JP Radar Kediri - Perempuan berjilbab krem bergegas masuk ke kafe yang berada di Jalan Erlangga, Ngasem. Ransel besar tercangklong di punggungnya.
“Maaf, terlambat. Ini tadi habis ngisi acara dan pulang sebentar,” ucap wanita berbaju biru donker tersebut dengan diwarnai senyuman.
Setelah duduk, wanita bernama lengkap Pradina Yeni Oktavia Rahmawati itu mengeluarkan sesuatu dari ranselnya. Sesosok boneka besar. Berjilbab biru dan berbaju ungu.
“Ini namanya Lala,” ucap Kak Dina, panggilan sehari-hari wanita berusia 31 tahun ini.
Ya, Lala adalah ‘karib’ Kak Dina. Berperan penting dalam setiap aktivitasnya sebagai pendongeng. Apalagi, setiap kali tampil, si Lala ini bisa ‘berbicara’.
Melalui teknik ventriloquisme alias suara perut. Ya, Kak Dina adalah seorang ventrilokuis, sebutan untuk pendongeng yang menggunakan sulap suara alias suara perut.
Keahlian bersuara perut tersebut belum lama dia miliki. Baru sekitar empat tahunan ini. Hampir bersamaan dengan keputusannya menerjuni dunia dongeng mendongeng.
Namun, kemampuannya berventrilokuis layak diacungi jempol. Ketika melakukan itu, gerak bibir Kak Dina nyaris tidak terlihat. Sehingga suara yang muncul seperti dari sang boneka, Lala.
“Hai teman-teman semuanya,” ‘ucap’ si boneka dengan karakter suara yang sedikit serak.
Sesaat kemudian, perempuan beranak satu ini mengembalikan Lala ke tempatnya, di dalam ransel. Setelah itu bercerita asal mula dia ‘terjebak’ sebagai seorang pendongeng ventrilokuis.
Bermula pada 2020 silam, ketika dia melihat ada lomba berkisah online yang digelar Sigma Daya Insani Bandung, Jawa Barat.
Memang, saat itu dia tak menjadi pemenang. Namun, itulah tonggak di mana mendongeng menarik minatnya.
“Kok seru ya? akhirnya saya bikin konten di YouTube, Instagram dan TikTok,” cerita alumnus Universitas Negeri Malang (UM) ini.
Awalnya ia hanya berniat mendapat penghasilan dari konten video mendongeng di sosial media tersebut.
Ternyata, respon yang muncul di luar dugaannya. Banyak orang tua dan pendidik yang menghubungi. Memintanya tampil mendongeng di acara-acara off-line.
Setelah itu, ada lagi lomba mendongeng yang digelar oleh lembaga lokal. Saat mengikuti lomba inilah dia mulai menggunakan boneka sebagai tandem. Dengan menerapakn teknik ventrilokuis.
“Bonekanya masih ukuran kecil, belum punya uang untuk beli yang besar,” senyumnya mengembang ketika mengenang hal itu.
Usai lomba, Kak Dina pun mulai dikenal sebagai ventrilokuis. Terutama oleh warga di sekitarnya. Permintaan mendongeng di beragam acara mulai berdatangan.
Tapi, bukan berarti pundi-pundi uang langsung berdatangan. Selain dia tak mematok tarif setiap kali diminta mendongeng, apresiasi yang diberikan pengundang pun beragam.
Bahkan, pernah dia hanya diberi nasi kotak.
“Ya saya terima kasih, saya niatnya itu berproses. Jadi sambil belajar sambil melakukan,” tawa Kak Dina mengenang masa-masa itu.
Baginya, rezeki tak melulu berupa uang. Mendapat relasi pun juga bagian dari rezeki itu.
“Saya juga pernah mengisi di daerah Prigi Trenggalek. Mereka membayarnya tidak dengan uang tetapi hasil bumi,” paparnya sembari menyebut ia pulang dengan membawa pisang, ketela, manggis, dan durian.
Sebenarnya, DNA mendongeng tidak dia dapat dengan tiba-tiba. Tapi diwarisi dari sang ibu, yang seorang guru taman kanak-kanak. Kemudian, dia perkuat dengan belajar di komunitas pendongeng.
“Awal itu belajar di sana (komunitas pendongeng, Red) melalui online. Belajar ventrilokuis, seni sulap suara,” ungkap pemilik gelar sarjana psikologi ini.
Beragam pengalaman menarik didapatnya selama berkecimpung di dunia mendongeng. Kerap mengisi berbagai kegiatan anak sekolah. Mulai dari bercerita nabi, fabel hingga lainnya.
“Serunya jadi pendongeng itu bisa bertemu sama anak-anak. Saya bisa memasukkan nasihat tanpa menggurui,” ujarnya.
Kak Dina juga pernah disuruh mengisi acara di salah satu sekolah inklusi. Ketika dia bertemu beberapa anak istimewa.
Yang, baginya, merupakan tantangan. Saking semangatnya, anak-anak tersebut ada yang mendekat dan meminta gendong.
“Mengkondisikan mereka sambil bercerita itu juga menantang,” papar perempuan asal Pare ini.
Dina mempunyai keinginan mendalam, ingin memperkenalkan dunia dongeng kepada orang-orang. Terlebih orang di sekitarnya. Sebab, saat ini masih banyak yang awam dengan dongeng.
Selain itu, ia juga sering kali mendapat banyak pertanyaan dari orang tua tentang bagaimana cara mendongeng untuk anak-anaknya. Dina pun juga bersemangat menularkan ilmu. Menurutnya, setiap orang itu adalah pendongeng.
“Setiap kita adalah pendongeng. Dan pendongeng terbaik bagi anak adalah orang tuanya sendiri,” tandasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah