JP RADAR KEDIRI- Gereja di lereng Gunung Wilis ini tak pernah sepi. Tak hanya oleh para jemaat yang hendak mengikuti misa, juga oleh wisatawan. Lebih-lebih setelah gereja ini mendapat predikat cagar budaya.
Denyut kehidupan di kawasan wisata Gereja Puhsarang hampir tak pernah surut. Gereja Katolik tua di lereng Gunung Wilis, Desa Puhsarang, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri ini hampir setiap hari disinggahi banyak pengunjung.
Baik itu umat Katolik yang menjalankan ibadah kemudian berlanjut wisata religi, atau masyarakat umum yang sekadar berwisata.
Apalagi setelah gereja yang dibangun pada 1936 itu mendapat predikat cagar budaya nasional Agustus 2024 lalu. Kian menambah nilai tawar kawasan sebagai ikon wisata religi di Kabupaten Kediri.
“Beribadah di sini (Gereja Puhsarang, Red) beda rasanya. Seperti, bila pas di Jakarta atau Surabaya dan ikut misa, rasanya berbeda. Kena di hatinya itu tak bisa dijelaskan,” aku Ketua Stasi Santa Maria Puhsarang Suwito.
Baca Juga: Sosok Letkol Inf Ragil Jaka Utama, Ahli Tempur yang Kini Jadi Dandim 0809 Kediri
Suwito mengakui, status cagar budaya nasional juga berpengaruh. Terutama bagi arus wisatawan.
Yang akan semakin banyak di waktu Minggu atau hari-hari besar tertentu.
“Ini kan hari-hari biasa mesti ada. Meskipun ya tidak terlalu banyak. Tapi ada terus. Istilahnya banyu mili,” beber pria 62 tahun itu.
Pengunjung pun tidak melulu hanya umat Katolik. Melainkan masyarakat umum yang sekadar ingin berwisata di kawasan gereja yang luas dan asri itu.
“Malah Muslim pun juga banyak yang ingin melihat-lihat. Refreshing,” tandasnya.
Menariknya, dibandingkan Natal, Jumat Legi justru lebih banyak menarik umat untuk berkunjung dan berdoa di sana.
“Jumat Legi yang paling ikonnya. Paling banyak kunjungan umat,” sambungnya.
Baca Juga: Inilah Profil SMAN 1 Ngadiluwih Kediri yang Punya Segudang Prestasi
Suwito juga menyebut, pengunjung dari luar provinsi pun banyak. Seperti dari Jogjakarta hingga Bandung, Jawa Barat.
Pada umumnya, jemaat Jumat Legi bisa mencapai ribuan. Berbeda dengan Misa Natal yang rata-rata hanya 500-an jemaat. Tahun ini pun diperkirakan jemaat yang hadir masih sekitar 500-an orang.
“Karena kalau Natal kan mereka merayakan di tempat masing-masing bisa. Kalau Jumat Legi mereka nggak punya,” tandasnya.
Pantauan Jawa Pos Radar Kediri, sehari sebelum malam Natal kemarin, beberapa umat masih terlihat mengunjungi kompleks Gereja Puhsarang.
Khususnya Gua Maria Lourdes. Juga, tak sedikit yang mampir di sentra oleh-oleh sebelum atau sesudah mengunjungi gua Maria.
Baca Juga: Sutan Riehansyah, Anak Legenda Persik Kediri yang Akan Menimba Ilmu Sepak Bola di Spanyol
“Paling banyak yang dibeli tempat air sama lilin untuk doa,” ujar Fitri, salah satu pedagang.
Sayangnya, menurutnya, cuaca yang kerap hujan beberapa hari ini membuat beberapa pengunjung jarang mampir ke kios oleh-oleh.
Pengunjung pun menurutnya paling banyak baru pada malam Natal atau Hari Natal pada Rabu (25/12) mendatang.
“Dari luar kota sudah banyak yang datang. Tapi kalau yang rombongan besar masih jarang. Mungkin besok (hari ini, Red),” duganya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel
Editor : Anwar Bahar Basalamah