Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Pria Asal Kediri Ini Adalah Satu dari Tiga Perajin Seruling Kayu di Indonesia

Habibaham Anisa Muktiara • Kamis, 21 November 2024 | 16:53 WIB
Sugiarto memainkan seruling kayu buatannya yang diminati oleh masyarakat di berbagai belahan dunia.
Sugiarto memainkan seruling kayu buatannya yang diminati oleh masyarakat di berbagai belahan dunia.

JP Radar Kediri - Suara seruling merdu mengalun. Datang dari teras salah satu rumah di Dusun Genukwatu, salah satu dusun yang masuk wilayah Desa Nanggungan, Kecamatan Kayenkidul.

Yang memainkan alat musik tiup itu adalah si pemilik rumah, Sugiarto. Tangannya lincah berpindah dari satu lubang ke lubang lain.

Ujung seruling itu juga berada tepat di depan mickrofon. Menjadikan suara yang dihasilkan lebih kuat. Tak terganggu oleh bising deru kendaraan yang melintas di depan rumah.

“Ini namanya native american flute,” sebut Sugiarto, setelah menyelesaikan tiupannya.

Pria ini sangat paham soal seruling yang dia tiup itu. Sebab, dia juga pembuatnya.

Lebih hebatnya lagi, Sugiarto adalah satu dari sedikit pembuat seruling kayu yang dimiliki Indonesia. Dua lainnya ada di Bali dan di Jogjakarta.

Seruling yang dia peragakan itu panjangnya satu meter. Lebih lebar dibanding seruling biasa yang terbuat dari bambu. Juga, bentuknya tidak membulat.

Cenderung pipih dengan tiga lubang yang memanjang, mirip tiga seruling yang dijadikan satu.

“Ini yang flute triple harmony,” terang pria yang karib disapa Sugi ini. Sembari menjelaskan, pria 37 tahun ini kemudian menunjukkan jenis seruling kayu yang lain.

Yang ukurannya lebih pendek. Hanya sekitar 20-an sentimeter dengan lima lubang pengatur nada.

“Yang ini ocarina natural,” kata pria yang memiliki satu momongan ini.

Sebagai perajin, wajar bila bungsu dari sembilan bersaudara ini sangat tahu detil dan jenis seruling.

Apalagi, karyanya sudah tak terhitung lagi yang tersebar di luar negeri, mulai Asia hingga Eropa. Namun, siapa sangka bahwa kemampuannya itu dia dapat secara tidak sengajar.

“Waktu itu kerja di Bali. Serabutan. Termasuk menjadi tukang bersih AC,” kenangnya.

Suatu ketika, dia membersihkan AC di rumah seorang warga Jerman. Namanya Mr Argent. Ternyata, si empunya rumah adalah pembuat seruling. Baik itu bambu maupun kayu.

Sugi kemudian bekerja di tempat itu. Sekaligus belajar membuat seruling, baik kayu maupun bambu. Karya pertamanya adalah jenis suling khas Bali, rindik. Bahannya bambu rampal.

“Setelah itu baru belajar american flute,” lanjutnya.

Tidak mudah  mempelajari pembuatan suling. Butuh waktu lama. Sebab, harus pas antara skala-ukuran-dan tuning-penyesuaian nada. Apalagi, American flute berbahan kayu.

“Semua jenis kayu bisa digunakan. Asalkan yang tidak bergetah, seperti pinus,” terangnya.

Suami Novita Rahayu ini tidak terus bekerja di Mr Argent. Merasa lelah di rantau, sudah belasan tahun, Sugi memilih pulang.

Pada 2018 dia mencoba peruntungan dengan membuka usaha las dan bubut.

Ternyata, jalan hidup menjadi perajin seruling mendatanginya lagi. Berawal ketika dia mendapat telepon dari seseorang di luar negeri. Yang memintanya membuatkan seruling kayu.

“Ternyata Mr Argent sudah meninggal. Dan orang tersebut dapat nama saya dari mulut ke mulut,” ujar anak pasangan Satari dan Sani ini.

Hingga saat ini rata-rata pemesan seruling kayunya adalah warga luar negeri. Hasil karyanya sudah dia kirim ke Kanada, Amerika Serikat, Jerman, Spanyol, Perancis, Malaysia, dan Vietnam.

Beragam model seruling dia buat, sesuai pesanan. Ada yang panjangnya satu setengah meter.

Yang jenis ini waktu pembuatannya hampir setahun. Karena beberapa kali gagal saat tuning.

“Gagal sampai lima kali. Padahal, kalau gagal harus mengulang membuat dari awal,” jelasnya.

Sesaat kemudian, Sugi beranjak dari duduknya. Menunjukkan cara membuat seruling kayu. Lembaran kayu dia potong dua dengan ukuran 40 x 3 sentimeter.

Setelah itu direkatkan dengan lem dan digerinda membentuk tabung dan diberi lubang tengah. Setelah itu dibuat lubang pengatur nada di bagian permukaan.

“Setelah itu lanjut  proses tuning,” jelas alumnus Poltek Malang ini.

Idealnya, proses penyelarasan suara itu berlangsung di studio. Sayang, Sugi tak memiliki fasilitas itu. Akhirnya, dia harus melakukan proses tuning di dini hari. Ketika suasana hening dan sepi.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radarkediri #PERAJIN SERULING #jawapos #kayenkidul #seruling