Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Begini Derita PKL di Alun-Alun Kota Kediri di Lokasi Penampungan

Emilia Susanti • Rabu, 2 Oktober 2024 | 18:36 WIB

 

Photo
Photo

Kediri, JP Radar Kediri-Riyani duduk di bangku kayu. Di bawah atap tenda dari terpal warna abu-abu. Di lapaknya yang berada di tenda ukuran 2x3  meter. Di Jalan Kabupaten Lama, persis di timur proyek Alun-Alun Kota Kediri yang kini masih terhenti.

Di sebelahnya ada gerobak tempat wanita asal Kelurahan Singonegaran, Kecamatan Kota itu berjualan aneka makanan. Sementara, aneka kerupuk pasir dalam kemasan plastik bergantungan di tepi tenda lapak.

“Inginnya pemerintah tanggung jawab,” ucap wanita yang juga sekretaris Paguyuban PKL Alun-Alun Kota Kediri ini.

Wajar bila Riyani berkeluh-kesah seperti itu. Sebab, sejak berada di penampungan pendapatan mereka turun drastis. Jumlah pembeli jauh berkurang. Bahkan, nyaris tak ada pembeli. Sebagian pedagang bahkan memilih menutup lapak.

“Yang masih buka itu orang-orang yang nekat saja,” tandasnya.

Memang, bila menyusuri relokasi PKL Alun-Alun tersebut, banyak lapak yang tak lagi beroperasi. Gerobak-gerobak diselimuti dengan kain oleh pemiliknya. Kain penutup itu rata-rata berwarna ungu.

Menurut wanita berusia 52 tahun itu, menutup lapak adalah pilihan yang paling masuk akal. Pasalnya, para pedagang semakin terdesak dengan kebutuhan hidup. Sementara, hasil penjualan di tempat relokasi tidak bisa diharapkan.

“Modalnya habis. Kalau diteruskan utange malah jeru (hutangnya semakin banyak, Red),” ungkap Riyani, yang sudah menjadi pedagang di alun-alun sejak 1996 silam.

Sebenarnya, kendaraan masih berlalu lalang di depan lapak para pedagang. Hanya saja, jarang orang yang secara khusus mencari makanan ke tempat relokasi itu.

“Dulu (pendapatan) bisa sampai Rp 500 ribu lebih. Sekarang dapat Rp 300 ribu sulit, apalagi yang jualan nasi,” aku Riyani.

Saat alun-alun belum dibongkar, para PKL selalu untung lantaran banyaknya pengunjung. Entah dari rombongan ziarah, wisata, ataupun lainnya. Terlebih lagi, ada Masjid Agung yang sering menjadi tempat beristirahat sementara orang-orang dari luar kota.

“Mereka kan cari makannya pasti ke alun-alun,” kata Riyani.

Menurutnya, modal para pedagang memang sudah habis. Bila memaksa tetap membuka lapak, paling hanya bertahan dua sampai tiga hari saja. Setelah itu tutup lagi.

“Mereka ada yang jualan di rumah, ada yang cari pekerjaan. Intinya cari penghasilan. Saya juga pernah ninggal usaha saya, sebelum Lebaran. Jadi saya pergi ke Surabaya, jualan makanan juga. Itu selama empat bulan. Tetapi untuk kerupuknya tetap buka, yang jaga suami saya,” katanya.

Beda lagi dengan Sukarti. Wanita 65 ini mengaku tetap bertahan meskipun sepi pembeli. Dia kemudian membandingkan ketika alun-alun belum dibongkar dengan saat ini. Ketika itu, daging ayam tiga kilogram bisa habis untuk kebutuhan ayam geprek atau menu lain yang dia sediakan. Sedangkan saat ini, dua kilogram daging ayam saja belum tentu habis.

“Sabar,” ucapnya seakan tidak ada kata lain yang bisa diucapkan.

Baginya, dia dan suami tetap harus berjualan di tempat relokasi tersebut. Faktor usia, membuatnya tidak bisa mencari tempat lain. Untungnya, Sukarti tak memiliki tanggungan menghidupi anak-anaknya lagi.

“Sudah menikah semua. Anak empat, cucu sembilan. Duitnya (hasil jualan, Red) ya dibuat kebutuhan sehari-hari. Listrik, makan,” terangnya.

Baik Sukarti maupun Riyani, mereka punya harapan yang sama. Pembangunan Alun-alun Kota Kediri selesai. Mereka dan para pedagang lainnya ingin penjualannya kembali seperti dulu. Tidak seperti sekarang.

Saking sepinya di sini, jadi pedagang seringnya kumpul. Terus, pas ada orang yang beli, ya langsung lari ke lapaknya,” canda Riyani. 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #pedagang kediri #pkl #alun alun kediri #jawa pos