KEDIRI, JP Radar Kediri - Gebrakan yang dilakukan Pemdes Kuwik ini patut mendapat apresiasi.
Mereka mengharuskan perangkat desanya untuk proaktif melestarikan seni ludruk. Bahkan, mereka harus bisa bermain ludruk.
Pemdes Kuwik memiliki cita-cita yang mulia. Tidak hanya membawa warganya hidup sejahtera.
Mereka juga memiliki perhatian khusus terhadap sektor kesenian. Terutama seni ludruk.
Upaya pelestariannya sangat nyata. Pemdes mewajibkan perangkat desanya untuk bisa menguasai kesenian ludruk. Harus bisa ludrukan.
“Ini sudah menjadi wasiat nenek moyang bahwa setiap perangkat desa diwajibkan bisa bermain ludruk,” ujar Kepala Urusan (Kaur) Perencanaan Desa Kuwik Supardi.
Dia mengatakan bahwa semangat itu tidaklah tumbuh tanpa sebab. Selama ini memang banyak tokoh ludruk lahir dari Desa Kuwik.
“Memang dari awal berdirinya ludruk di sini. Menjadi awal lahirnya ludrukan di Kediri Raya,” terangnya.
Lebih lanjut, pihaknya berharap budaya ludruk dapat menjadi ciri khas dan branding desa.
Pihaknya juga akan menggenjot langkah tersebut untuk dapat mengangkat nama baik desa.
“Kami berharap dengan branding desa yang masih mempertahankan budaya jawa ludruk bisa meningkatkan perekonomian warga,” harapnya.
Karena itulah, pemdes Kuwik terus melakukan sosialisasi tentang sejarah berdirinya ludruk di Desa Kuwik.
Pihaknya akan terus mencoba melakukan langkah persuasif agar masyarakat semakin mencintai budaya ludruk.
“Perangkatnya saja main kok, masa warganya tidak mau uri-uri budaya ludruk yang menjadi ciri khas Desa Kuwik,” tandasnya.
Lebih jauh pihaknya ingin supaya budaya ludrukan dapat memberi kontribusi langsung bagi desa.
Seperti wisatawan yang datang untuk menjadi rujukan pembelajaran terkait ludruk.
Geluti Usaha Pembuatan Keripik Bekal Ikuti Pelatihan
Keripik adalah salah satu camilan yang banyak disukai masyarakat. Usaha tersebut digeluti oleh Khoirunisa.
“Usaha yang saya tekuni ini berbekal ilmu yang saya dapatkan dari pelatihan,” ujarnya.
Khoirunisa menjelaskan awal mula bagaimana usaha keripiknya dapat berkembang karena mengikuti pameran.
Padahal, keripik bukan produk utamanya. “Pada saat itu keripik ini hanya sebagai sampel saja,” imbuhnya.
Di luar perkiraan, produk keripiknya justru laris manis. Saat itu juga dia langsung banting setir untuk lebih fokus membuat keripik.
Tidak hanya keripik pisang, dia juga membuat berbagai aneka keripik lainnya.
Usaha rumahan yang dia tekuni ini dibantu warga setempat yang dipekerjakannya.
Total, ada empat orang. Dengan begitu bisnisnya tersebut juga dapat bermanfaat bagi warga lainnya.
Dia memasarkan produk dengan cara menitipkan ke toko-toko. Produknya juga dijual secara online. Produknya laku hingga ke Surabaya dan Tangerang.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah