KEDIRI, JP Radar Kediri - Geliat ekonomi begitu terasa di Desa Kedungmalang. Banyak warga di sana yang memiliki usaha di rumah masing-masing.
Usaha tersebut telah dijalankan Anwar lebih dari sepuluh tahun terakhir. Pria asal Lampung ini mencoba peruntungannya.
Itu dilakukan setelah menikah dengan perempuan asli Desa Kedungmalang. “Usaha ini saya mulai tahun 2013 silam,” ujarnya.
Sebagai pendatang, dia tak ingin berpangku tangan. Hingga akhirnya Anwar memutuskan untuk memproduksi jelly lapis.
Mengingat, dia pernah memiliki pengalaman di bidang tersebut. Dulunya, dia sempat bekerja dengan teman yang memiliki usaha serupa.
“Saya lihat pesaingnya di Kediri belum banyak. Saya beranikan untuk produksi di sini,” kata Anwar.
Dia membuat jelly dengan potongan kecil-kecil tanpa rasa atau tawar. Jelly buatannya ini cocok untuk campuran agar-agar, minuman, sirup, dan es campur.
Anwar membutuhkan waktu sekitar satu tahun untuk melakukan percobaan. Baru setelah itu produknya layak jual. Dulunya dia tidak memiliki karyawan. Semua dikerjakan sendiri.
Namun, seiring waktu berjalan kini dia memiliki delapan karyawan. Semua pekerjanya merupakan warga setempat.
Umurnya antara 20-40 tahun. Mereka bertugas melakukan pembuatan hingga pengemasan.
Produk buatannya telah dipasarkan hingga luar kota. Mojokerto menjadi salah satu kota yang permintaannya tinggi.
Produknya laris manis di pasar tradisional hingga toko-toko. Bahkan, Anwar sudah memiliki cabang di Klaten, Jawa Tengah. Di sana mereka meladeni permintaan ke Jogjakarta dan Boyolali.
Kades Kedungmalang Edi Sumitro, Pagi di Kantor Desa Jadi Petani Sorenya
Edi Sumitro merupakan sosok kades yang low profile. Jabatan yang diemban tak lantas membuatnya besar kepala.
Itu justru sangat dihindarinya. Edi tetap ingin seperti warga biasa. Bahkan, dia tetap tak bisa meninggalkan hobinya sedari kecil.
Edi mengaku sangat gemar bercocok tanam. Dia lahir dan besar di keluarga petani.
“Pagi sampai siang kerja di kantor desa. Sorenya, ya, tetep tani. Ngurus tanaman,” ujarnya.
Ayah dua anak ini sudah akrab dengan dunia pertanian sejak lama. Banyak pelajaran hidup yang didapatnya dari sawah dan ladang.
“Bercocok tanam membutuhkan keuletan dan kesabaran. Begitu pula saat menghadapi masayarakat,” terang Edi pria yang bertani sejak 1999 silam.
Edi menjelaskan bahwa sawahnya berbagai jenis tanaman. Namun, kebanyakan sayuran yang ditanam adalah tomat, cabai dan lainnya.
“Kebetulan saya sudah lama bertani. Ketika ada kenalan dari perusahaan bibit tani, saya langsung arahkan ke warga yang memenuhi kriteria,” tuturnya.
Baginya, menjadi kades maupun petani sama-sama memiliki nilai positif. Tujuannya pun hampir sama. Yakni merawat.
Satunya merawat tanaman. Satu lagi merawat masyarakat. “Menjadi kades itu seperti sedang bercocok tanam,” tandas Edi.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah