KEDIRI, JP Radar Kediri- Doa masyarakat untuk Agus Komarudin dan keluarga masih terus melangit. Kemarin, ratusan siswa SDN Babadan 1 bersama para guru dan para kepala SD di Kecamatan Ngancar menggelar doa bersama.
Peringatan tujuh hari kematian keluarga yang tinggal di Desa Pandantoyo, Ngancar secara tragis itu juga diisi acara tumpengan.
Pantauan koran ini, doa bersama yang dimulai sekitar pukul 08.00. Ratusan siswa yang berkumpul di aula SDN Babadan 1, kompak mendoakan Agus Komarudin, 38; Kristina, 37; dan Christian Agusta Wiratmaja Putra, 12.
Mereka berkumpul bersama dengan para guru SD dari berbagai SD dan kepala SD di Kecamatan Ngancar.
Kepala SDN Babadan 1 Putut Retno Utomo mengatakan, doa kemarin merupakan bentuk penghormatan kepada Agus, sosok guru yang baik di SDN Babadan 1.
Saking baiknya, Agus yang merupakan wali kelas IV itu sangat disukai oleh murid-muridnya.
Baca Juga: Inilah Sosok Emil Wahyudiono, Kepala BPS Kota Kediri yang Suka Blusukan ke Pasar dengan Motoran
"Hari ini (09/12) kami kirim doa untuk almarhum Pak Agus Komarudin dan keluarga. Semoga arwah beliau mendapat tempat terbaik di sisiNya,” ungkap Putut.
Lebih jauh Putut menyebut, Agus merupakan sosok guru yang baik dan penyabar. Sikap itu pula yang membuat Agus banyak disukai oleh anak-anak.
“Kami sangat berduka sekali, merasa sangat kehilangan Pak Agus. Semoga kejadian seperti ini tidak akan terjadi lagi,” harapnya.
Terpisah, Alyura Amanta Putri, 10, siswa kelas IV mengatakan hal yang sama. Menurutnya Agus merupakan guru yang sabar. Saat marah dia tidak pernah bersikap kasar kepada muridnya.
“Kalau ada tugas-tugas yang sulit, dijelaskan dengan sabar. Pak Agus terbuka untuk setiap pertanyaan. Yang paling diingat dari Pak Agus orangnya sangat sabar,” aku bocah asal Desa Babadan itu.
Seperti diberitakan, Yusa nekat menghabisi nyawa Kristina, Agus Komarudin, dan Christian Agusta Wiratmaja pada Rabu (4/12) dini hari lalu.
Yusa yang emosi langsung memukulkan palu seberat lima kilogram ke arah leher dan kepala Kristina hingga dia tewas.
Aksi nekatnya itu dipicu penolakan sang kakak saat residivis kasus penjambretan itu meminjam uang lagi.
Teriakan dan keributan yang terjadi sebelumnya membuat Agus Komarudin terbangun. Dia langsung dipukul palu hingga tewas.
Hal yang sama juga dilakukan kepada Christian Agusta Wiratmaja, 12, dan Samuel Putra Yordaniel, 9. Jika Christian tewas di tempat, Samuel kini dirawat di RS Bhayangkara.
Terkait perkembangan Kesehatan Samuel, Sekretaris Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A ) Kabupaten Kediri Nono Soekardi mengatakan, bahwa dia berangsur pulih.
Apalagi setelah dilakukan operasi pengeluaran gumpalan darah dari tempurung kepala Samuel.
“Kami juga lakukan pendampingan psikolog klinis. Baik dari korban maupun dari keluarga,” jelasnya.
Dia mengatakan, saat ini Samuel masih merasa ketakutan saat bertemu dengan orang asing. Terkadang dia menolak berkomunikasi dengan orang tidak dikenal.
Baca Juga: Inilah Firasat Agus, Guru SDN yang Jadi Korban Pembunuhan Satu Keluarga di Ngancar Kediri
Termasuk tim psikolog yang mendampinginya. “Artinya dia tidak mau dikunjungi banyak orang. Karena memang traumanya luar biasa,” jelasnya.
Menurutnya, dalam waktu dekat ini juga belum memungkinkan Samuel dipulangkan ke keluarga.
Apalagi menurutnya juga masih belum diputuskan siapa keluarga yang akan merawatnya nanti.
“Untuk yang mengasuh, tentu masih keluarga, namun tergantung dari kehendak si anak,” paparnya.
Sementara itu, Priyanto, kakak Kristina mengatakan, sesuai dengan kesepakatan keluarga besar, nantinya pelajar kelas V SDN Pandantoyo 1 itu akan dirawat orang tua dari Agus. Mempertimbangkan Samuel yang merasa lebih nyaman di sana.
“Tinggal dan diasuh oleh orang tua Agus Komarudin (Ayah Samuel) di Batuaji, Ringinrejo. Karena Samuel mungkin lebih nyaman di sana,” terang laki-laki yang tinggal di Desa Bangsongan, Kecamatan Kayenkidul itu.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah