidak maksimal.
Dia mencontohkan, projek penguatan profil pelajar Pancasila (P5) di sekolah-sekolah masih banyak yang dilakukan secara ‘megah-megahan’.
Baca Juga: Sosok Letkol Inf Ragil Jaka Utama, Ahli Tempur yang Kini Jadi Dandim 0809 Kediri
Sekolah berebut menampilkan P5 dengan meriah. Sementara hal itu tidak sesuai dengan tujuan kegiatan itu.
“Itulah kenapa di sisi lain itu dikatakan sebagai kurikulum yang gagal karena siswa dan orang tuanya jor-joran,” tandasnya menyayangkan.
Karena itulah aspek partisipasi menjadi penting. Khususnya keterlibatan orang tua siswa yang perlu ditingkatkan. Di luar itu, seluruh sektor di kehidupan sosial masyarakat juga perlu dilibatkan dalam menyongsong pendidikan yang lebih baik.
“Bagaimana setiap lingkungan di sekolah, misalnya ada pabrik tahu, UMKM tenun, itu ikut membantu sekolah mengembangkan potensi siswa-siswanya,” tandasnya.
Selain itu, dunia pendidikan juga dihadapkan dengan tantangan pesatnya perkembangan teknologi. Salah satunya artificial intelligence (AI).
Baca Juga: Inilah Profil SMAN 1 Ngadiluwih Kediri yang Punya Segudang Prestasi
Bagi Agus, ranah ilmu pengetahuan dan AI bisa tetap berjalan beriringan. Tidak melulu tentang ancaman, ada peluang yang bisa dimanfaatkan dunia pendidikan dari AI.
“Yang harus dilakukan pemerintah bagaimana menguatkan kompetensi guru-guru agar AI itu malah sebagai alat bantu (pendidikan, Red),” terangnya.
Dengan begitu, guru ditantang bisa terampil memanfaatkan AI. Sebab, jika tidak, keberadaan guru bisa dengan mudah digantikan AI. Lebih-lebih yang masih sekedar menerapkan pembelajar berbasis normatif, bukan yang mengasah nalar kritis siswa.
“AI tetap harus dipakai. Tapi tidak menggantikan otak kita. Jadi apa yang kita ketikkan di Chat GPT atau Meta AI itu adalah hal-hal yang nanti akan kita setir,” bebernya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel
Editor : Anwar Bahar Basalamah