KEDIRI, JP Radar Kediri- Desa Titik memiliki tanah yang subur. Banyak tanaman yang tumbuh dengan subur di sana.
Tak terkecuali rempah-rempah. Tanaman tersebut bahkan dimanfaatkan sebagai bahan baku minuman herbal.
Usaha ini digeluti oleh Rinawati. Dia tidak hanya menjadi ibu rumah tangga biasa.
Perempuan 40 tahun tersebut dikenal sebagai produsen minuman herbal di desanya.
“Saya membuat minuman yang bahan bakunya memanfaatkan hasil dari produk pertanian dan perkebunan warga desa sini,” jelas Rinawati tentang usahanya tersebut.
Rinawati bercerita bahwa minuman buatannya menggunakan lebih dari empat jenis rempah-rempah. Mulai dari rimpang, lemon, rosela, kunir, hingga jahe.
Bahan-bahan tersebut diolah menjadi berbagai jenis minuman. “Ide membuat minuman ini setelah melihat slogan back to nature,” tuturnya.
Dia bersyukur produk buatannya tersebut mendapatkan respon postif. Dari situ Rinawati berani membuat banyak.
Bahkan dipasarkan hingga luar kota. Seperti Blitar, Tulungagung, dan Surabaya.
“Saat awal membuat, untuk pemasaran hanya di tetangga desa dulu,” kata Rinawati.
Dia juga rajin mengikuti pameran. Tujuannya agar produk buatannya lebih dikenal banyak orang.
Harga produknya tersebut relatif dijual murah. Mulai dari Rp 2.500 hingga Rp 6.000. Setiap bulan omzetnya mencapai Rp 2,7 juta.
Banyak Warga Gantungkan Hidup sebagai Pemecah Batu
Pemecah batu menjadi salah satu pekerjaan warga Desa Titik. Pekerjaan itu sudah dilakukan sejak puluhan tahun silam.
“Saya sudah menjadi pemecah batu sekitar 26 tahun,” jelas Rosmini, salah satu warga desa yang menjadi pemecah batu.
Sehari-hari, perempuan 52 tahun itu memulai aktivitasnya dengan memungut batu seukuran bola kasti di sungai.
Dari gubuk terpal tempatnya bekerja menuju sungai yang berjarak 500 meter. Jalan yang dilalui juga cukup curam. Sekali angkut, dia hanya mampu membawa 24 buah batu.
“Kalau musim hujan seperti sekarang saya takut hanyut. Jadi suami yang ambil batu,” ucapnya.
Batu dari sungai itu kemudian dipukul-pukul hingga terpecah menjadi seukuran tutup botol. Bahan bangunan ini populer disebut batu belah atau batu split.
Biasanya, material tersebut digunakan untuk pengecoran pondasi gedung, lantai, hingga hiasan taman.
Dia menjual batu split dengan takaran cikrak bambu. Satu keranjangnya dihargai Rp 6 ribu.
Namun, penghasilan Rosmini beberapa tahun terakhir berkurang. Dalam seminggu, rata-rata dia hanya mampu menjual 10 cikrak.
“Penghasilan tak menentu, ini sudah dua bulan belum laku,” ujar Rosmini kepada media ini.
Hal senada juga dirasakan oleh Rohanah. Dia juga sudah puluhan tahun menjadi pemecah batu.
Dari pekerjaan pemecah batu ini dia berhasil menghidupi kelima anaknya. “Batu ini diambil dari sungai. Sekali ambil bisa 5 hingga 10 kilogram,” kata Rohanah.
Dulunya, hampir seluruh warga Desa Titik menjadi pemecah batu. “Para pemecah batu di desa ini sudah ada sebelum Indonesia merdeka,” kata Kepala Desa Titik Ahmad Munir.
Menurut Munir, permintaan batu split dari desanya memang mengalami perubahan. Permintaannya tak sebanyak dulu.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah