JP Radar Kediri - Sorak-sorai mengudara di hall Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Kediri. Yaitu, ketika master of ceremony mengumumkan siapa yang menjadi juara Green School Mapping Competition 2024.
Siswa dan guru SDN Betet 3 pun berjingkrak. Bangkit dari kursi, meluapkan bahagia dengan tepuk tangan dan berpelukan satu sama lain.
“Sejak workshop dulu kami mulai mempersiapkan diri. Setiap ada kesempatan, setelah jam pelajaran selesai,” ucap bahagia Amira Clarista Nasution, selepas menerima trofi dari Kadisdik M. Anang Kurniawan.
Amira, bersama dua temannya-Avisa Mavaza Tsaqilla dan Aqilla Nisaul Aulia-memang garda depan sekolah ini.
Presentasi ketiganya juga memikat dewan juri. Lugas, dan menguasai persoalan.
Tapi, tidak hanya soal presentasi yang menjadi modal sekolah tersebut tampil prima dalam lomba yang digelar Disdik Kota Kediri dan Jawa Pos Radar Kediri ini.
Pemetaan berbagai persoalan lingkungan di sekolahnya adalah faktor utama. Persiapan yang mereka lakukan selama 1,5 bulan.
“Salah satu temuan risiko di lingkungan sekolah ada di sampah sungai yang berada di depan sekolah,” sambung siswa kelas lima ini.
Ya, sekolah itu memang berada tepat di belakang sungai kecil. Apalagi, bila malam hari tepi sungai dimanfaatkan warga untuk berjualan. Menjadikan banyak sampah berserakan ketika pagi.
“Biasanya setiap malam juga ada yang jualan. Terkadang ada yang sampahnya dibuang ke sungai. Akhirnya untuk solusinya kami pasang tulisan larangan membuang sampah ke sungai,” Avisa menimpali.
Isu pengelolaan sampah memang jadi salah satu yang mereka sorot. Sudah bukan rahasia umum bahwa masih banyak masyarakat yang menganggap sungai sebagai tempat pembuangan sampah.
Tak jarang, pembuang sampah merupakan pengguna jalan yang sengaja membuang di aliran sungai itu. Jika tidak ditangani serius, tentu sekolah juga terkena dampak.
“Kadang ada yang membuang popok sekali pakai,” sambungnya.
Selain memetakan faktor risiko di lingkungan sekolah, siswa juga harus bisa memetakan potensi lingkungan.
Lahan sekolah yang cukup luas jadi salah satu potensi yang mereka kembangkan menjadi ruang-ruang terbuka hijau.
“Dari dulu sudah banyak ditanami dengan tanaman-tanaman produktif. Kalau di sini yang paling banyak itu pohon mangga. Ada juga beberapa tanaman buah seperti pisang, anggur, dan jambu,” terang Ika Dhevi Tartiana, guru pendamping di SDN Betet 3.
Awalnya, buah-buahan yang melimpah setiap masa panen itu hanya dibagikan kepada siswa dan guru. Seiring waktu, mereka mulai berinovasi dengan mengolah buah-buah menjadi berbagai produk.
“Kami olah jadi jus, pudding, minuman herbal, dan kue,” sambung Ika.
Sebagai sekolah yang tengah mempersiapkan Adiwiyata Mandiri, mereka terus berbenah. Dengan begitu, memetakan permasalahan di sekolah sudah mereka terapkan sebelumnya.
“Cuma kalau detail dengan mencakup banyak isu seperti di Green School Mapping Competition ini memang baru pertama kali kami lakukan. Memang jauh lebih memudahkan dalam mengumpulkan permasalahan di sekolah,” beber guru kelas 2 itu.
Diakui Ika, meski sudah banyak perkembangan ke arah pelestarian lingkungan hidup yang dilakukan oleh sekolah, namun permasalahan itu tetap selalu ada.
Oleh sebab itu, dia pun mendorong anak didiknya untuk mencari potensi risiko dan peluang semaksimal mungkin. Mulai dari area terluar sekolah hingga yang jarang mendapat perhatian.
“Kami yakin permasalahan itu tetap ada. Kalau anak-anak mau mencari,” tandasnya.
Selain SDN Betet 3, empat sekolah dasar lainnya juga mendapat apresiasi sebagai sekolah dengan hasil pemetaan terbaik.
Itu meliputi SDN Pojok 1 sebagai peringkat kedua dan SDN Bandarlor 3 yang mendapat posisi ketiga.
Kemudian, SD Katolik Frateran 1 dengan predikat harapan 1 serta SDI Kreatif The Naff sebagai penerima harapan 2.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah