Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Sosok Letkol Inf Ragil Jaka Utama, Ahli Tempur yang Kini Jadi Dandim 0809 Kediri

Ayu Ismawati • Jumat, 20 Desember 2024 | 16:33 WIB

 

Photo
Photo

JP Radar Kediri - Jangan tanya soal pengalaman tempur kepada Letnan Kolonel (Letkol) Infanteri Ragil Jaka Utama. Sudah tak terbilang lagi berapa kali dia bertugas di daerah konflik.

Bahkan, karirnya lebih banyak berkutat dengan satuan tempur, batalyon infanteri (yonif).

“Sebelum ini saya jadi komandan Yonif 527/Baladibya Yudha Lumajang,” ucapnya ramah. Memang, meskipun lahir dan besar di kesatuan tempur, kesan ramah sangat kuat terpancar dari sosok prajurit kelahiran Semarang, Jawa Tengah ini.

Bagi pria 41 tahun ini, karir militernya memang lebih banyak dihabiskan di Pulau Jawa. Selepas lulus dari akademi militer (akmil), dia ditempatkan di Kabupaten Jember. Sepuluh tahun di tempat ini, dia kemudian pindah ke Balikpapan, Kaltim. Mengikuti pendidikan di kota tersebut.

“Empat tahun di Balikpapan akhirnya kembali lagi ke Jawa Tengah dan Jawa Timur,” terang lulusan Akmil 2004 ini. 

Sebenarnya, bertugas di Jawa, bagi abiturien akmil, bukan sesuatu yang diidamkan. Ada anggapan di Jawa tidak ada apa-apanya dibanding daerah di luar Jawa.

Namun, bagi Ragil, justru melewati berbagai penugasan di daerah-daerah konflik. Ini tak lepas dari karirnya yang lebih sering di satuan tempur.

Termasuk memimpin ratusan prajurit Batalyon 527 ke Papua. Di tempat ini, ada prestasi membanggakan yang dicapai pasukannya. Yaitu mengibarkan bendera Merah Putih.

“Di Distrik Bibida di Kabupaten Paniai, sejak Negara Indonesia berdiri sampai kemarin itu, belum pernah namanya pengibaran bendera Merah Putih. Karena daerah itu masuk kategori daerah hitam yang dikuasai kelompok kriminal bersenjata atau Organisasi Papua Merdeka,” kenangnya terkait keberhasilan pasukannya menguasai salah satu daerah konflik di Papua itu.

Selain penugasan di dalam negeri, bapak tiga anak itu juga beberapa kali ditugaskan dalam operasi di luar negeri. Di antaranya pada 2017 lalu, saat dia tergabung dalam misi perdamaian Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) di Darfur, Sudan.

Saat itu, dia dinilai mengharumkan nama Indonesia setelah berhasil menggagalkan upaya pencurian aset United Nations (UN) atau PBB di Super Camp, El Geneina, Darfur Barat, Sudan.

“Karena memang di sana itu konflik suku. Sama-sama agama Islam, mereka berkonflik antara pemerintah maupun masyarakat yang anti-pemerintah. Dan memang seperti di film-film. Biasa kita melihat orang di pasar bawa senjata, orang bertempur. Sementara kami harus di tengah untuk menjaga hal itu tidak terjadi,” ujarnya, menceritakan yang dia alami selama mengikuti misi perdamaian di daerah berkonflik itu.

Baca Juga: Sutan Riehansyah, Anak Legenda Persik Kediri yang Akan Menimba Ilmu Sepak Bola di Spanyol

Suami Dian Arimbi ini menuturkan, selama karirnya juga selalu tak lepas dari penugasan di daerah rawan konflik. Mulai dari menjaga kedaulatan negara di perbatasan Kalimantan, hingga pengamanan konflik horizontal di Maluku Utara.

Dengan begitu, berhadapan dengan situasi hidup dan mati sudah menjadi ‘makanannya sehari-hari’ selama bertugas.

“Termasuk kemarin pengalaman kami di Papua, bahkan anggota saya bercerita, ‘Komandan, tiga kali kontak tembak, kok Komandan nggak kena-kena? Seperti itu. Ya kalau kena, berarti saya sudah mati. Saya jawab begitu,” kelakarnya, diikuti tawa kecil.

Dia pun bersyukur. Selama menghadapi tugas berat itu, masih diberi keselamatan. Dia percaya, membawa prajurit ke medan rawan konflik itu merupakan upaya tulus menciptakan perdamaian.

“Alhamdulillah Tuhan masih sayang sama saya dan kita berhasil. Dari aspek stabilitas keamanan terjaga,” tandasnya.

Setelah bertahun-tahun ditugaskan sebagai prajurit tempur, kini Letkol Inf Ragil mendapat amanah baru sebagai komandan markas komando kewilayahan.

Baginya, tugas baru itu juga memiliki tantangan tersendiri baginya. Sebab, ada pola pikir atau mindset dari dirinya yang juga harus dia ubah.

“Sebelumnya (mindset) memenangkan pertempuran. Sekarang harus memenangkan pikiran dan hati rakyat. Jadi ya cukup berat tugas dan tantangan di Kediri,” akunya.

Apalagi, Kediri dianggap sebagai center of gravity di kesatuan Kodam V Brawijaya. Kota dan Kabupaten Kediri dianggap cukup kompleks dari berbagai aspek. Termasuk, dari sisi histori keduanya.

“Dari historinya itu bukan sembaranganlah. Seperti itu kurang lebihnya,” bebernya.

Dengan tugas dan tanggung jawab baru ini, dia berharap kehadirannya sebagai pejabat baru di Bumi Panjalu bisa memberikan makna. Khususnya bagi masyarakat, baik di Kota maupun Kabupaten Kediri.

“Apalagi sekarang program-program TNI Angkatan Darat sangat luar biasa menyentuh ke bagian dasar-dasar masyarakat itu sendiri,” pungkasnya.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#Letkol #radar kediri #Batalyon Infanteri #Dandim 0809 #Letkol Inf Ragil Jaka Utama #letnan kolonel #jawa pos #kota kediri