KEDIRI, JP Radar Kediri- Program ini memiliki tujuan yang simpel sebenarnya. Yaitu menekan biaya pengeluaran belanja emak-emak di sana.
Lantas mereka mengembangkan tanaman hidroponik. Tak disangka, kini manfaatnya beragam.
Program unggulan tersebut digawangi oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Rondo Kuning.
“Nama Rondo Kuning sendiri diambil dari dongeng orang zaman dahulu,” terang Nursianto selaku Kepala Desa Gondang.
Dikisahkan, sosok Rondo Kuning merupakan penunggu sebuah sumber mata air yang berada di desa.
Nursianto menjelaskan bahwa kelompok tersebut sudah dibuat sejak tahun 2013 silam.
Namun kelompok ini baru disahkan oleh Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Kabupaten Kediri pada tahun 2016. “Anggota kelompok ini terdapat sekitar 24 orang,” terangnya.
Kelompok ini anggotanya adalah ibu-ibu. Sebagai anggota kelompok mereka memiliki jadwal bergantian untuk merawat tanaman tersebut.
Di halaman rumah mereka terlihat berbagai macam tanaman. Antara lain tanaman aneka jenis sawi, bayam, selada, kangkung, dan sebagainya.
Untuk media, mereka menggunakan polybag. Karena merupakan tanaman organik, mereka hanya menggunakan pupuk organik.
Kini tidak hanya digunakan pribadi. Namun stok sayurannya juga mereka kirim ke pasar-pasar.
Pada tahun 2019, kelompok ini meminjam lahan persawahan dengan lebar 1.400 meter persegi.
Di lahan sawah tersebut mereka menanam labu madu hingga cabai. Mereka juga kerap mengikuti berbagai pelatihan.
Mulai cara melakukan penanaman di polybag hingga cara membuat pupuk organik.
Konsisten Geluti Usaha Pembuatan Tempe selama Puluhan Tahun
Usaha pembuatan tempe di Desa Gondang tumbuh subur. Salah satu pengusaha tersebut adalah Imam Masduki.
“Saya mulai melakukan usaha pembuatan tempe sekitar tahun 2000,” terang pria yang kerap dipanggil Masduki tersebut.
Untuk produksi, Masduki dibantu oleh Asrofi, keponakannya dan Ahmad Fauzi, anak pertamanya.
Terkait produksi dalam satu hari, pria kelahiran 1954 ini dapat membuat tempe dengan bahan baku kedelai sekitar 100 kilogram.
“Dalam pembuatan tempe, kuncinya adalah memastikan kedelai matang secara merata,” imbuhnya.
Untuk dapat menjadi produk berkualitas, Masduki kerap mendapat tantangan. Saat awal membuka usaha, dia pernah mengalami beberapa kali kegagalan.
“Dulu waktu pertama kali produksi, karena terlalu lama masaknya jadi gagal,” tutur Masduki.
Bahkan akibat gagal tersebut, ia sempat membuang kedelai yang telah melakukan proses terakhir.
Tempe yang sudah rusak ketika dilakukan proses pembuatan, sudah tidak bisa digunakan. Daripada membuat petaka, dia memilih untuk membuangnya.
“Beda kalau tempe waras terus menjadi busuk, itu masih bisa dikonsumsi,” ungkap Masduki.
Dari usahanya membuat tempe, Masduki dapat menyekolahkan anak-anaknya hingga jenjang yang tinggi.
Tidak hanya memproduksi, dia juga langsung menjual tempe buatannya di Pasar Wonorejo.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah