Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Inilah Firasat Agus, Guru SDN yang Jadi Korban Pembunuhan Satu Keluarga di Ngancar Kediri

Ayu Ismawati • Jumat, 6 Desember 2024 | 17:08 WIB
TINGGAL KENANGAN: Agus guru kelas empat, mengapresiasi anak didiknya di SDN Babadan 1 yang berprestasi. Foto kiri, Agus Komarudin bersama Kristina, Christian, dan Samuel sebelum aksi perampokan (4/12)
TINGGAL KENANGAN: Agus guru kelas empat, mengapresiasi anak didiknya di SDN Babadan 1 yang berprestasi. Foto kiri, Agus Komarudin bersama Kristina, Christian, dan Samuel sebelum aksi perampokan (4/12)

JP Radar Kediri - Guru-guru di SDN Babadan 1 memang cemas karena Agus Komarudin  ‘menghilang’ selama dua hari. Namun, mereka tak menyangka bahwa absennya guru agama Kristen itu akibat tragedi memilukan.

Terbunuh bersama anggota keluarganya karena, dugaan sementara, perampokan.

“Hari Selasa (3/12, Red) komunikasi sama saya. Pak, saya hari Rabu besok izin karena ada undangan ASN Day,” ucap Kepala SD Babadan 1 Putut Retno Utomo, menyebut alasan Agus mengajukan izin.

Karena itu, ketika sehari kemudian sang guru tak hadir mengajar tidak ada yang curiga.

Namun, kekhawatiran mulai muncul setelah pendidik 38 tahun itu tak nongol dalam acara yang berlangsung di Desa Bulusari, Kecamatan Tarokan itu.

Dan, rasa waswas kian memuncak ketika dia juga tak hadir mengajar sehari setelahnya.

“Saat tak datang di ASN Day itu saya hubungi, saya telepon. Tapi tak diangkat,” kenang Putut.

Beragam kekhawatiran itu mendorong para guru di sekolah tersebut mendatangi rumah korban di Dusun Gondanglegi RT 02 RW 05 Desa Pandantoyo, Kecamatan Ngancar.

Tak bisa dibayangkan lagi betapa  terkejutnya mereka yang mencari itu.

Mendapati rekannya-dan juga anak dan istrinya-tergeletak bersimbah darah. Dengan tubuh yang tidak bernyawa lagi.

Terlebih lagi Putut, dia langsung ingat ucapan yang dikeluarkan oleh korban ketika terakhir kali berkomunikasi. 

“Waktu terakhir komunikasi itu juga sempat curhat, Pak saya kok ndredeg. Saya bilang, halah nggak apa-apa pak, semangat. Jenengan sudah bagus,” bebernya.

Baca Juga: Kronologi Pembunuhan Satu Keluarga di Ngancar Kediri, Diduga Korban Perampokan

Memang, tragedi yang menimpa Agus dan keluarganya itu sangat menyesakkan dada rekan-rekan dan kerabatnya. Selama ini dia dikenal sebagai sosok yang baik.

Yang sangat peduli pada peningkatan kualitas pendidikan. Bahkan, di acara ASN Day itu, sedianya dia memaparkan program peningkatan kualitas pembelajaran.

Menurut Putut, guru kelas 4 tersebut memiliki kepribadian yang baik. Dia juga rajin dan disiplin. Walaupun pendiam tapi interaksi dengan guru lain tergolong bagus.

Murid-muridnya pun sangat menyukai sosok guru yang baru diangkat menjadi PPPK pada awal 2023 itu.

Tak hanya SD Babadan 1 saja yang berduka karena tragedi ini. Seluruh warga SDN Pandantoyo 1 pun demikian.

Sebab, si bungsu-Samuel Putra Yordaniel-adalah siswa sekolah ini. Bocah 10 tahun ini duduk di kelas 5C.

Kecurigaan pihak sekolah sudah muncul karena Putra tak masuk sejak Rabu (4/12).  Apalagi tanpa pemberitahuan sebelumnya.

“Guru saya menghubungi orang tuanya Rabu sore itu, tidak nyambung. Terus tadi (kemarin, Red) ulangan juga tidak masuk. Akhirnya waktu jam istirahat disambangi. Waktu disambangi kok ada kejadian itu,” kata Kepala SDN Pandantoyo 1 Darwati.

Secara pribadi, Darwati mengenal baik keluarga itu. Agus sebelumnya pernah mengajar Agama Kristen di sekolahnya.

Pun dengan Kristina-istri Agus-yang Juni lalu aktif berpartisipasi menyiapkan perpisahan siswa kelas VI. Saat itu, putra sulung pasangan itu juga lulus dari sekolah ini.

“Yang sulung juga sae. Bagus-bagus tidak aneh-aneh. Komunikasi dengan saya juga baik. Makanya saya sangat kaget ini tadi,” kenangnya.

Kebaikan keluarga ini juga disampaikan Minatun, tukang pijat langganan Kristina. Meskipun, keluarga ini jarang bersosialisasi dengan tetangga.

"Karena guru juga. Jadi memang repot ya. Jadi jarang ke tetangga. Tapi saat Lebaran dia selalu main ke tetangga-tetangga," jelas perempuan 55 tahun itu.

Sutarman, 65, ayah dari Agus juga mengatakan bahwa kepribadian anaknya itu baik. Walau tidak tahu pasti, namun menurutnya sang anak tidak pernah berbuat salah dengan orang lain.

"Setahu saya dia gak punya musuh," jelas warga Batuaji, Ringinrejo itu.

Saat kali terakhir dia bertemu dengan sang anak pada Senin malam (2/12). Saat Agus sekeluarga mengunjunginya. Namun dia tidak menyangka ternyata itu merupakan pertemuan terakhirnya.

"Gak ada firasat apa-apa," ucapnya, dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.

Dia baru tahu bahwa anaknya meninggal dunia kemarin siang. Saat bersantai di rumah, dia dikabari bahwa anaknya kecelakaan.

Dia tidak tahu bahwa anaknya meninggal akibat kejadian yang mengenaskan seperti itu.

"Tahu-tahu kalau dirampok saat sudah di lokasi. Kok banyak orang, (jadinya) langsung lemes," kenangnya.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #Pembunuhan Agus Komarudin #perampokan kediri #pembunuhan kediri #pembunuhan satu keluarga #pembunuhan guru #PEMBUNUHAN NGANCAR #jawa pos