KEDIRI, JP Radar Kediri- Geliat industri rumahan di Desa Wanengpaten sangat terasa. Salah satunya bisnis pembuatan gantungan baju atau hanger. Usaha ini mampu menyerap tenaga kerja lokal.
Industri rumahan ini dikelola oleh Rowi. Dia mengolah besi bekas untuk dijadikan produk gantungan baju.
Dia mengaku sudah lama menggeluti bisnis tersebut. Usahanya tersebut dia geluti karena pernah bekerja di industri serupa sebelumnya.
Dari segi bahan baku, Rowi mengaku bila dia tidak terlalu sulit untuk mendapatkannya.
Pasalnya, dia bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan besar yang terletak di sepanjang Jalan Kediri-Kertosono.
“Biasanya saya pakai kawat yang dibuat mengikat kertas rokok. Saya jadikan bahan baku untuk usaha saya,” terang ayah dua anak tersebut.
Keberaniannya tersebut berbuah manis. Usaha Rowi tersebut mampu menghidupi keluarganya. Bahkan, dia turut mengurangi tingkat pengangguran di desanya.
Pasalnya, dia merekrut pekerja dari lingkungan tempat tinggalnya. Setidaknya ada enam orang yang bekerja dengannya.
Limbah besi tersebut berhasil disulap menjadi barang yang lebih berharga. Produksi gantungan baju miliknya mampu menembus pasar lokal.
Banyak pihak yang tertarik dengan produk buatannya tersebut. Bahkan, pemasarannya sudah sampai ke wilayah Lamongan.
Kepala Desa (Kades) Wanengpaten Nur Ihsan mendukung penuh adanya kegiatan produksi gantungan baju di desanya tersebut.
“Hanger itu simpel. Tapi itu alat rumah tangga. Jadi pasti laku dan membantu perekonomian sebagian warga saya,” tandasnya.
Tingkatkan Soft Skill Pemuda, Pemdes Gencarkan Pelatihan
Pemdes Wanengpaten sangat peduli akan perkembangan generasi mudanya. Oleh karena itu, berbagai pelatihan diberikan kepada kalangan muda. Itu dilakukan untuk meningkatkan soft skill dan kemampuan mereka.
“Berbagai jenis pelatihan diberikan kepada karang taruna,” kata Kepala Desa (Kades) Wanengpaten Nur Ihsan.
Banyak jenis pelatihan yang diberikan. Salah satunya pelatihan komputer. Pelatihan ini diberikan utamanya bagi mereka yang tidak mendapatkan pelajaran komputer di sekolah.
Harapannya mereka juga bisa belajar mengoperasikan program-program yang dibutuhkan di dunia kerja.
Sebagian besar menggunakan laptop pribadi. Namun ada pula yang tidak punya. Sehingga dipinjami oleh desa menggunakan komputer kantor. “Kami latih mengoperasikan word, excel, power point,” terangnya.
Karena banyak kegiatan positif, pemuda yang gemar membuat keonaran jadi berkurang. “Dulu anak muda sini senang tawuran tapi sekarang tidak lagi,” kata Nur Ihsan.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah