JP Radar Kediri- Jarum jam menunjukkan pukul 13.00, Senin (21/10) lalu. Muhammad Isnan dan enam temannya terlihat sibuk membelah trembesi yang baru mereka ambil dari area Taman Joyoboyo, Kota Kediri.
Memegang pisau di tangan kanan, pria yang akrab disapa Isnan itu begitu terampil memisahkan biji trembesi dengan buahnya di salah satu kafe di Kelurahan, Tamanan, Kecamatan Mojoroto.
“Kami lihat banyak berserakan trembesi dari Taman Joyoboyo. Makanya kami kumpulkan untuk dibikin minuman trembesi. Rasanya manis,” kata Isnan membuka perbincangan.
Berusaha memanfaatkan sampah yang berpotensi merusak lingkungan menjadi kata kuncinya. Buah trembesi yang banyak berserakan di taman itu tidak hanya mengganggu pemandangan. Melainkan juga membuat taman terkesan menjadi kotor.
Karenanya, Isnan bersama enam temannya berusaha mengambili trembesi di sana sekaligus berusaha memanfaatkannya.
Meski belum pernah melakukan pengujian dari khasiat minuman, pria berusia 29 tahun itu meyakini minuman sari trembesi yang rasanya manis itu baik untuk kesehatan. Hal itu tak lepas dari manfaat daun dan biji buah trembesi yang baik untuk kesehatan.
Memanfaatkan trembesi agar kawasan Taman Joyoboyo bisa menjadi lebih bersih, hanya salah satu langkah yang dilakukan Langkah Bumi Indonesia untuk mewujudkan kecintaannya pada alam.
Yayasan yang terbentuk sejak setahun lalu itu sudah banyak melakukan kegiatan serupa lainnya. “Setiap bulan kami memiliki kegiatan untuk pelestarian alam,” lanjut pria yang juga menjadi editor kantor berita online tersebut.
Seperti halnya upaya mereka memanfaatkan buah trembesi, Langkah Bumi Indonesia juga terbentuk dari kegelisahan anggotanya akan banyaknya sampah yang berserakan di Kota Kediri.
Mereka melakukan berbagai cara agar sampah-sampah yang berserakan itu direduksi menjadi barang yang bermanfaat. “Kami juga mengubah diapers (popok sekali pakai, Red) menjadi kanvas,” bebernya.
Aktivitas lainnya, mereka berusaha menggerakkan banyak anak muda untuk menunjukkan kepeduliannya pada lingkungan.
Patna Sunu, anggota Langkah Bumi Indonesia lainnya mencontohkan saat mereka melakukan bersih-bersih sampah di Gunung Klotok pada 10 September lalu.
Mendaki gunung di wilayah barat Kota Kediri bersama tiga anggota lainnya, mereka membawa beberapa plastik kresek untuk menampung sampah. “Kami memunguti sampah yang banyak terdampak di sepanjang jalur pendakian,” kenangnya.
Berbagai jenis sampah mulai botol minuman hingga bekas pembungkus makanan dikumpulkan dan dibawa turun. “Mereka mengatasnamakan pecinta alam dan mendaki gunung tapi ternyata di atas malah meninggalkan sampah. Itu kan berarti nggak cinta alam,” sesal pria yang akrab disapa Sunu itu.
Untuk menyebarkan virus cinta alam dan memperluas jangkauan pelestarian alam, Langkah Bumi Indonesia juga membuat banyak konten edukasi tentang mencintai alam dan lingkungan.
Konten yang dibuat dengan cara kreatif itu lantas diunggah di media sosial agar semakin banyak anak muda yang mencintai alam.
Kalau nggak bisa menjaga (alam, Red), paling tidak ya jangan merusak,” papar Sunu tentang pesan dari banyak konten edukasi yang mereka buat.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah