KEDIRI, JP Radar Kediri- Pemdes Jarak sangat peduli dengan kualitas kesehatan warganya. Salah satunya dengan menekan angka stunting.
Berbagai upaya telah dilakukan. Seperti meningkatkan peran kader posyandu setempat.
Kasus stunting menjadi salah satu perhatian khusus Pemdes Jarak. Berbagai cara dilakukan. Salah satunya dengan mengintensifkan program posyandu.
“Setiap bulan orang tua yang memiliki anak balita dikumpulkan di balai desa,” jelas Kepala Desa Jarak Moh Toha.
Toha menjelaskan bahwa setiap bulan orang tua beserta anaknya diundang ke balai desa.
Tak hanya untuk melakukan pemeriksaan rutin. Juga untuk dilakukan pemberian makanan tambahan untuk anak.
“Kader posyandu juga akan langsung memberikan pemaparan tentang penanganan kasus stunting,” ucapnya.
Toha mengatakan bahwa banyak sekali faktor yang menyebabkan anak mengalami stunting. Mulai dari kandungan gizi makanan, pola asuh, dan faktor genetika.
Kesalahan dalam pola asuh ini tidak hanya terjadi pada kalangan ekonomi rendah saja.
Keluarga dari ekonomi mapan juga bisa mengalaminya. Ini lantaran tidak ada kaitan dengan faktor ekonomi.
Murni kesalahan dalam mengasuh sang buah hati. “Kalau faktor genetika ini tergantung dari kedua orang tuanya,” ungkap Toha.
Dengan adanya penyuluhan yang dilakukan setiap bulan, warga jadi lebih waspada.
Orang tua anak tidak hanya tahu tentang cara memberikan olahan makanan dengan gizi seimbang. Namum juga cara merawat anak dengan pola asuh yang benar.
Berikan Wadah Kaum Perempuan Dapat Pemasukan Tambahan
Urusan mencari pendapatan tidak hanya monopoli kaum adam. Perempuan juga bisa berdaya. Setidaknya itu yang diyakini oleh Guguh Pribadi.
Warga Desa Jarak itu mengembangkan usaha pembuatan tas. Banyak kaum perempuan yang dilibatkan dalam usaha tersebut.
“Setelah pulang dari sawah mereka bisa langsung mengerjakan (pembuatan tas, red),” terang Guguh.
Lokasi ibu-ibu berkumpul di rumah Guguh. Usaha ini merupakan kelanjutan pelatihan pembuatan tas yang dilakukan pada 2018 lalu.
Dalam latihan yang berlangsung selama dua hari, terdapat sekitar 30 orang yang mengikuti pelatihan.
“Pada awalnya kegiatan ini dibiayai oleh desa, karena sebagi salah satu kegiatan karang taruna,” ucapnya.
Dengan menjadi pekerja pembuat tas rajut, mereka bisa mendapat penghasilan. Setidaknya untuk uang jajan anak.
Selain tas, saat ini mereka sudah menghasilkan berbagai produk. Seperti dompet dan hantaran yang juga terbuat dari anyaman.
Harganya pun bervariasi. Mulai dari Rp 30 ribu untuk ukuran kecil. Rp 40 ribu untuk ukuran sedang.
Lalu, Rp 55 ribu untuk ukuran besar. Produk mereka diberi nama Nur Adanu Craft.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah